02 Mei 2019 08:20

Pakai Rompi Orange, Bupati Talaud Terancam Bui 4-20 Tahun

MyPassion
Bupati Talaud Sri Wahyumi Manalip langsung jadi tahanan KPK usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

MANADOPOSTONLINE.COM—Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip (SWM) langsung memakai rompi orange khas tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di dalam gedung KPK, wajah SWM tampak pucat dan lesu.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menjelaskan, Manalip melalui orang kepercayaannya, Benhur Lalenoh, diduga meminta fee 10 persen kepada para kontraktor yang ingin mendapat proyek di Pemkab Kepulauan Talaud. Dalam praktik ini, Benhur yang merupakan anggota tim sukses (timses) Manalip gerilya mencari rekanan yang bersedia memberikan fee 10 persen.

Benhur pun menawarkan proyek tersebut kepada seorang pengusaha, Bernard Hanafi Kalalo. Proyek yang ditawarkan adalah revitalisasi Pasar Lirung dan Pasar Bao. Kemudian, sebagai bagian dari komisi itu, Benhur meminta Bernard memberikan barang-barang mewah kepada Manalip.

Pertengahan April lalu, Benhur mengajak Bernard untuk bertemu dengan Manalip di Jakarta. “Kode fee dalam perkara ini adalah DP teknis,” ungkap Basaria, memaparkan sandi komunikasi yang digunakan Benhur dan Bernard terkait dengan dugaan transaksi suap tersebut.

KPK lantas mengamankan barang-barang mewah yang diduga dibeli Bernard bersama anaknya di Jakarta untuk Manalip. Di antaranya, handbag Chanel, tas Balenciaga, jam tangan Rolex, anting dan cincin berlian Adelle. Barang-barang mewah itu ditaksir bernilai ratusan juta rupiah. Selain barang mewah, KPK juga mengamankan uang tunai Rp 50 juta dalam OTT itu. Bila ditotal, barang mewah dan uang tunai itu senilai Rp 513,855 juta.

“KPK mengidentifikasi adanya komunikasi yang aktif antara bupati dengan BNL (Benhur) atau pihak lain terkait dengan proyek dan pemilihan merek tas dan ukuran jam yang diminta,” paparnya.

Basaria menyebut, awalnya Manalip hendak dibelikan tas Hermes. Namun, Manalip menolak karena sudah ada pejabat perempuan di Talaud yang memiliki tas merek itu. Selain Manalip, KPK juga menetapkan Benhur dan Bernard sebagai tersangka.

Manalip dan Benhur disangka sebagai penerima suap dan dijerat dengan pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara Bernard disangka dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau pasal 13 UU Pemberantasan Tipikor.

Merujuk pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU Nomor 20/2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukuman SWM berbunyi, “Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.”

Huruf a: Pegawai negeri atau penyelenggaran negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.

Sementara huruf b; pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.(Tim MP/gnr)

Kirim Komentar