01 Mei 2019 09:25
Langsung Berstatus Tersangka

Kado HUT Manalip Ditangkap KPK

MyPassion
Bupati Talaud SWM saat tiba di depan Gedung KPK Jakarta, Selasa (30/4) tadi malam. Foto lain, Komisioner KPK Basaria Panjaitan, bersama penyidik antirasuah menunjukkan barang bukti yang diamankan tim dari para tersangka.(Foggen/Manado Post)

MANADOPOSTONLINE.COM—Tak menunggu lama. Setiba di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Manalip, langsung ditetapkan tersangka.

Dari pantauan Manado Post, Manalip tiba di KPK di bilangan Kuningan, Jakarta, sekira pukul 20.16 WIB. Dikawal dua petugas KPK dan pihak kepolisian, bupati cantik ini digiring masuk. Manalip terlihat masih memakai pakaian batik dinas. Seperti saat diciduk KPK di kantor di Talaud, kemarin pagi. Ketika dimintai keterangan oleh awak media, dia membantah tuduhan yang dialamatkan padanya. “Saya bingung. Karena barang gak ada yang saya terima. Tiba-tiba saya dibawa ke sini,” singkat SWM, sapaan akrabnya.

Namun pengakuan Manalip berbeda dengan penjelasan KPK, dalam konferensi pers tadi malam. Di hadapan wartawan, Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengatakan, Manalip telah ditetapkan sebagai tersangka. Pasal yang disangkakan padanya sebagai penerima suap adalah pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Manalip diduga meminta sejumlah imbalan pada pihak swasta, Bernard Hanafi Kalalo (BHK). Terkait proyek revitalisasi pasar di Talaud. Komunikasi intens terjadi antara Manalip dengan BHK, melalui orang dekat Manalip Benhur Lalenah (BNL). "KPK mengidentifikasi ada komunikasi aktif antara bupati dengan BNL atau pihak lain," beber Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan, tadi malam, dalam konferensi pers di kantor KPK.

Komunikasi tersebut tentang proyek-proyek di Talaud. “Tim KPK mendapatkan informasi, ada permintaan fee 10 persen dari bupati. Melalui BNL. Juga disebutkan mengenai imbalan barang,” sebut Basaria.

Dari penjelasan Basaria, BNL dalam hal ini bertugas mencari pihak swasta untuk mengerjakan proyek di Talaud. Maka bertemulah BNK dengan BHK. "Sebagai bagian dari fee 10 persen, BNL meminta BHK memberikan barang-barang mewah kepada Bupati Talaud," ujar Basaria.

Di pertengahan April, BNL mengajak BHK berkenalan dengan Manalip. BHK juga sempat mengikuti agenda Manalip di Jakarta. Komunikasi intens terjadi. Hingga pembicaraan mengenai proyek pasar. Yakni Pasar Lirung dan Pasar Beo. Kode fee digunakan dalam perkara ini adalah 'DP teknis'.

Mengenai imbalan barang, ada komunikasi antara BNL dan BHK terkait pemilihan merek tas. “Ukuran jam juga. Sempat dibicarakan permintaan tas bermerk Hermes. Bupati tidak mau tas yang dibeli sama dengan tas milik seorang pejabat perempuan lain di sana (Sulut, red)," papar Basaria.

Namun BHK tak memenuhi permintaan tas Hermes bupati. BHK memberikan tas tangan Chanel senilai Rp 97.360.000, tas Balenciaga Rp 32.995.000, jam tangan Rolex Rp 224.500.000, anting berlian Adelle Rp 32.075.000, cincin berlian Adelle Rp 76.925.000, dan uang tunai Rp 50 juta.

Dibeberkan Basaria, barang-barang mewah ini dibeli BHK bersama anaknya, Minggu (28/4), di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. “Barang itu rencananya akan diberikan saat ulang tahun Manalip,” sebutnya. Sebelum barang-barang tersebut dibawa ke Talaud sebagai kado HUT, Senin (29/4) malam, tim KPK mengamankan BNL, BHK, dan sopir BNL di sebuah hotel di Jakarta. Mereka langsung dibawa ke kantor KPK. "Diamankan sejumlah barang yang diduga merupakan fee proyek. Tim kemudian mengamankan anak BHK pukul 04.00 WIB pagi di salah satu apartemen di Jakarta," kata Basaria.

Setelah itu, sejumlah tersangka di Jakarta pagi harinya diciduk. Tim juga turun ke Manado. Ketua Pokja bernama Ariston Asoseng ditahan sekitar pukul 08.55 WITA. Sedangkan pukul 11.35 WITA, KPK menangkap Manalip di kantornya di Talaud. "Melalui jalur udara, ASO (Ariston Asoseng) dan SWM (Sri Wahyumi Manalip) diterbangkan ke Jakarta oleh tim terpisah. Tim yang membawa SWM mendarat di Bandara Jakarta sekitar 18.30 WIB dan kemudian dibawa ke kantor KPK untuk proses lebih lanjut," kata Basaria.

Setelah diperiksa, KPK kemudian menetapkan Manalip, BNL, BHK sebagai tersangka suap pengadaan barang dan jasa terkait revitalisasi pasar. “Setelah melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan yaitu maksimal 24 jam pertama, dilanjutkan gelar perkara, KPK menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji oleh penyelenggara negara terkait penerimaan barang dan jasa di Kabupaten Kepulauan Talaud tahun anggaran 2019,” kata Basaria.

Dia membeber, Manalip ditetapkan sebagai tersangka bersama oknum tim sukses berinisial BNL sebagai penerima dan oknum kontraktor berinisial BHK sebagai pemberi. “KPK menetapkan tiga orang tersangka (SWM, BNL dan BHK) dengan peningkatan status penanganan perkara ke penyidikan,” ungkap Basaria.

Diketahui, Selasa (30/4) kemarin Sulut gempar dengan adanya kabar salah satu kepala daerah ditangkap KPK. Informasi dirangkum, penangkapan Manalip atas dugaan penyalahgunaan APBD Kabupaten Talaud. Manalip digiring ke Manado menggunakan pesawat Wings Air. Dengan nomor penerbangan IW 1163. Saat tiba di Manado bersama tim dari KPK, dari pantauan Manado Post, Manalip yang memakai topi itu, tampak pucat dan lesu. Dia terlihat masih menggunakan batik dinas. Sesampai di Bandara Sam Ratulangi Manado, tim KPK sudah membungkus dengan plastik transparan beberapa handphone, yang ditengarai milik SWM.

KPK ataupun SWM, tak mau berkomentar. Ketika difoto, SWM hanya memalingkan wajahnya. Menghindari kamera. Tangan kirinya berusaha menutup wajahnya. Pembicaraan antara KPK dan SWM serta tim yang ada di tempat tidak dilakukan secara terbuka. Hanya bisikan. Selain itu, penjagaan di Bandara Sam Ratulangi Manado juga diperketat.(tr-02/fgn/gel)

Kirim Komentar