06 Feb 2019 09:54

Paus Franciskus-Imam Besar Al Azhar Serukan Perdamaian

MyPassion
KIRIM PESAN DAMAI: Paus Franciskus dan Imam Besar Mesir Sheikh Ahmed Al Tayeb bertemu di Abu Dhabi pada Senin (4/2). Keduanya saling berpelukan dan menyerukan perdamaian. (Daily News Egypt)

ABU DHABI—Paus Franciskus dan Imam Besar Mesir Sheikh Ahmed Al Tayeb bertemu di Abu Dhabi. Keduanya saling berpelukan dan menyerukan perdamaian. Kedua pemimpin agama menandatangani pernyataan dengan harapan mereka bisa mendorong perdamaian dunia.

Selanjutnya Paus Fransiskus mengakhiri kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab (UEA) dengan pesan yang tegas. Dia mendorong agar dunia mengakhiri kekejian perang di beberapa wilayah. Terutama wilayah Timur Tengah yang tengah dia kunjungi.

Dalam sambutannya pada acara Human Fraternity Meeting (Pertemuan Persaudaraan Insani) Senin (4/2), dia mengatakan bahwa umat beragama harus lebih aktif untuk mendorong perdamaian dunia. Menurut dia, kewajiban penganut agama mana pun adalah membantu sesama dan menjembatani budaya.

“Kita bisa membangun masa depan atau tidak akan ada masa depan sama sekali,” ungkap Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio tersebut menurut The National.

Dia mengungkapkan, tugas untuk mengakhiri perang di dunia bukan lagi sesuatu yang bisa ditunda. Terlalu banyak penderitaan menusia yang tercipta dari adu senjata. “Kita sudah menjadi saksi bagaimana konsekuensi dari peperangan. Terutama perang di Yaman, Syria, Iraq, dan Libya,” ucapnya sebelum menandatangani deklarasi dan penandatanganan dokumen Human Fraternity.

Imam Besar Al Azhar Ahmed Al Tayeb ikut mendukung pernyataan pemimpin Vatikan tersebut. Dia pun menekankan pentingnya hidup bersama dengan umat beragama lain di mana pun. Menurut dia, umat muslim di Timur Tengah diajak ikut melindungi komunitas kristiani dari ancaman kelompok garis keras. “Anda (umat kristiani) adalah bagian dari negara ini, bukan sekadar kaum minoritas,” ujarnya.

Esoknya, Sri Paus mengakhiri kunjungannya dengan menggelar misa umum di Stadion Zayed Sports City. Misa itu dihadiri 135 ribu penduduk UEA, sebagian besar migran yang bekerja di negeri tersebut. Mereka mendapatkan cuti khusus dari pemerintah untuk ikut misa. Misa itu diselenggarakan dalam enam bahasa.

Sebanyak 4.000 warga muslim juga diundang sebagai simbol toleransi antarumat beragama. “Saya tak pernah terbayang bahwa kita bisa beribadat di luar gereja. Pengalaman ini sangat spiritual,” kata Fareed Morcos, salah seorang peserta misa.(gnr)

Kirim Komentar