07 Feb 2019 11:40

Ekonomi Indonesia Tahan Banting di Tengah Guncangan Global

MyPassion
Joko Widodo

JAKARTA—Pertumbuhan ekonomi Indonesia lambat laun semakin menunjukkan kinerja yang positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi pada 2018 mencapai 5,17 persen secara year on year (yoy). Ini adalah capaian pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak 2014. Pada 2014-2017, secara berturut-turut ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen; 4,88 persen; 5,03 persen dan 5,07 persen.

 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi kali ini sudah positif. Sebab, Indonesia masih mampu mencetak pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan ekonomi global yang terjadi. “Memang kalau di-review dari apa yang Bapak Presiden (Joko Widodo) prediksikan sejak 2014, ekonomi belum bisa tumbuh 7 persen. Tetapi kita kan sebelumnya tidak mengira bahwa aka nada tekanan suku bunga The Fed, perang dagang, gejolak nilai tukar dan harga komoditas. Menurut saya angka 5,17 ini adalah angka yang menggembirakan,” ujarnya saat paparan data BPS kemarin (6/2) dilansir dari Jawa Pos (grup Manado Post).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memang sempat menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen saat baru menjabat pada 2014 lalu. Dia pun menerapkan kebijakan yang tidak populis seperti mencabut subsidi BBM dan mengalihkan dana subsidi untuk pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga menggenjot infrastruktur lewat berutang. Kemudian pada 2017, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen. Namun seiring tekanan perlambatan ekonomi global target tersebut mengalami revisi menjadi 5,1-5,2 persen.

Pria yang kerap disapa Kecuk itu menjelaskan, indikator pertumbuhan ekonomi yang baik ini terlihat dari angka penjualan mobil, motor dan semen. Penjualan mobil dan motor secara wholesale kuartal IV tahun lalu masing-masing tumbuh sebesar 9,37 persen dan 7,44 persen. Sementara penjualan semen tumbuh 4,30 persen. Secara full year kenaikan penjualan ini cukup menunjukkan daya beli konsumen dan pertumbuhan konstruksi bangunan yang meningkat.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan. Dengan pertumbuhan 5,08 persen, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 56,01 triliun. Total PDB Indonesia tahun lalu tercatat sebesar Rp 14.837,4 triliun. Kemudian dari sisi produksi, sektor industri juga masih menjadi contributor terbesar yakni 19,82 persen terhadap struktur PDB. Pertumbuhan sektor industri tercatat 4,25 persen.  

Jika dilihat lebih mengerucut, perekonomian Indonesia ditopang oleh pertumbuhan dari industri kecil. Industri manufaktur kecil mencatat peningkatan produksi sebesar 5,66 persen, lebih tinggi dari capaian 2017 yang hanya 3,88 persen. Sedangkan industri manufaktur besar dan sedang hanya tumbuh 4,07 persen, melambat dibanding pertumbuhan pada 2017 yang mencapai 4,74 persen. Hal ini berdampak pada kinerja ekspor-impor.

Nilai ekspor barang pada kuartal IV 2018 tercatat sebesar USD 44,98 miliar, turun 1,04 persen (yoy). Sedangkan nilai impor mencapai USD 49,85 miliar, naik 12,10 persen (yoy). “Ini terjadi ketidakseimbangan antara ekspor dengan impor. PR kita di sini, yakni bagaimana caranya industri manufaktur sebagai penyokong ekonomi dari sisi produksi bisa tumbuh dan meningkatkan ekspor,” lanjut Kecuk.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, Indonesia terlalu tergantung pada ekspor komoditas. Ekspor hasil manufaktur yang mempunyai nilai tambah kurang digenjot. Sehingga, andalan pertumbuhan ekonomi lebih condong pada pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Padahal pemenuhan kebutuhan tersebut bisa dilakukan juga dengan cara impor. Sedangkan hal mendasar yakni industrialisasi dan penjualan hasil manufaktur kurang ditingkatkan.

Hal ini jugalah yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mampu menyentuh angka 7 persen. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,17 persen tidak terlalu baik namun juga tidak terlalu buruk. Tetapi kalau kita lihat negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, mereka juga sama-sama mengahadapi tekanan ekonomi global, tapi bisa tumbuh 6 persen, 7 persen,” ucap Faisal.

Untuk itulah, Indonesia harus memperbaiki masalah pertumbuhan industri manufaktur. Dia menyarankan pemerintah tak hanya membuat kebijakan permudahan ekspor jangka pendek saja, namun tak diimbangi dengan industri yang mumpuni. “Kalau hanya jangka pendek dan menengah saja tapi masalah mendasarnya tidak diperbaiki, mana bisa tumbuh 7 persen,” lanjutnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,17 persen sudah baik di tengah ketidakstabilan ekonomi dunia. “Pada kuartal IV 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,18 persen, sedangkan sepanjang 2018 kita tumbuh 5,17 persen. Soal pertumbuhan ekonomi ini, saya mendapatkan apresiasi dari negara lain. Sebab realisasi pertumbuhan ekonomi di dunia menurun, begitu juga dengan negara lain,” ujarnya.

Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, Enggar menyebut bahwa pemerintah akan terus mengenjot ekspor. Dia pun mengakui bahwa masih ada kekurangan dari sisi perdagangan antar negara. “Kami meyakini dengan berbagai parameter yang ada, kami bisa mencapai apa yang akan ditargetkan Pak Presiden. Kuncinya ada dua, yaitu dorong investasi dan ekspor,” tambahnya.

Senada, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai angka pertumbuhan ekonomi 5,17 persen sudah cukup baik. Sebab, situasi ekonomi dunia tengah menunjukkan tren yang tidak stabil. Dia menyebut, peningkatan tipis dari pertumbuhan PDB ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. “Ekonomi kita itu mampu. Bukan sekadar bertahan, namun mampu tumbuh, pelan-pelan naik,” ucapnya.

Disinggung soal pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah target pemerintah, Darmin menyebut pemerintah memang ingin pertumbuhan setinggi mungkin. Namun melihat faktor eksternal yang terjadi, adanya kenaikan tipis dibanding tahun sebelumnya saja sudah baik. “Cukup puas dalam arti dengan situasi yang ada,” imbuhnya.

Terkait potensi pertumbuhan ekonomi tahun ini, dia optimis akan jauh lebih baik. Salah satu faktornya adalah nilai tukar rupiah yang membaik. Darmin menilai, dengan nilai tukar yang baik, pemerintah bisa fokus ke akselerasi pertumbuhan ekonomi. “Kita tidak lagi habis tenaga untuk mencoba menahan, jangan merosot terus rupiahnya,” tuturnya.(gnr)

Kirim Komentar