19 Apr 2019 08:55

Neraca Perdagangan Sulut Surplus US$ 58,44 Juta

MyPassion
Pelabuhan Peti Kemas Bitung jadi sarana pengiriman komoditas ekspor Sulut ke pasar internasional. (Dok inet)

MANADO—Mengikuti tren nasional, kondisi neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Utara, sepanjang tiga bulan pertama di Tahun 2019 mengalami surplus sebesar US$58,44 juta.

Meski begitu, capaian tersebut nyatanya menurun secara bulanan maupun secara tahunan. Dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi Marthedy Tenggehi penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan nilai ekspor. Sementara nilai impor justru mengalami kenaikan.

“Neraca perdagangan Sulut terkoreksi 18,15% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$69,05 juta. Secara tahunan, nilai tersebut juga terkoreksi 23,47%. Total nilai ekspor di bulan Maret tercatat sebesar US$69,8 juta, menurun 1,95% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$71,19 juta,” ungkap Tenggehi.

Lanjutnya, ekspor Sulut masih didominasi oleh golongan barang minyak dan lemak nabati. Sementara, komoditas impor terbesar adalah Bahan Bakar Mineral dengan kontribusi nilai US$ 7,95juta atau 69,93% dari total impor.

“Produk yang menjadi komoditas ekspor unggulan adalah produk olahan kelapa, seperti virgin coconut oil (VCO), kopra, dan minyak kelapa. Negara tujuannya dengan porsi paling besar adalah Amerika Serikat sebesar US$14,76 juta atau 21,46% total ekspor. Dari total ekspor tersebut, 34,72% di antaranya diekspor langsung melalui Pelabuhan Bitung. Kendati demikian, nilai tersebut menurun hampir separuhnya dari posisi Februari yang tercatat sebesar US$42,41 juta,” urainya.

Sementara itu, meningkatnya impor di Sulut, dikatakan Ekonom Joy Tulung mengindikasikan, dampak dibangunnya sejumlah infrastruktur mulai mendapat atensi dari pelaku usaha. Baik nasional maupun internasional.

“Artinya banyak barang modal, yang digunakan untuk proses mendukung proses produksi dari satu perusahaan. Kondisi ini bagus, tapi harus diperhatikan juga jangan-jangan yang diimpor itu sudah sekalian sama produk yang diekspor. Karena kualitas dan mutunya tidak sesuai permintaan pasar global, bisa saja kan seperti itu,” papar Akademisi Unsrat ini.

Senada, Kepala BI Sulut Arbonas Hutabarat melalui Kepala Tim Advisory dan Keuangan Gunawan menambahkan, pentingnya meningkatkan kualitas komoditas ekspor Sulut. Pun dengan menggarap dan memaksimalkan varian produknya. Sehingga pasar internasional makin antusias menanggapi produk Nyiur Melambai nantinya.

“Yang kuat itu biasanya kan produk kelapa dan turunannya, ini perlu dimaksimalkan lagi. Kalau bisa diolah menjadi bahan baku, tidak lagi bahan setengah jadi. Dari sisi nominalnya, pasti lebih mahal lagi kan dibeli konsumen internasional. Serta mencari destinasi pasar baru, seperti minyak kelapa kita yang nantinya akan menyasar pasar Afrika. Itu bagus dan perlu didukung,” kata dia. (jul)

Kirim Komentar