20 Apr 2019 08:39
OLEH: Tim Departemen Ajaran Sinode GMIM

Pilih yang Benar dengan Iman

MyPassion

HARGA diri sering dipertaruhkan manusia demi mengangkat derajat diri sendiri, sekalipun harta benda, kedudukan, jabatan, pendidikan dan kehidupan keluarga dikorbankan bahkan dipertaruhkan. Nilai dari sebuah “harga diri” seseorang tidak lagi diukur dari norma-norma etis baik dalam struktur sosial maupun dalam tingkat kesadaran jiwa yang mau “merendahkan diri”. Sebab harga diri lebih mementingkan pada sifat dan sikap “ego” atau sebuah emosi manusia yang selalu menganggap diri benar dan harus dihargai, didengar bahkan harus mengikuti kehendaknya.

Dewasa ini nilai dari sebuah harga diri semakin memprihatinkan dan tendens dipolitisasi demi sebuah kepuasan kelompok, golongan, apalagi diperhadapkan pada sebuah “pilihan”.

Harga diri juga memiliki kekuatan positif bila pikiran dan hati serta tindakan kita pada sesuatu yang objektif, ketika menempatkan pilihan pada kedudukan yang benar, maka pasti akan menghasilkan hal yang positif dalam hidup. Pilihan subjektifitas dari sebuah nilai lebih mendominasi bahkan menjinakkan manusia pada pilihan-pilihan tertentu.

Apalagi ketika kita sedang berada pada pilihan politik maka subjektifitas kita mengalami nilai tinggi, dan jangan heran harga diri “terbeli” oleh sebuah permainan yang secara sistimatis dan pragmatis mempengaruhi ruang hidup kita termasuk “kebenaran” dalam keyakinan iman kita tercoreng oleh sebuah “money-politik” atau “sembako sesaat” yang dapat menyesatkan harga diri kita sehingga kebenaran dalam iman terabaikan.

Akhirnya pilihan dalam nilai hidup mengalami dilematis apalagi menyentuh pada kebutuhan-kebutuhan spiritual dimana kebenaran “terdomestikasi” (terjinakkan) oleh kekuatan sekuler yang memasung kebenaran iman. Pilihan yang subjektif di sisi lain menghadirkan sikap apatis bahkan masa bodoh dengan tanggung jawab iman terhadap pilihan yang harus kita ambil.

Pilihan terhadap Barabas yang dikenal sebagai “penyamun” jauh lebih populer dengan kebenaran dalam Yesus yang sedang diperhadapkan pada sebuah “pilihan” rakyat dan penguasa (Pilatus) dimana akhirnya Kebenaran terjual oleh sebuah harga diri.

Hal ini yang  disaksikan dalam kitab Yohanes 18:38b-19:16a. Sehingga alasan pemilihan tema pembahasan kita adalah: “Pilih yang Benar dengan Iman” agar gereja dapat berpartisipasi dalam berbagai pilihan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi.

Injil Yohanes, adalah injil yang lebih menekankan tentang keilahian Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Bahkan secara manusiawi disaksikan dalam kitab ini yang menurut tradisi Kitab Yohanes ditulis sekitar tahun 90-95 Masehi oleh Yohanes anak Zebedeus, salah satu murid Yesus.

Dalam teks perikop pasal 18:38b-19:16a, Yohanes memper-lihatkan sebuah fakta perdebatan dari pilihan antara membe-baskan Yesus atau disalibkan.

Dan keputusan ada di tangan Pontius Pilatus. Ayat 38 Pilatus mulai dengan pertanyaan tentang “kebenaran” itu, karena Pilatus tidak menemui kesalahan dalam diri Yesus, tapi jawaban Yesus  tentang kebenaran adalah bukan diukur secara hukum formal dan hukum agama (Taurat dan adat istiadat Yahudi).

Tetapi kebenaran berbicara tentang kerajaan Allah (lih ayat 11) yaitu kuasa Allah. Kebenaran (Yun aletheia) tidak tersembunyi “tidak terbatas” dia bersifat kekal. Ibrani “Emeth” keteguhan yang memiliki substansi “kekal” atau lestari.

Memang Pilatus yang diberi kekuasaan untuk mengadili Yesus karena sebagai Gubernur pada waktu itu, yang semula Herodes dan Pilatus tidak bersahabat band. Lukas 23:8-12, namun dengan peristiwa mengadili Yesus mereka berdua akur kembali.

Teriakan demonstrasi masa salibkan Dia, salibkan Dia, bahkan meminta membebaskan Barabas seorang penjahat sepertinya jauh lebih berharga daripada tuntutan orang-orang Yahudi pada Yesus yang tidak terbukti melanggar hukum formal.

Berulang kali Pilatus dalam pemeriksaan tidak menemukan kesalahan hukum pada diri Yesus (ayat 38b; 19:4). Sesuai tradisi peristiwa pengadilan Yesus terjadi pada tanggal 14 Nisan (Tahun Gregorian antara Maret-April) yaitu hari Raya Roti tidak beragi dalam Paskah Yahudi, maka kebiasaan pemerintahan Romawi melalui Gubernur Yudea selalu membebaskan orang tahanan. Dan Barabas yang diminta orang banyak untuk dibebaskan (18:40).

Kekuatan masa di bawah pimpinan para imam-imam kepala memainkan peranan penting menunjukan politik identitas di hadapan Pilatus. Dalil-dalil agama di dalam melegitimasi gagasan kehendak kelompok menggunakan issu agama dan instrumennya untuk mengalahkan hukum positif Romawi, hal itu terbukti ketika Barabas yang melanggar hukum formal dibebaskan oleh ke-kuatan hukum agama yang menuduh Yesus melakukan “penistaan agama” (ayat 7) karena terbukti menyebut diri sebagai “Anak Allah”.

Sekalipun ada upaya Pilatus untuk membebaskan Yesus dari sudut pandang Hukum positif Romawi (ayat 12) tetapi Pilatus ingin memainkan politik “dua kaki” Yaitu : Pertama, membakar emosi massa dengan “menyesah” dan “menampar” Yesus saat dimahkotai duri dengan baju Ungu bagaikan Raja orang Yahudi (ayat 2,3) agar Kaisar mendapat dukungan (lihat ayat 15) dan kedua, Pilatus dengan kekuasaanya akan didukung oleh orang banyak.

Itu sebabnya dalam dialog Pilatus dan Yesus tidak menyentuh substansi dari persoalan yang dituduhkannya. Justru tentang asal usul yang tidak ada kaitannya, apalagi Pilatus ingin menunjukan kewibawaan dihadapan Yesus dengan istilah “kuasa” atau jabatan, kedudukan yang menurut Pilatus dapat menyelesaikan persoalan (ayat 10) tetapi jawaban Yesus pada Pilatus tentang “kuasa” justru sangat berbeda.

Yesus ingin menunjukan bahwa kuasa Pilatus tidak diperhitungkan dalam penggenapan Mesias, “tetapi siapa yang menyerahkan Aku kepadamu lebih besar dosanya” (ayat 11) mereka adalah imam besar, imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi, disanalah penggenapan mesianis itu, bahwa Kerajaan Allah akan dimulai dengan penolakan oleh bangsa Yahudi itu sendiri.

Jawaban terakhir dari pertanyaan Pilatus yang menghina itu (ayat 15) “haruskah aku menyalibkan rajamu?”, dijawab oleh orang-orang Yahudi raja mereka adalah Kaisar : yang menurut tradisi Yahudi pengakuan terhadap orang asing adalah hal yang najis atau bentuk murtad.

Yohanes ingin memperlihatkan kematian Yesus memiliki hubungan penting dengan perayaan Paskah Yahudi, artinya Yesus dihukum oleh hukum Taurat, tetapi dengan hukum Taurat Yesus menggenapi-Nya dengan Paskah yang sesungguhNya. Maka di atas kursi “Gabata” (Litostrotos, atau kursi batu) Yesus diserahkan kepada orang untuk disalibkan (ayat 16).

Kebenaran diri dan kebenaran iman adalah dua aspek yang sangat berbeda dalam diri seseorang apalagi bila hal itu diperhadapkan pada suatu pilihan, dimana kebenaran diri lebih pada sikap ego manusia yang ingin menonjolkan kekuatan bahkan kekuasaan seseorang. Sementara kebe-naran iman menunjukan sikap seseorang yang lebih mem-prioritaskan keyakinannya kepada Tuhan yang mengatur segala sesuatu menjadi baik.

Harga diri atau sikap membenarkan diri cenderung dalam sebuah pilihan selalu memaksakan kehendaknya dari pada kebenaran Tuhan. Akibatnya subjektifitas dalam menghadir-kan kebenaran tercemar dalam ruang-ruang sosial ekonomi bahkan politik.

Pada tahap ini manusia tidak lagi memper-hitungkan apakah pemimpin seorang penjahat (seperti yang ditampilkan dalam pembebasan antara Yesus dan Barabas) atau memiliki masa kelam dalam masyarakat, bahkan yang tidak memiliki skill kepemimpinan tapi karena ada kepentingan yang lebih menonjolkan sebuah pilihan pada kebenaran diri, maka sering kita temui dalam sistim politik dimana menentukan pemimpin pada akhirnya pilihan yang kita tentukan mengalami distorsi (kerusakan).

Di lain pihak ketika kita diperhadapkan pada struktur masyarakat yang membutuhkan pilihan kita terjebak dengan sikap apatis dengan pilihan, sikap cuci tangan dan mengabaikan potensi talenta dan karunia yang diberikan Tuhan akhirnya sering gagal kita manfaatkan.

Kecenderungan sikap diam dalam mengambil pilihan dalam berbagai aspek hidup adalah bentuk kejahatan terselubung yang ditentang oleh iman Kristiani. Gereja dipanggil Tuhan untuk menjadi garam dan terang (band Matius 5:13-16). Bahkan mengambil bagian dalam penentuan pilihan yang didasari oleh kebenaran iman. Inilah tanggung jawab gereja dalam menyelamatkan karya Allah dalam bumi ciptaan.

Memperjuangkan kebenaran itu berarti setiap pilihan kita didasari oleh iman. Dengan demikian siapapun yang telah kita pilih, kita telah melewati persiapan dalam pergumulan iman, bahwa “kita jangan membuang kebenaran demi harga diri kita” bahwa kebenaran di dalam Yesus adalah hidup dan bukan terletak pada kekuatan atau kuasa sekuler, kelompok dan golongan atau sesuku, sekampung, keluarga bahkan se-partai.

Ayat 11 Yesus memberi perbedaan kuasa Pilatus dan kuasa dari Tuhan. Itu sebabnya gereja memiliki kuasa Yesus yang dapat berpartisipasi dalam pilihan tetapi juga menentukan arah tatanan hidup kita melalui aspek ekonomi sosial bahkan politik. Kekuatan politik tidak terletak pada kekuasaan pimpinan struktur partai, tetapi kekuatan sebuah partai terletak pada kekuasaan menghadirkan orang orang benar, baik dan bertanggung jawab mengelola bumi ciptaan-Nya menjadi lebih baik.(*)

Kirim Komentar