09 Mei 2019 12:03

Ketika Proyeksi Ekonomi Digital Indonesia 100 Miliar Dolar AS 2025 Bukan Kemustahilan

MyPassion
Dubes Djauhari saat hadir di forum Digital China Summit Provinsi Fujian.

PEMERINTAH Provinsi Fujian kembali menyelenggarakan forum Digital China Summit pada 6-9 Mei 2019 di Fuzhou. 

The Second Digital China Summit kali ini melibatkan lebih dari 1.500 pejabat, perwakilan perusahaan serta berbagai akademisi baik dari Tiongkok maupun internasional.

Tidak hanya menyelenggarakan forum utama, sejumlah rangkaian kegiatan juga tercakup dalam Summit yang berlangsung selama empat hari tersebut, termasuk pameran digital, 16 sub-forum dengan berbagai tema, serta kompetisi inovasi di bidang teknologi digital.

Nuansa digital sudah nampak pada saat peserta dan pengunjung masuk ke area Summit di mana akses masuk dilakukan melalui proses identifikasi wajah (facial recognition). Pengunjung cukup berjalan melalui gerbang masuk dan komputer akan mengenali apabila pengunjung telah terdaftar kemudian gerbang terbuka secara otomatis.

Mulai gerbang masuk hingga ke dalam area Summit, Tiongkok menunjukkan betapa pesatnya pemanfaatan teknologi digital di tengah-tengah masyarakat Tiongkok saat ini. 

Digital China Summit tidak hanya semata soal digitalisasi dan informatisasi hal-hal di sekitar, namun juga bagaimana teknologi digital dapat menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat, memberi akses pada komunitas daerah tertinggal dan jauh dari jangkauan teknologi, serta membangun masyarakat digital.

Di samping pidato dari kementerian dan pemerintah daerah, sejumlah tokoh digital Tiongkok dari sektor swasta turut menyampaikan visinya dalam dunia digital di antaranya CEO Tencent, Ma Huateng (Pony Ma); CEO Baidu, Li Yanhong (Robin Li); serta Chairman NetDragon, Liu Dejian.

Duta Besar RI untuk RRT, Djauhari Oratmangun juga turut berbicara pada sub-forum Digital Maritime Silk Road bersama sejumlah perwakilan negara lainnya dari Serbia, Portugal, Australia, Ghana dan Nigeria.

"Dengan melakukan kerja sama dengan Tiongkok, Indonesia akan mampu memaksimalkan pertumbuhan ekonomi digital hingga 100 miliar dolar AS pada tahun 2025," ujar Dubes Djauhari. 

Indonesia sendiri saat ini memimpin ekonomi digital di Asia Tenggara dengan memiliki empat perusahaan unicorn (perusahaan dengan valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS yaitu Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka.

Dubes Djauhari menyampaikan, sejumlah rekomendasi agar kerja sama Digital Maritime Silk Road dapat membangun fondasi serta meninggalkan jejak sejarah bagi ekonomi digital di masa mendatang di antaranya dengan menghubungkan wilayah pedesaan dengan internet, meningkatkan kapasitas jaringan, membangun sistem navigasi berbasis satelit, mendorong kolaborasi antara e-commerce dan pelaku tradisional, serta berbagi pengetahuan dalam teknologi artificial intelligence, big data, serta riset tingkah laku konsumen ekonomi digital.

Dubes Djauhari menambahkan bahwa kunci bagi kerja sama ekonomi digital Indonesia dan Tiongkok adalah people-to-people contact.

Provinsi Fujian memiliki hubungan yang dekat dengan Indonesia, khususnya mengingat sejumlah masyarakat Indonesia dapat ditelusuri asal usulnya di kawasan ini. 

"Pendidikan juga penting bagi Indonesia untuk dapat memanfaatkan bonus demografi dalam menumbuhkan perekonomian bangsa di masa depan," katanya.

Dubes Djauhari mendorong setiap pelajar Indonesia di Tiongkok untuk belajar dari pengalaman Tiongkok dalam mengembangkan ekonomi digital.

Selain berbicara di forum, Dubes Djauhari juga mengunjungi kawasan pameran Digital China Summit serta kawasan kampus NetDragon. 

Di kawasan kampus NetDragon, Dubes Djauhari beserta delegasi dari Kemenkopolhukam RI dan KJRI Guangzhou menyaksikan secara langsung bagaimana digital mampu mentransformasi pendidikan konvensional saat ini.(*)

Kirim Komentar