10 Jan 2019 10:43

Pengamat: Debat Pilpres Mirip Mahasiswa Sedang Ujian Skripsi

MyPassion

MANADOPOSTONLINE.COM--Debat perdana Capres dan Cawapres akan digelar pekan depan. Pengamat politik Sulawesi Utara (Sulut) Fery Daud Liando mengatakan, kalau pertanyaan sudah disiapkan itu sangat normatif dan tidak ada efek kejutan atau mekanismenya seperti halnya debat seperti ujian skripsi mahasiswa tentu tidak menarik.

"Debat calon Presiden sepertinya tidak akan mempengaruhi sikap politik pemilih untuk memilih calon tertentu. Karena mekanisme debat terkesan sangat normatif, debat pemilih tidak mendapat keuntungan,"sebutnya.

Menurut Liando, yang menarik perhatian masyarakat adalah apa yang menjadi pembeda. "Perbedaan tentang apa yang menjadi prioritas jika mereka akan terpilih nanti. Juga materi yang disajikan diharapkan tidak bersifat normatif. Artinya, hanya mengedepankan apa yang sudah menjadi kewajiban Pemerintah,"bebernya.

Dia mencontohkan di debat Presiden AS, menjadi menarik karena perdebatan keduanya bukan menonjolkan hal yang sifatnya normatif akan tetapi soal sikap jika terpilih. "Misalnya, Hillary Clinton memiliki sikap keterbukaan dan kebebasan sementara Donald Trump membatasi adanya kaum imigran atau pendatang. Akhirnya masyarakat pemilih terpecah pada dua pilihan sikap itu," tambah Liando

Ketua jurusan Fispol Unsrat itu menekankan jika debat Presiden di Indonesia ingin menarik harus mengikuti pola debat Pemilihan Presiden (Pilpres) AS. "Saat ini masih banyak wacana yang menimbulkan Pro dan kontra di masyarakat misalanya soal hukuman mati bagi koruptor. Sebagian menghendaki hukuman mati dan sebagian menolak, harunsya debat digiring pada perdebatan soal pilihan itu,"tambahnya.

Lanjutnya, Debat Pilpres 2014 lalu tidak menarik karena tema yang diangkat oleh calon yang satu ternyata sama persis dengan tema yang diangkat oleh calon lain. Bahkan saat itu Pak Prabowo sempat menyebut mendukung program yang disampaikan pihak jokowi.

"Mengapa terjadi. Yah, karena tema yg disampaikan sangat monoton dan kaku. Mekanisme dalam bentuk seperti mahasiwa yang sedang ujian skripsi. Panelis bertanya dan calon menjawab. Mekanisme ini tidak menarik," tandasnya.

Menurutnya, yang bisa dianggap menarik jika moderetor mengajukan pertanyaan tentang pilihan-pilihan berdasarkan wacana yang sedang berkembang. "Misalnya soal hubungan diplomatik dengan Israel. Panelis bisa menanyakan apa sikap masing-masing calon jika terpilih," tutupnya.(Opan)

Kirim Komentar