06 Feb 2019 10:30

Sentra Perikanan Kepulauan Digenjot

MyPassion
Steven Kandouw

MANADO—Sentra perikanan Sulawesi Utara (Sulut), terlebih khusus di kepulauan, tahun ini akan digenjot. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw, Selasa (5/1).

Menurutnya, dijadikannya daerah kepulauan sebagai sentra perikanan merupakan hal wajar. Pasalnya, daerah kepulauan sampai saat ini banyak menyumbang produksi ikan di Sulut.

"Tahun ini kita menuju ke provinsi Tuna se-Indonesia. Dan daerah kepulauan yang bakal menjadi sentra utama perikanan kita. Memang masih banyak sekali yang menjadi hambatan. Mulai dari sarana dan prasarana yang sampai saat ini masih sangat kurang. Semua sarana dan prasarana itu memang masih jauh panggang dari api," ungkapnya.

Dirinya menuturkan, masalah listrik di daerah kepulauan juga menjadi hal utama dalam mewujudkan sentra perikanan. Bahkan ada daerah yang hanya dialiri listrik selama enam jam. Padahal, untuk mempertahankan kualitas ikan harus disimpan di kulkas yang menang notabenenya memakai listrik.

"Saya sudah sampaikan masalah-masalah ini ke pusat. Ini kita lakukan untuk mendapatkan perhatian khusus. Tidak mungkin provinsi kita menuju ke sentra perikanan maju jika sarana dan prasarana masih seperti ini. Mau cari ikan banyak, ya bisa. Namun untuk menyimpannya yang susah. Ya mudah-mudahan, tahun ini kita mendapatkan dukungan pusat untuk penguatan saran dan prasarana di kepulauan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut Ronald Sorongan mengatakan, sampai saat ini produksi perikanan untuk daerah kepulauan bisa mencapai 10 ton per hari. Jumlah itu, menurut Sorongan, bisa bertambah jika fasilitas penunjang lainnya terpenuhi.

"Ya memang masalah listrik serta transportasi yang memang sampai saat ini menjadi hambatan di daerah kepulauan. Selain tidak 24 jam dialiri listrik, kapal yang masuk untuk beberapa daerah tidak setiap hari juga. Alhasil distribusi pasokan ikan menjadi terhambat. Padahal untuk 15 kabupaten/kota, daerah kepulauan ini yang menjadi yang terbesar dalam stock ikan daerah," ujarnya.

Untuk armada pencarian ikan juga, menurut Sorongan, di daerah kepulauan masih sangat terbatas. Untuk kapal nelayan yang ada di daerah kepulauan dan terluar hanya didominasi 5-10 GT. Artinya, pencarian ikan, hanya terbatas dengan jumlah yang sedikit. Itu juga yang menurut Sorongan, masalah utama yang saat ini pemerintah hadapi.

"Kalau minimal untuk pencarian ikan dengan jumlah banyak, ya standar 30 GT. Ya bagusnya juga 60 GT. Nah untuk armada pencarian ikan seperti itu hanya ada di ibukota. Kalau di kepulauan dan daerah terluar itu didominasi nelayan 5-10 GT. Susah jika kita upayakan penambahan produksi ikan," tandasnya. (tr-02/can)

Kirim Komentar