22 Apr 2019 08:45
Belanda dan Afrika Jadi Target

Tepung Sulut Diminati Tiongkok

MyPassion
Ilustrasi. (Claudia Rondonuwu/MP)

MANADOPOSTONLINE.COM—Permintaan produk ekspor asli Sulawesi Utara (Sulut) selang beberapa tahun terakhir didominasi, hasil olahan kelapa dan turunannya. Wajar, dari sisi bahan bakunya, Sulut punya 2107 hektare luas area perkebunan kelapa.

Serta mampu menghasilkan 225 ribu ton aneka produk tiap tahunnya. Satu yang menjadi kontributor, adalah tepung kelapa. Dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag)Provinsi Sulawesi Utara Jenny Karouw permintaan produk tepung kelapa ke pasar internasional cukup baik di awal tahun ini.

“Dalam beberapa tahun terakhir China jadi pasar potensial untuk produk tepung kelapa kita, hampir tiap bulan puluhan ton kita kirim ke sana (China, red),” ungkap Karouw.

Jika dikalkulasikan tiap bulannya, sumbangsih tepung kelapa Sulut. Mampu menghasilkan devisa setara setengah miliar rupiah.

“Untuk bulan ini saja kita barusan kirim 26 ton, total devisa yang berhasil kita terima kurang lebih Rp 500 juta. Artinya, jika dalam empat bulan konsisten kita mengirim produk ini, ada Rp M yang berhasil masuk ke pendapatan negara,” bebernya.

Tak hanya Negeri Tiongkok, pihaknya pun kini siap menyasar pasar baru di Benua Eropa dan Afrika. Sembari terus meningkatkan hasil akhir olahan kelapa tersebut. Menjadikan bahan baku ke bahan setengah jadi, diyakini mampu meningkatkan pundi-pundi penerimaan negara. Serta meningkatkan daya saing eksportir Sulut.

“Kita sudah punya channel baru untuk market kelapa ini. Di Belanda dan Afrika, mudah-mudahan sebelum semester II tahun ini. Produk kita sudah masuk ke sana. Petani juga terus kita bekali, guna meningkatkan mutu dan kualitas akhir produknya. Toh, kalau meningkat barangnya, otomatis lebih mahal juga kan dibeli customer kita,” tukasnya.

Senada,  Ekonom Dedy Tooy mengatakan, makin terbukanya pasar global saat ini. Menuntut produsen untuk meningkatkan kualitas barang jualannya. Meski harus menambah kocek produksi. Tapi, bisa berbanding lurus dengan permintaan pasar yang optimal.

 "Prinsip perdagangan global, pembeli jangan sampai kurang puas dengan produk kita. Bisa cari pasar lain berarti, begitupun dengan komitmen penyediaan dan ketepatan pengiriman," katanya.

“Selain berkualitas itu wajib, profesionalisme dalam berbisnis itu dua hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi,” sebut Koordinator Klaster Industri Kelapa Sulut ini.

Sementara itu, jika menilik catatan BPS Sulut sepanjang tiga bulan awal. Ekspor Sulut didominasi oleh golongan barang minyak dan lemak nabati. Dengan total penerimaan khusus komoditas non-migas sebesar US$ 68,80 juta sementara impornya senilai US$ 11,36 juta. (jul)

Kirim Komentar