19 Apr 2019 09:11
Renungan Jumat Agung: Lukas 23:44-49

Kematian Yesus Sumber Kehidupan Baru

MyPassion
Evert Tangel

SAUDARA-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hari ini kita sedang merayakan hari Jumat Agung setelah menghayati perayaan minggu-minggu sengsara. Hari Jumat Agung adalah hari peringatan Penyaliban dan Kematian Yesus di bukit Golgota sebagai sumber “Hidup Baru”, sebab dosa kita telah ditebus dan kita telah diperdamaikan dengan Allah. Selain itu, merayakan Jumat Agung adalah kesempatan besar bagi kita untuk mengucap syukur atas kasih setia Allah bagi kita. Oleh karena itu, mewujud-nyatakan sukacita dan syukur ini, maka sejak perayaan Minggu-minggu sengsara sampai perayaan Paskah, seluruh warga gereja telah mengekspresikannya dengan berbagai kegiatan suka-cita, melalui berbagai lomba antar kolom, termasuk membuat hiasan taman Paskah, dan puncak kegiatannya yaitu, Ibadah Agung dan perayaan Perjamuan Kudus.

Tentu kita pahami bahwa pengorbanan Tuhan Yesus di Kayu Salib bukan hanya sebatas perayaan belaka, tetapi ada yang harus kita amati dari peristiwa itu untuk kehidupan kita, terutama berhubungan dengan pertumbuhan iman yang harus diekspresikan dalam persekutuan bersama umat Tuhan, dalam kesaksian dan pelayanan kita di tengah dan kepada dunia ini. Artinya peristiwa kematian Tuhan Yesus harus dimaknai dalam kehidupan kita sebagai manusia baru.

Bacaan hari ini Lukas 23 : 44 – 49 menceriterakan bagaimana Yesus disalibkan dan mati di atas bukit Golgota yang waktu itu disebutkan kira-kira jam dua belas terjadi kegelapan meliputi daerah itu sampai jam tiga karena matahari tidak bersinar (ayat 44-45). Terjadinya kegelapan besar ketika Yesus mati, adalah sebuah fenomena alam yang luar biasa, yang juga menyatakan bahwa peristiwa penyaliban itu berdampak pada kondisi alam, sebab suasana menjadi gelap sementara itu matahari sedang bersinar dengan sangat terik dan dalam hal ini seakan-akan matahari sendiri tidak sanggup melihat perbuatan manusia yang ditimpakan kepada Yesus yang tidak bersalah (22:23). Peristiwa kematian Yesus juga ditandai dengan terbelahnya  “tabir Bait Suci” artinya tersingkaplah kasih Allah yang tersembunyi dibalik kerahasiaan tradisi Yahudi dan terbukalah jalan untuk menghampiri Allah. Sebab Tabir yang memisahkan Tempat Kudus dengan tempat Mahakudus yang sebelumnya hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar kini melalui kematian Yesus, tabir itu disingkirkan dan jalan menuju Tempat Mahakudus kini terbuka bagi semua orang yang akan datang kepada Allah.

Selanjutnya dalam kepedihan yang sangat diambang kematian-Nya, Yesus berseru dengan nyaring  “Ya Bapa kedalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (ayat 46). Pernyataan Yesus ini menunjukkan bahwa Bapa-Nya adalah pemegang otoritas atas seluruh kehidupan-Nya dan hal ini juga menunjukkan bahwa Ia telah mengakhiri tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya. Dengan kata lain Ia menyerahan diri-Nya secara total kepada Bapa-Nya. Ia sadar bahwa akhir hidup-Nya sudah tiba dan kuasa Allah Bapa akan dinyatakan. Yesus tidak meminta kepada Bapa Ia dibebaskan atau diturunkan dari salib, tapi Yesus sangat pasrah pada apa yang sedang terjadi dan yang sementara Ia alami. Peristiwa kematian-Nya memang sudah diberitahukan sebelumnya, artinya Ia telah mengetahui semuanya bahwa Ia akan mati dan bangkit pada hari ketiga (9:22).

Dalam peristiwa penyaliban ini juga telah melahirkan pertobatan sebagai sebuah bentuk kehidupan baru yaitu sebuah pengakuan dari seorang“ kepala pasukan” yang pada awal pelayanan Yesus mereka tidak suka dengan pelayanan dan kehadiran Yesus, namun berbalik untuk mengaku bahwa “Yesus adalah orang  benar” (ayat 47). Pengakuan dari kepala pasukan ini muncul dengan tiba-tiba karena ia melihat langsung apa yang terjadi saat kematian Yesus. Berarti hatinya tergugah oleh belas kasihan yang kemudian melahirkan sebuah pengakuan yang sangat tulus dari seseorang yang belum pernah beriman kepada Allah, karena itu adalah kepala pasukkan Romawi yang dalam kesehariannya penuh dengan tindakan kekerasan dan penganiayaan. Sementara itu, orang banyak yang datang berkerumun untuk menonton penyaliban Yesus dikayu salib, yang awalnya menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan, kemudian mereka pulang dengan sangat menyesal sambil memukul-mukul diri. (Ayat 48). Artinya ada penyesalan yang sangat dalam atas peristiwa penyaliban itu, walaupun kita tidak tahu apa tindak lanjut dari reaksi penyesalan orang banyak itu, tetapi kita dapat katakan bahwa penyesalan selalu berpeluang untuk menghentar seseorang untuk bertobat dan bertobat selalu menunjukkan iklim kehidupan baru atau hidup baru.

Dalam peristiwa ini juga dikatakan bahwa semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu. Ini dapat mengartikan dua hal, yang pertama nyata benar bahwa mereka takut mendekat karena takut dilibatkan dalam penghukuman Yesus, seperti juga yang pernah dilakukan oleh Petrus ketika ia menyangkali Yesus (Matus 26:69-70), kedua, mereka menjadi saksi atas semua peristiwa, mulai dari awal penyaliban, pertobatan kepala pasukan dan penyesalan orang banyak, yang olehnya itu mereka dikuatkan dalam keadaan mereka yang sungguh amat mencekam.

Dari pembacaan Alkitab dan perenungan Firman hari ini, kita belajar tentang kepatuhan, kepasrahan dan kesetiaan Yesus kepada Bapa-Nya. Dari sini juga kita dapat menyaksikan betapa siksanya menanggung beban hidup akibat dosa, dan dari peristiwa penyaliban Yesus kita dapat menyaksikan beratnya dosa yang kita lakukan namun semua ditanggungkan kepada Yesus dan Yesus rela mengorbankan diri-Nya, sebuah kepasrahan diri yang  total  bagi Allah untuk keselamatan manusia, termasuk kita semua. Karena itu, sebagai Gereja  yang  adalah persekutuan orang percaya, kita perlu memberi makna bahwa kematian Yesus yang kita rayakan dalam Ibadah Jumat Agung ini merupakan refleksi dari ketaatan dan kesetiaan kita sebagai orang percaya bahwa melalui kematian Yesus Kristus, kita harus memperjuangkan keadilan dan kebenaran, sebagai manifestasi dari kehidupan baru. Amin. (*)

Kirim Komentar