02 Mei 2019 08:40

Ranking Pendidikan Sulut Turun

MyPassion
Ilustrasi

KUALITAS dunia pendidikan di Sulawesi Utara lagi menurun. Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2019, saat ini ranking pendidikan di Sulut tidak lagi masuk lima besar bahkan harus keluar dari 20 besar.

 

Ini merupakan hal miris dan menjadi tanggung jawab provinsi dan kabupaten/kota. Hal tersebut diungkapkan Wagub Sulut Steven Kandouw, saat membuka gebyar Hardiknas.

Akademisi Dr Valentino Lumowa menyebutkan, pendidikan kontemporer sedang berhadapan dengan tantangan pendangkalan. Hal ini dihantui oleh langgam remeh kehidupan.

“Keremehan yang dangkal nalar ini menurutnya mewujud dalam praktik post-truth yang memberi ruang dan nafas bagi kehidupan bagi dusta, omong kosong, hoaks, dan ujaran kebencian,” sebut Lumowa saat diwawancarai kemarin.

Lanjut Lumowa, dalam alam pendidikan formal, tantangan tersebut masih mengancam dalam bentuk praktik ijazah palsu, nilai dan kelulusan berbayar, hubungan impersonal dan eksploitatif antara pendidik dan subjek didik, serta administrasi berpungli dan gratifikasi.

“Lagipula, peran instrumental internet, terlebih media sosial, bermetamorfosis menjadi pengaruh substansial dengan merekonstruksi pola, pikir, rasa, dan tindak manusia dengan kecenderungan instanisme. Metode copy-paste, mencontek, dan plagiarisme menjadi pendekatan andalan, bukan hanya subjek didik tapi juga pendidik,” sorotnya.

Katanya litani tantangan ini tidak perlu dihadapi dengan putus asa apalagi ketidakacuhan. Justru, partisipasi yang serius dan mendalam adalah keniscayaan dalam era keremehan ini. Baginya masih banyak kebaikan yang mengejawantah dalam diri para praktisi dan pemerhati pendidikan yang idealis. Sehingga kehadiran mereka ini merupakan potensi dan modal untuk melakukan reformasi pendidikan.

“Henry Bergson, seorang filsuf Perancis, menegaskan bahwa cara manusia mengetahui meliputi lapisan luar yang dangkal dan lapisan inti yang mendalam. Dengan inspirasi ini, pendidikan. Sehingga seharusnya tidak berhenti di lapisan dangkal. Ia seharusnya gelisah sebelum menyentuh pengetahuan inti yang mendalam. Untuk mencapai kedalaman ini, pendidikan seharusnya dimengerti sebagai proses yang panjang bukan instan, yang mendalam bukan sempalan,” tandas Dr Lumowa, akademisi Universitas Katolik Del La Salle Manado.

Diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan dengan adanya Hardiknas, bisa mendorong daerah dengan pendidikan dan kebudayaan agar terpacu demi masa depan Indonesia.

“Salah satunya ialah mengevaluasi apa yang belum dikerjakan dan membuat proyeksi untuk kedepannya,” ujar Mendikbud, Muhadjir Effendy.

Lebih lanjut, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa selama ini pemerintah telah fokus untuk membangun infrastuktur di sektor pendidikan. Sarana dan prasarana misalnya.

Kini, untuk menyempurnakannya, pemerintah akan fokus ke pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). “Insfrastuktur dan SDM merupakan sarat untuk membawa Indonesia lebih maju lagi,” tutur Muhadjir Effendy.

Mengenai hal itu, Mendikbud menjelaskan ada sektor yang akan dibangun oleh pemerintah. Pembangunan karakter manusia dan keterampilan. Hal itu itu merupakan implementasi revolusi mental yang diusung pemerintahan saat ini.

“Dalam pembangunan SDM, kita perlu tingkatkan pembangunan karakter dan keterampilan. Ingat, karakter ialah pondasi dari manusia,” tutur Mendikbud.

Nantinya, lanjut Muhadjir Effendy untuk pembangunan karakter akan dimulai dari Pendidikan Usia Dini (PAUD) yang bakal diajarkan mengenai pengenalan pembiasaan. Lalu untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) akan menerapkan kebiasaan dan menguatkan kepribadian.

Selanjutnya untuk Sekolah Menengan Pertama (SMP) akan mengimplemntasikan bermacam hal terkait remaja. Dan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan dibekali untuk urusan kerja.

“Jadi, tak hanya SMK saja yang diberi bekal keterampilan, namun SMA juga akan diberikan pula hal yang sama,” imbuh Muhadjir Effendy.(cw-01/gnr)

Kirim Komentar