23 Mar 2019 08:43

Jangan Rusak Toleransi Dengan Politik Identitas

MyPassion
Olly Dondokambey

MANADOPOSTONLINE.COM--Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak (FK-P/KB) menggelar diskusi publik bertema Politik dan Demokrasi dalam Kebhinnekaan Bangsa Indonesia’ di Grha Oikoumene, Jakarta, Kamis (21/3).

 

Ketua Umum FK-P/KB PGI Olly Dondokambey Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan seruan, agar seluruh elemen masyarakat tidak merusak toleransi kebangsaan dengan politik identitas.

Menurut Olly, bangsa Indonesia kini tengah dibayangi kegelisahan, karena kampanye politik identitas yang mencuat saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, dan kian meluas menjelang pemilihan umum (Pemilu) serentak pada 17 April 2019.

“Politik identitas berpusat pada politisasi identitas melalui interpretasi ekstrem, yang dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang yang merasa sama. Baik dari sisi suku, ras, agama, kelompok, maupun elemen perekat lainnya. Misalnya pilihan politik atau pendukung calon pemimpin tertentu,” ujarnya.

Olly mengakui, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, politik identitas menjadi cepat meluas penyebarannya karena keberadaan media sosial (Medsos) yang dapat diakses berbagai kalangan baik di kota metropolitan maupun perdesaan.

“Hal itu secara nyata membuat masyarakat terpecah menjadi kubu tertentu, dan kian mengkhawatirkan karena menjalar ke lingkungan sosial sehari-hari, baik di sekolah, lingkungan rumah, bahkan tempat pekerjaan,” ungkapnya.

Karena itu kata Olly, FK-P/KB PGI merasa terpanggil untuk memberi pendidikan politik yang berlandaskan pada toleransi kebangsaan, di mana ini merupakan wujud dari nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. “Ini penting, agar masyarakat menyadari pentingnya menjaga keutuhan bangsa daripada terkotak-kotak karena politik identitas,” ujarnya.

“Di tengah kegelisahan bangsa saat ini, sudah sepatutnya semangat toleransi kebangsaan dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika diaktualkan kembali. Jangan kita rusak toleransi kebangsaan dengan politik identitas,” saran Olly.

Dia menjelaskan, hal-hal positif dari toleransi kebangsaan yang mempersatukan Indonesia tentu bukan karena faktor kesamaan suku atau etnik, budaya, warna kulit, apalagi agama.

“Elemen fundamental satu-satunya yang mendasari toleransi kebangsaan adalah rasa kebatinan sebagai bangsa yang satu nasib, satu perjuangan, satu haluan, dan satu cita-cita menuju Indonesia yang adil dan makmur,” jelasnya.

Dia menekankan, kalau semua elemen masyarakat memiliki toleransi kebangsaan, maka tak ada ruang bagi politik identitas untuk mendorong sikap cenderung berprasangka atau berasumsi negatif terhadap pihak lain. “Akhir-akhir ini telah menjerumuskan masyarakat kita ke dalam konflik sosial dan intoleransi,” kata Olly.

Dia menambahkan, kebhinekaan Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri dan seharusnya menjadi kekayaan bangsa yang harus dijaga, dipelihara dan dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan masa depan rakyat Indonesia.

Sementara itu, Ketua Panitia Diskusi Publik Politik dan Demokrasi dalam Kebhinekaan Bangsa Indonesia Jimmy Mokolensang mengatakan, FK-P/KB PGI akan terus membangun kerja sama yang harmonis dengan berbagai elemen bangsa dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras, untuk menghindari ancaman intoleransi serta perpecahan.

Terkait dengan penyelenggaraan Pemilu serentak pada 17 April mendatang, FK-P/KB PGI ingin berperan dalam meningkatkan kualitas politik dan demokratisasi lewat pendidikan politik melalui diskusi publik yang dapat membuka wawasan masyarakat terhadap isu-isu mengemuka.

“Ke depan diskusi publik seperti ini akan kami lakukan secara berkala untuk menyikapi isu-isu kebangsaan yang mengemuka,” pungkasnya. (ite)

Kirim Komentar