09 Feb 2019 07:59

Lima Desa Terdampak Erupsi Api Karangetang

MyPassion
Pemprov Sulut melalui BPBD menyalurkan bantuan bagi pengungsi erupsi Gunung Api Karangetang yang diterima Wakil Bupati Sitaro Jhon Palandung belum lama ini.

MANADO—Sebanyak lima desa di Sitaro terdampak bencana erupsi Gunung Api Karangetang. Hal itu dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara (Sulut) Joy Oroh, Jumat (8/2). Menurut Oroh, lima desa tersebut adalah Batubulan, Niambangeng, Kawahang, Kiawang dan Hiung.

"Jadi lima desa ini berada di Kecamatan Siau Barat Utara. Dan memang lima desa ini yang berada di sekitar Gunung Karangetang. Dari data yang kita ambil di lokasi bencana, ada 53 KK dan 190 jiwa yang menjadi pengungsi. Lokasi pengungsian juga dibuat tiga lokasi. Yang pertama di Shelter Paseng dengan jumlah 32 KK 122 jiwa. Kedua di pengungsian sekolah GMIST Batubulan dengan 11 KK 39 jiwa. Serta pengungsian di rumah-rumah keluarga 9 KK 29 jiwa," ujarnya.

Oroh mengatakan, akses jalan darat menuju Batubulan terputus akibat aliran material lava pijar dengan tinggi timbunan 50 meter dan luas 300 meter. Aliran lava pijar Karangetang juga, menurut Oroh, sudah sampai ke laut. Serta selain lima desa terdampak tersebut, ada juga beberapa kecamatan di Sitaro yang terdampak abu vulkanik.

"Pihak PVMBG Badan Geologi telah mengeluarkan imbauan bahwa untuk masyarakat di sekitar Gunung Api Karangetang, yang berada di area barat laut-utara dari kawah dua, di antaranya Niambangeng, Beba dan Batubulan agar dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas. Dan di lokasi, tim kita bersama kabupaten telah melakukan evakuasi terhadap masyarakat tersebut," ujarnya.

Bantuan, menurut Oroh, masuk dari berbagai instansi, baik pemprov serta kabupaten/kota untuk penanganan pengungsi. Semua penyaluran bantuan juga, menurut Oroh, masuk lewat jalur laut. Karena akses darat tidak bisa dilalui. Dan menurutnya, masyarakat pengungsi masih dalam kondisi stabil, dengan pasokan bantuan yang terus masuk.

"Akses listrik untuk Batubulan sudah dimatikan. Itu karena bahaya untuk masyarakat jika masih terus terjadi guguran lava pijar. Untuk kesehatan masyarakat, posko kesehatan sudah berada di dua lokasi pengungsian. Jalan menuju Batubulan rusak berat tertutup material, serta dua unit jembatan Batubulan rusak berat dan tertutup material," katanya.

Untuk saat ini kebutuhan yang paling mendesak, menurut Oroh, adalah air bersih serta matras, selimut, sembako dan rempah-rempah di lokasi pengungsian. Juga diperlukan BBM untuk keperluan pengisian genset.

"BPBD terus mencatat dan melaporkan semua kejadian dan kebutuhan di lokasi pengungsian. Bantuan juga memang terus kita salurkan walau melalui jalur laut. Dan yang utama itu, kita terus memantau bagaimana kondisi kesehatan, juga kondisi Karangetang. Namun untuk sekarang, masih dalam status waspada level III belum awas. Dan mudah-mudahan bisa segera teratasi semua," ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengatakan, koordinasi lintas sektor antara pemerintah dan pihak TNI/Polri terus dilakukan untuk pengamanan bencana erupsi. Serta semua alat bencana yang ada di pemprov terus disiagakan di lokasi bencana.

"Ya untuk bantuan, kita terus salurkan. Dan tentu, untuk penanganan awal. Seperti makanan instan, serta kebutuhan bayi. Jadi kita data, dan suplai. Tentu berkoordinasi dengan pemerintah setempat, agar bantuan bisa beragam sesuai dengan kebutuhan di lokasi pengungsian. Saya juga sudah minta, untuk tim bencana selalu siaga. Serta dapat membantu secara full semua kebutuhan dilokasi bencana," tandasnya. (tr-02/can)

Kirim Komentar