01 Apr 2019 11:30

Kelapa Sulut Bidik Pasar Ekspor Baru

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM—Pasar ekspor Sulawesi Utara, khususnya komoditas kelapa dan turunannya. Dominan dikuasai Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Eropa.

 

Tahun ini, seperti dikatakan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sulut Jenny Karouw, pihaknya siap mendorong ekspor produk tersebut ke negara tujuan alternatif. Benua Amerika Selatan dan Afrika siap disasar nantinya.

“Dikarenakan adanya penurunan permintaan, baik dari Amerika Serikat dan Belanda. Kedua negara ini memang mendominasi produk kelapa dan turunannya yang kita miliki. Pasar baru ini saya rasa cukup potensial, meski dari sisi volume mungkin tak sebesar yang sebelumnya,” beber Karouw.

Dikarenakan dominannya pengambilan dari kedua tujuan ekspor tersebut. Tak jarang, sentimen dari kedua negara tersebut berpengaruh besar bagi komoditas Sulut.

“Biasanya mereka (AS dan Belanda) ambil 1.500 barel per tahun. Nah, sampai dengan Triwulan IV kemarin secara bertahap mulai menurun sampai 950 barel per tahun, itupun harganya mereka yang tentukan. Makanya harga kopra turun, karena itu dipengaruhi oleh harga pasar dunia,” katanya.

Tak heran Disperindag akhir-akhir ini, mendorong petani kelapa untuk memfokuskan usaha pada industri rumah tangga. Pembuatan minyak kelapa rumahan, diyakini mampu menopang pendapatan petani. Seiring perlambatan permintaan global 

Terpisah, Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Gunawan Bank Indonesia Provinsi Sulut menyatakan, sepanjang tahun lalu komoditas ekspor khususnya komoditas kelapa dan turunannya. Terkontraksi cukup dalam hampir mendekati 40 persen.

“Kurang lebih 37,63 kontraksinya, pasar internasional memang kurang bergairah. Menyusul dengan melambatnya perekonomian di AS dan Tiongkok,” katanya.

Pemerintah harus benar-benar memperhatikan soal kelangsungan industri pertanian di Sulut. Pasalnya, sektor ini jadi kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Sulut.

“Karena sektor ini dominan serapan tenaga kerjanya. Tapi pertumbuhan usahanya kecil, tak lebih dari 3 persen. Dari seharusnya bisa capai 6 persen per tahunnya,” tukasnya. (jul)

Kirim Komentar