18 Mei 2019 11:00

Lebih Sederhana, Sekjen PDI-P Sebut Pilpres Sulit Dicurangi

MyPassion
Hasto Kristiyanto

MANADOPOSTONLINE.COM—PDI Perjuangan menyayangkan sikap calon presiden (capres) Prabowo Subianto yang menarik seluruh saksi dalam rekapitulasi di tingkat pusat.

 

PDI Perjuangan menilai, elit politik harus mengedepankan komitmen deklarasi pemilu damai yang sebelumnya pernah ditandatangani.

"Sikap menarik saksi tidak akan mengganggu legalitas hasil rekapitulasi. Sikap itu sangat disayangkan. Bertentangan dengan komitmen deklarasi pemilu damai. Sebab deklarasi pemilu damai yang ditandatangani seluruh paslon dan pimpinan parpol merupakan kontrak politik untuk menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan melaksanakan seluruh tahapan pemilu dengan aman, tertib, damai, berintegritas, tanpa hoax, politik SARA, dan politik uang," kata Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, Kamis, (16/5), sebagaimana dilansir di website resmi PDI Perjuangan.

Hasto menjelaskan lebih lanjut, PDI Perjuangan percaya pada capres Prabowo Subianto memiliki sikap kenegarawanan.

"Selama ini Ibu Megawati Soekarnoputri pun dalam berbagai kesempatan juga selalu menyampaikan hal-hal positif tentang Pak Prabowo. Jadi PDI Perjuangan meyakini dengan melihat dukungan para tokoh nasional, kesiapan TNI dan POLRI, serta kematangan rakyat Indonesia, maka  puncak rekapitulasi pada tanggal  22 Mei 2019 nanti, situasi politik akan aman dan terkendali. Mereka yang akan memaksakan jalan di luar hukum akan berhadapan dengan hukum negara dan rakyat Indonesia,” ujar Hasto.

Berkaitan dengan klaim sepihak serta narasi kecurangan yang dibangun oleh pihak-pihak yang kecewa, menurut Hasto, hal tersebut hanya sebagai dinamika politik yang terus dimainkan bagi yang kalah. Hal itu juga biasa terjadi dalam pilkada.

"Secara teknis dalam pemilu berlaku dalil dari Afrika, semakin kompleks pemilu, semakin mudah dimanipulasi. Pemilu presiden jauh lebih sederhana daripada pemilu legislatif. Dengan demikian, dalam praktik, maka kemungkinan manipulasi dalam pemilu presiden jauh lebih sulit daripada pemilu legislatif. Apalagi dengan jumlah pemilih yang hadir ke TPS mencapai lebih dari 155 juta," jelas Hasto.(gel)

Kirim Komentar