04 Apr 2019 09:59

NTP Maret Melorot, Petani Sulut Tak Kunjung Sejahtera

MyPassion
Kelangsungan usaha para petani di Sulut wajib menjadi prioritas pemerintah. Dok MP

MANADOPOSTONLINE.COM—Nasib petani di Sulawesi Utara tak kunjung membaik. Bila menilik dari presentasi Nilai Tukar Petani di Bulan Maret yang nyatanya turun 0,71 persen. Dari nilai 95,18 di Bulan Februari menjadi 94,51.

Menurunnya nilai NTP dipengaruhi oleh terkontraksinya harga jual komoditi yang dihasilkan dan kenaikan harga barang-barang kebutuhan rumah tangga. Serta biaya produksi dan penambahan barang modal.

“Nilai NTP secara tahun kalender 2019 mengalami penurunan 0,91 persen. Dan secara tahun ke tahun mengalami penurunan 0,31 persen. Dorongan inflasi sebesar 0,41 persen juga turut membuat permasalahan petani di wilayah pedesaan semakin kompleks,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik Sulut Ateng Hartono melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi Marthedy Tenggehi.

Sembari menambahkan, inflasi tertinggi ada di kelompok bahan-bahan makanan. Jika dilihat dari subsektornya, kata dia, NTP Tanaman Perkebunan Rakyat, jadi yang paling banyak mengalami penurunan. Sebesar 2,09 persen, dari 88,81 di bulan Februari menjadi 86,96 di bulan Maret. Hal yang cukup menggembirakan, datang dari Nilai NTP di subsektor Peternakan (NTPT).  

“Di subsektor ini mempunyai nilai cukup tinggi (di atas 100), dan mengalami kenaikan bulan ini sebesar 0,22 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari nilai 110,64 di bulan Februari menjadi 110,89 pada Bulan Maret,” papar dia

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulut Novly Wowiling kurang sependapat dengan mekanisme penilaian standar kesejahteraan versi BPS tersebut. 

Kata dia, tidak fair jika melihat capaian NTP tersebut tanpa memperhatikan pola konsumsi masyarakat yang tinggi. Terlebih, jika memasuki perayaan hari besar keagamaan.

"Petani kita sejahtera kok, lihat saja kalau ada acara syukuran di kampung. Pasti makanannya serba komplit, lebih-lebih barusan juga kita melewati momen Natal dan Tahun Baru, hal ini harusnya diperhitungkan juga," kelitnya.
Meski begitu, pihaknya terus melakukan penggenjotan produksi pertanian. Lewat pelatihan, pemberian alsintan, pupuk hingga bibit bagi para kelompok tani.

"Tujuan kita memang tidak mematok perbaikan NTP, yang paling penting di sini, kuantitas hasil produksi harus ada progres tiap tahunnya. Sambil merumuskan kebijakan, agar nilai jual produk pertanian ini bisa berada di posisi ideal," papar dia.
Mencapai tujuan tersebut, ditegaskan Wowiling pihaknya, siap melakukan evaluasi serta pengawasan ketat terhadap, penyaluran bantuan yang diperuntukkan bagi petani.

"Misalnya pemantauan arus pengiriman pupuk bersubsidi mulai dari kota hingga ke desa-desa, plus pendekatan bagi petani kategori angkatan muda, karena umumnya petani saat ini didominasi rentang usia 40-an ke atas. Petani milenial namanya," pungkas dia. (jul)

Kirim Komentar