12 Apr 2019 13:25
Kadispar:Beda Kepentingan Hambat Kemajuan

Minim Fasilitas Penunjang Pariwisata

MyPassion
Museum Kota Manado jadi satu dari sejumlah lokasi perhentian bagi wisatawan asal Tiongkok.

MANADOPOSTONLINE.COM—Hingga bulan Februari jumlah wisatawan mancanegara (wisman, red) di Sulut telah mencapai 11 ribu kunjungan. Mendongkrak minat wisman, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, seluruh daerah wajib menerapkan konsep 3 A. Attraction atau pertunjukan, Amenities atau fasilitas dan yang tak kalah penting Accessibility atau kemudahan menjangkau satu objek wisata.

“Semua daerah wajib memiliki tiga komponen tersebut. Biar menambah rasa ketertarikan bagi wisman datang berplesir ke Indonesia. Pertunjukan dipadukan dengan ketersediaan fasilitas dan sangat mudah untuk diakses, jadi kunci menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata dunia,” ungkap Yahya.

Sayangnya, di poin amenities, Sulut dinilai belum maksimal. Bahkan, sejumlah fasilitas umum di pusat Kota Manado nyatanya masih kurang sedap dipandang mata.

“Misalnya, trotoar ada beberapa yang berlubang dan membahayakan wisman. Toilet umum banyak yang rusak, tempat sampah minim di tempat umum atau pusat keramaian. Dan masih banyak hal lainnya,” kritik Pengamat Pariwisata Sulut Prof Bet El Lagarense.

Hal ini diakui Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut Daniel Mewengkang. Kata dia, pentingnya satu kebijakan dan kesamaan persepsi dalam memajukan pariwisata di Indonesia. Dibeberkannya, upaya menyediakan fasilitas yang mumpuni, bukannya tanpa perjuangan.

“Dulu, ketika Dinas Pariwisata di kabupaten/kota membuat kebijakan, pasti diperhatikan dan direspon oleh pemerintah provinsi. Nah, sekarang, kita (provinsi,red) sepenuhnya berkoordinasi dengan kementerian, sudah ada sejumlah permintaan yang kita ajukan. Tapi memang belum direspon, artinya dalam internal kita saja ada kendala. Di sisi lain, terbatasnya anggaran guna meningkatkan kualitas fasilitas juga menjadi problem tersendiri,” ujar mantan konsulat ini.

Dirinya berharap, membangun pariwisata yang optimal. Tidak bisa tanpa dukungan semua pihak. Ada kesadaran dan kemauan untuk berubah, melayani dan memberikan kesan yang baik bagi tamu. Tak hanya dari luar negeri, tapi wisatawan domestik juga wajib.

“Coba lihat di Boulevard II, banyak pedagang yang berjualan di atas trotoar. Ini jelas-jelas melanggar aturan. Tapi sebenarnya tak perlu ditegur kan, masyarakat sudah tahu itu melanggar. Ini hanya soal pengertian dan hati, mau daerah kita maju atau tidak,” pungkas Mewengkang. (jul)

Kirim Komentar