18 Apr 2019 16:31

Bupati Sitaro: Keluarga Harmonis, Stop KDRT

MyPassion
Evangelian Sasingen

MANADOPOSTONLINE.COM---Kabupaten Kepulauan Sitaro, menggaungkan gerakan Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baru-baru ini, yang dipusatkan di Aula Kadademahe, Kecamatan Siau Barat. Pencanangan tersebut dilakukan langsung oleh Deputi Menteri Bidang Perlindungan Hak Perempuan Vennetia R Danes.

 

Bupati Sitaro Evangelian Sasingen, dalam sambutanya, memberikan apresiasi pada DP3A Sitaro, yang telah menginisiasi berjalannya kegiatan strategis ini.

"Tentu suatu kehormatan bagi kami, menerima kunjungan Deputi Menteri. Membawa misi kemanusiaan, dimana sebagai kaum perempuan, saya secara pribadi sangat mendukung penuh gerakan Stop KDRT ini. Sebab kasus KDRT bisa menimpa rumah tangga siapa saja, termasuk kita," ungkapnya.

"Di sisi lain masyarakat masih menganggap bahwa KDRT merupakan urusan pribadi rumah tangga yang bersangkutan, sehingga tidak perlu dilaporkan kepada pihak berwajib,  karena alasan malu, tabu atau alasan lainnya, sehingga memang diperlukan sosialisasi dan aksi nyata dalam merubah pola pikir masyarakat," sambungnya lagi.

Sementara itu Deputi Menteri Bidang Perlindungan Hak Perempuan Prof. Vennetia R Danes mengatakan, gerakan ini dilakukan mengingat kasus KDRT memiliki modus dan karakteristik yang semakin beragam dan mengkhawatirkan. "Karena hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada Tahun 2016 menunjukkan bahwa satu dari setiap tiga perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual," bebernya

"Satu dari setiap empat perempuan yang pernah/sedang menikah mengalami kekerasan berbasis ekonomi, dan satu dari lima perempuan yang pernah/sedang menikah mengalami kekerasan psikis. Tentu angka-angka tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan kita, KDRT jadi masalah yang serius dan mendesak untuk dicarikan solusinya," terangnya.

"Kalau dulu kasus KDRT dianggap mitos dan persoalan pribadi, kini menjadi urusan publik yang nyata, dan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT)," ucapnya

Sementara itu Kepala DP3A Sitaro James Marthin menambahkan, KDRT memiliki empat jenis, yakni kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. "Jadi KDRT dalam konteks sederhana menyerupai lingkaran sebab akibat yang kompleks dan rumit. Seperti adanya kemungkinan anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mengalami KDRT cenderung akan meniru ketika mereka dewasa," ungkapnya.

Marthin mengatakan, komunitas muda-mudi sebagai calon ibu dan calon ayah dapat memutus mata rantai KDRT. " Karena keberadaan dan pelibatan mereka merupakan langkah strategis dalan penanganan KDRT. Sebab bagi yang sudah berumah tangga memerlukan waktu, pengorbanan, dan biaya yang tidak murah. Sehingga muda-mudi yang berada pada fase menjelang kehidupan berumah tangga harus diberikan pemahaman, pengetahuan, dan peran yang signifikan dalam penghapusan KDRT," sebut James

"Misalnya kesiapan dalam membangun rumah tangga, kedewasaan calon pengantin, kesiapan ekonomi, pengetahuan masing-masing pasangan, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, budaya, dan lain-lain. Mereka merupakan garda terdepan dalam menghapus atau mencegah KDRT. Sebab semakin cepat kaum muda-mudi mengenali potensi KDRT, semakin siap pula mereka menangkal dan menghindarinya," pungkasnya.(drp/jul)

Kirim Komentar