10 Mei 2019 09:28

Tertolong Suara Partai, Ditumbangkan Pendatang Baru

MyPassion

Lanjutnya, caleg petahana yang basis masa kuat dan condong sebagai pimpinan dewan dengan kemampuan menghimpun suara pada caleg dengan indikator ini tidak bisa diragukan lagi karena biasanya caleg petahana ini menjaga terus dengan membangun komunikasi politik yang intens dan tidak segan-segan untuk mengunjungi konsituenya sehingga loyalitas tetap terjaga,” kata Akademisi Unima ini.

Kemudian, sambung Tangkau, caleg dengan pendekatan politik transaksional yang berada juga pada indikator di atas. “Hal ini disebabkan kondisi secara teori dikatakan era digital saat ini konstituen cenderung menggunakan landasan resiprositas atau saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun dalam kategori ini caleg harus memiliki kemampuan finansial yang cukup baik,” bebernya.

“Kemudian caleg yang dipilih karena ketokohan yang bersangkutan atau bersatunya tokoh-tokoh masyarakat di dapilnya, untuk mengarahkan pilihan kepada satu atau dua kandidat.” ujarnya.

Kata Tangaku, poin terakhir termasuk caleg yang berada pada kategori termujur. Karena tidak terlalu banyak strategi dan materi. Sementara itu, untuk partai yang mengusung caleg terbanyak. Diakuinya, disebabkan karena strategi yang diterapkan jitu atau karena memiliki forecasting yang tepat dalam mengantisipasi model sistem pemilihan yang baru.

"Pertama, adanya pemilu yang bersamaan dengan pilpres dimana diuntungkan bagi partai pengusung capres yang disegani oleh mayoritas pemilih di sulut. Kemudian kedua, sistem penghitungan yang baru dengan model saint league yang lebih menguntungkan partai besar. Ketiga, strategi mengoptimalkan dengan menghimpun kepala daerah yang dijadikan ketua partai di Kabupaten/Kota untuk mendulang suara dan target capaian,” kuncinya.

Di sisi lain, pengamat politik lainnya Burhan Niode, dengan sistem pemilu seperti sekarang, setiap suara diperhitungkan one man one vote. Maka kata Niode, untuk memperoleh kursi di legislatif diperlukan caleg yang benar.

“Bukan hanya populer tetapi juga harus mampu memperoleh suara yang signifikan. Itupun caleg yang lain juga harus pula memiliki elektabilitas yang relatif sama dengan caleg yang lain dalam partai yang sama. Sehingga akumulasi suara dari caleg-caleg tersebut tercukupi untuk perolehan kursi,” tuturnya.

Lanjutnya lagi, semakin tinggi tingkat elektabilitas dari caleg-caleg yang ada dalam satu partai, maka akan semakin signifikan suara pemilih yang diperoleh. “Kelemahannya, tingkat elektabilitas calon tidaklah berimbang dalam satu partai. Walaupun ada caleg yang secara individu memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi, tidak menjamin untuk terpilih karena tidak didukung oleh suara caleg separtai,” terangnya.

Disebutkannya lagi, hitung-hitungan inilah yang seringkali menguntungkan bagi partai yang memiliki caleg-caleg merata tingkat elektabilitasnya. “Faktor ini pula yang dapat menguntungkan caleg-caleg tertentu. Walaupun suaranya kurang, tetapi karena didukung oleh suara caleg dan partai sehingga dapat memperoleh kursi,” tutup dia.(tim mp/gnr)

12
Kirim Komentar