15 Jan 2019 09:07
Perlu Puluhan Orang Evakuasi Merry

Setahun Lebih Bolak-Balik, BKSDA: Korban Tak Tega Buaya Diambil

MyPassion
Hewan buas bernama Merry akhirnya dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulut dari lokasi PT Tiara Indo Pearl di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Minahasa Senin (14/1), kemarin.

MANADOPOSTONLINE.COM--Hewan buas bernama Merry (buaya, red) yang memakan korban Deasy (44) Jumat (11/1) lalu dievakuasi. Merry sudah dievakuasi pukul 11.00 hingga pukul 13.00 WITA,  oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Utara, dari lokasi PT Tiara Indo Pearl di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Minahasa, Senin (14/1) kemarin.

Pantauan harian ini, Babinsa Koramil 1302-07/Tombariri Serda Arsyad harus bergulat dengan buaya yang diduga memangsa Deysi Tuwo. Penangkapan dan pemindahan tujuannya untuk menghindari jangan sampai ada lagi korban berikutnya. Karena itu Plh Danramil Peltu Jansen Linoe memerintahkan anggotanya bernama Serda Arsyad agar membatu warga menangkap buaya ini.

Usai melaksanakan tugas yang diberikan, Serda Arsyad mengatakan senang bisa membantu warga. “Saya secara pribadi merasa senang bisa berhasil menangkap buaya tersebut, walaupun di dalam hati saya merasa was-was, sebab hewan ini adalah tergolong dalam binatang buas. Bagaimana tidak, kita ketahui bersama bahwa beberapa hari yang lalu hewan ini memangsa seseorang, namun demikian saya merasa bangga sebab sudah bisa menjinakkan buaya tersebut,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Hendrik Sarundengan mengatakan, pihaknya menurunkan sebanyak 10 orang personil plus bantuan tenaga dari Polri, TNI dan warga sekitar. “Kami memulai proses evakuasi kurang lebih dua jam, perlu puluhan orang untuk mengangkat buaya dengan diameter 90 cm, berat 780 kg dan panjang 4, 4 Meter,” ungkap dia.

Kata dia, proses evakuasi buaya tersebut, telah diinisiasi pihaknya sejak setahun belakangan. Namun, upaya tersebut tak berbanding lurus dengan pemilik, terlebih pengasuh buaya yang akhirnya menjadi korban.

"Sudah setahun lebih, kami berkoordinasi dengan pemilik buaya, dan korban yang juga merupakan kepala laboratorium. Mungkin, korban terlanjur sayang, karena sudah puluhan tahun mengurus buaya. Dan yang perlu saya tegaskan di sini, tidak benar kalau ada statemen yang menyatakan kalau BKSDA tidak berupaya untuk melakukan evakuasi. Malahan, di tahun lalu, sudah beberapa kali kita bolak-balik. Tapi, Deasy (korban, red) tak tega melihat buayanya diambil," paparnya.

Lanjut dia, buaya tersebut nantinya akan ditempatkan di kawasan konservasi di Kota Bitung. Bersama dengan hewan-hewan yang dilindungi lainnya. Kata dia, sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Pemilik buaya, bisa diproses hukum dengan ancaman hukuman penjara hingga lima tahun.

“Sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan setiap orang dilarang menangkap hewan atau satwa yang dilindungi dan bagi siapa yang melanggarnya, maka merupakan suatu tindak pidana. Bisa sampai lima tahun hukuman penjaranya," timpalnya.(jul/gnr)

Kirim Komentar