02 Mei 2019 08:50

Pusat-Daerah Kurang Kompak, Pariwisata di Sulut Terbentur Infrastruktur

MyPassion
Pantai paal. (Dok MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Siapa tidak pernah mendengar eksistensi Pantai Paal di Desa Marinsow, Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa. Pantai yang trending sejak tahun 2015 silam. Punya magnet tersendiri, bagi para pecinta pantai berpasir putih dan berombak.

Sayangnya, minimnya sarana penunjang membuat perkembangan salah satu objek wisata di Sulut ini, cenderung lambat perkembangannya. Ya, jika hendak mengunjungi lokasi ini, artinya kita harus menerima resiko terputus dengan dunia luar.

Meski begitu, pantai dengan total area kurang lebih 2 Hektare ini, nyatanya mampu menjadi sumber pendapatan bagi sekira 900 jiwa penduduk. Bagaimana tidak, pengelolaan pantai diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa. Retribusi masuk ke lokasi ini, diterima warga dan nantinya diteruskan guna pengembangan BumDes.

“Salah satu hasilnya kemarin, kita mampu membeli genset untuk mengalirkan listrik ke beberapa pondok penjual. Maklum, jangankan listrik, air bersih saja kita harus angkat manual pakai kendaraan. Untuk membasuh atau mandi para pengunjung selesai berekreasi atau berenang di Pantai. Jangankan pemerintah provinsi, Pemkab saja minim perhatian,” ungkap Kepala Lingkungan Desa Marinsow Novel Tatara.

Jika dalam kondisi ramai-ramainya, kunjungan di Pantai Paal bisa mencapai 2.000-3.500 orang perharinya. Artinya, ada perputaran uang yang tidak sedikit di sini. Disayangkan, sejumlah fasilitas pendukung masih menjadi kendala. Pantai Paal Marinsow ini bisa lebih dikenal publik. Jaringan telekomunikasi dan seluler, sepenuhnya mati total apapun providernya.

“Semoga PLN atau instansi terkait lainnya, bisa mengadakan pemasangan listrik. Sudah pernah disuarakan ke pemerintah. Tapi, sejak dibuka empat tahun lalu, realisasinya hanya sebatas penambahan sarana pendukung seperti, bak air, panggung pertunjukan itupun belum rampung semua, dan beberapa sarana lainnya. Tapi yang paling mendesak, sebenarnya air bersih dan listrik,” keluhnya.

Kenyataan ini justru bertentangan dengan arahan Kemenpar, yang mendorong seluruh pemerintah untuk memaksimalkan 3 A dalam memajukan pariwisatanya.

“Aksesibilitas, atraksi dan yang terakhir itu amenitas. Atau sarana dan prasarana pendukung. Nah, di poin yang terakhir itu sepertinya jangankan di Pantai Paal. Rata-rata objek wisata itu sama kondisinya. Padahal, kalau mau maju, sektor ini bisa dimaksimalkan dan income-nya sangat berdampak bagi peningkatan perekonomian daerah lho,” ujar Ekonom Joy Tulung.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Sulut Daniel Mewengkang menyatakan, perbedaan mindset dalam memajukan pariwisata jadi penghalang utama pihaknya memaksimalkan sektor ini.

“Kita konsepnya A, tapi pusat maunya B, itu susahnya. Sudah banyak masukan dan permohonan proposal yang kita lakukan tapi, belum direspon pusat. Harusnya semangat kebersamaan itu, datang dari atas dan menjalar hingga ke bawah-bawah kan,” tukasnya.  (jul)

Kirim Komentar