27 Apr 2019 09:18

Sehari, Sulut Butuh 10 Ton Cabai Rawit

MyPassion
Cabai rawit jadi pendorong utama inflasi di Sulawesi Utara, bahkan dalam pemenuhannya harus didatangkan dari kota lain. (Dok MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Cabai rawit (rica, red) jadi kebutuhan pokok warga Sulawesi Utara. Ya, tanpa bumbu dapur satu ini, makanan warga Nyiur Melambai dirasa kurang afdol.

Karenanya, tak jarang rica jadi penyebab terjadinya inflasi di Sulut. Dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw, dalam seharinya dua pasar tradisional di Kota Manado menghabiskan sekira 10 ton rica.

“Biasanya dari Langowan dan yang paling banyak itu kiriman Gorontalo. Di drop ke dua pasar, Pinasungkulan dan Bersehati totalnya 10 ton,” ungkap Karouw.

Di bawah angka tersebut, kata Karouw, otomatis mendongkrak harga jual di pasaran. Karenanya, tak jarang pihaknya mensiasati keseimbangan harga dengan “mengimpor” rica dari Surabaya.

“Kalau tidak begitu, kenaikan harga bisa terus dan lama baru turun. Tinggal lihat selisihnya, kalau di pasar itu cuma 6 ton, artinya sisanya kita tambah dari Surabaya. Atau inisiatif dari distributor besar juga kadang yang menalangi,” papar dia.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat menyatakan, momok rica memang menjadi prioritas bagi pihaknya. Bekerja sama dengan TPID dan SKPD terkait, guna menekan besaran inflasi di saat permintaan lagi tinggi-tingginya. Jadi solusi bagi Bank Sentral menjaga kualitas keseimbangan harga rica.

“Kita bagikan bibit ke sejumlah poktan, ada juga upaya dari Dinas Pertanian Provinsi hingga kabupaten. Selain itu, kita punya kluster binaan juga. Gunanya apa? Biar kestabilan komoditas ini bisa terus terjaga. Hampir sama dengan tomat, yang memiliki  tipikal sama, tapi lebih dominan rica,” ujar Hutabarat.

Diketahui harga rica di sejumlah pasar tradisional di Manado dan sekitarnya menyentuh angka Rp.65ribu hingga Rp85ribu per kilogram. Bahkan di daerah kepulauan, melambung hingga Rp.100-110 ribu per kilonya. (jul)

Kirim Komentar