18 Feb 2019 08:28

Akademisi: Jokowi Unggul 2–0

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM—Debat kedua calon presiden sudah berakhir. Akademisi Dr Valentino Lumowa, tak segan memberikan skor 2-0 untuk Capres Jokowi. Meski begitu dirinya tetap memberikan catatan kritis bagi kedua calon.

 

“Karena mampu menggunakan ruang ini (debat) untuk menyosialisasikan keberhasilan dan capaiannya. Yah, bisa dikatakan capres nomor urut satu skornya 2, capres nomor urut dua skornya 0,” sebut Lumowa saat diwawancarai Manado Post, usai debat.

Dirinya pun memberikan alasan terkait pemberian skor tersebut. “Kesiapan mengikuti debat yang dikemas oleh penyelenggara untuk memfasilitasi adanya perbedaan atau gagasan besar, ide, konsep serta bagaimana mengimplementasikan hal tersebut dalam program konkrit, nyatanya masih menjadi milik sang petahana,” ungkap Dosen Filsafat Universitas Katolik Della Salle ini, saat diwawancarai Manado Post usai debat capres, semalam.

Namun dirinya tetap menyayangkan dalam forum debat ini, konflik adu strategi, gagasan serta bagaimana cara mewujudkannya belum terlihat jelas. “Hanya saja, capres nomor urut satu dengan kesiapan data dan informasi serta analisa yang jauh lebih rasional, punya ruang gerak lebih kali ini,” ungkap Lumowa.

Lanjutnya, saking rileksnya jalannya debat kali ini, ketimbang pelaksanaan forum serupa beberapa waktu lalu. Justru, membuat adu argumen dan pernyataan yang mengacu pada realita dan kenyataan di lapangan, dinilai kurang optimal. “Lihat saja, ada beberapa scene waktu untuk mengcounter atau menjawab masih ada. Namun, tidak benar-benar dipergunakan oleh keduanya,” kritik Lumowa.

“Sehingga garis pembeda yang seharusnya nampak, antar figur yang coba melanjutkan program kerjanya lewat alokasi waktu dan kepercayaan yang lebih, plus sang penantang yang mencoba menawarkan konsep dan gagasan konstruktif yang baru, tidak terlalu keliatan,” ungkapnya.

Lanjutnya, kesiapan data antar capres pun jadi penentu siapa yang lebih unggul. Kemudian penguasaan materi dan kemampuan menterjemahkan konsep berbasis teknologi digital dan informasi menyambut era revolusi industri 4.0, kata Dr Lumowa masih menjadi keunggulan capres nomor urut satu.

“Semua menyaksikan, ketika capres nomor urut satu menanyakan apa strategi yang harus disiapkan guna mendorong lahirnya serta mensupport unicorn-unicorn di Indonesia. Tapi capres nomor urut dua, bingung saat mencoba menjelaskan. Malahan memberi kode seolah-olah itu harus dilanjutkan oleh sang petahana saat ini. Masalahnya di mana? Lebih ke kesiapan data dan informasi, terkait hasil-hasil capaian kinerja yang harusnya dikritisi tapi kurang maksimal,” ulasnya.

Sementara capres nomor urut satu, pada momen ini sepertinya berhasil untuk mencoba meyakinkan kembali, untuk memberikan pertimbangan kepada pemilih, bagaimana arah menggunakan suaranya di pilpres nanti. “Ini yang sangat disayangkan, kurang diantisipasi tim sukses capres nomor urut dua. Padahal dari segmentasi pemilih, jika hal ini bisa dieksploitasi lebih dan dimaksimalkan banyak lho suara pemilih milenial,” papar dia.

Satu hal yang cukup kontradiktif menurutnya, ketika capres nomor urut satu, melemparkan sentilan soal kepemilikan lahan di Indonesia. “Sentilan ini justru yang mengeluarkan marwah debat yang sesungguhnya, yang paling panas. Namun, menariknya capres nomor urut dua menjawab dengan sikap nasionalis, tapi diakhiri dengan statement yang kurang pas. Khususnya ketika menyinggung soal pemberian lahan untuk dieksplorasi, tapi enggan jika nantinya dikelola oleh pihak asing. Jadinya kayak plin-plan gitu,” kata dia.

Dirinya pun menyimpulkan, dari pelaksanaan debat, petahana benar-benar menggunakan forum ini untuk menyosialisasikan program yang telah dilakukan. Sekaligus memperjuangkan waktu lebih untuk memperbaiki, atau menambah waktu untuk program yang belum dilakukan. Sementara untuk capres nomor urut dua, kata Lumowa sepertinya belum maksimal mempersiapkan amunisi data. Yang harusnya bisa memberikan counter berarti pada sang rival.

123
Kirim Komentar