26 Apr 2019 08:38

Demi UNBK, Belasan Pelajar Seminggu Tidur Beralaskan Tikar di Ruang Ujian

MyPassion
Dengan penerangan seadanya, para siswa dan guru SMPN 3 Ranoyapo harus menginap dan tidur beralas tikar di ruang ujian selama seminggu UNBK berlangsung.

Cerita Belasan Pelajar Ikut UNBK///sub

///jdl

 

 

Dinginnya lantai sekolah ketika malam tiba, tak menyurutkan niat belasan siswa asal Minsel untuk menginap supaya bisa ikut UNBK jenjang SMP. Para pelajar asal Desa Beringin, Kecamatan Ranoyapo ini terpaksa harus pinjam tempat di sekolah lain yang jauh dari desa mereka.

Laporan: Rangga Mangowal, Minsel

HARI ini, masuk hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) jenjang sekolah menengah pertama (SMP).  Ada beberapa sekolah yang menggunakan metode pinjam tempat di sekolah lain untuk menggelar UNBK. Salah satunya dilakukan oleh SMP Negeri 3 Ranoyapo yang terletak di Desa Beringin, Kecamatan Ranoyapo tersebut.

Terkendala jaringan internet untuk melaksanakan UNBK, sebanyak 18 siswa kelas ujian harus rela nginap di ruang kelas SMPN 1 Motoling. Selama satu minggu, para siswa ini harus rela berpisah dengan keluarga di desa demi masa depan mereka.

Disampaikan Kepala Sekolah Nelce Lendo, mau tidak mau, sekolah harus pinjam tempat di SMPN 1 Motololing karena jaringan internet di Desa Beringin tidak memungkinkan untuk dilakukan UNBK.

"Untuk UNBK kami sudah lakukan secara mandiri, hanya saja terkendala di desa kami belum ada jaringan internet yang bagus sehingga untuk akses server ujian sangat sukar. Jadi kami pinjam tempat di SMPN 1 Motoling supaya bisa tergelar UNBK," ujarnya saat ditemui Manado Post usai ujian, Kamis (25/4) kemarin.

Para siswa harus rela terpisah dengan keluarga dan menginap di ruang kelas di mana mereka menggelar ujian. "Ada 18 siswa yang ikut UNBK, 9 laki-laki dan 9 perempuan. Mereka terpaksa harus nginap di sini selama ujian berlangsung. Karena jauh kalau harus bolak-balik desa, biayanya bakal mahal dan siswa akan kelelahan di jalan," ungkap Lendo.

Senada disampaikan Wakil Kepsek Merry Runtukahu. Dia mengatakan siswa terpaksa harus tidur beralaskan tikar di lantai ruangan kelas yang dingin.

“Selama seminggu ujian ini, bersama siswa, kami tidur beralaskan hanya tikar di ruang ujian ini. Sedangkan untuk mandi, kami minta izin ke rumah-rumah sekitar sekolah atau kalau ada guru-guru SMP 1 Motoling yang tinggal dekat sini. Walaupun begini siswa antusias mengikuti ujian dan tidak ada yang bolos,” sebutnya.

Salah satu siswa SMPN 3 Ranoyapo Rivaldo Manoppo mengatakan, dirinya sangat berkeinginan ketika lulus nanti bisa sekolah komputer dan jaringan. Dengan begitu dia berkerinduan bisa menjadi seorang pakar teknologi. Agar dia bisa membantu warga desa menikmati kelancaran jaringan internet.

“Tentu mau kalau jaringan internet bisa lancar di kampung. Nanti setelah lulus, mau lanjut sekolah komputer supaya bisa pintar teknologi dan bisa bantu bawa lancarkan jaringan internet di kampung," ungkapnya polos.(rgm/gnr)

Kirim Komentar