09 Jan 2019 08:58

Magang Harus Sesuai Kompetisi

MyPassion
Ismunandar

KEMENRISTEKDIKTI merespon adanya mahasiswa Indonesia yang magang tidak sesuai dengan jurusan atau kompetensinya. Apalagi program magang itu memiliki bobot SKS juga.

Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan akan mendiskusikan persoalan tersebut dengan TETO (Taipei Economic and Trade Office) di Jakarta.

Menurutnya kegiatan magang harus sesuai dengan jurusan kuliahnya. "Ya supaya sesuai dengan kompetensi yang dituju," kata guru besar ITB itu kemarin (8/1) dilansir dari Jawa Pos (grup Manado Post).

Bahkan dalam proses penyetaraan ijazah kampus asing untuk diakui di Indonesia, Kemenristekdikti akan melihat program magangnya apa saja. Kegiatan magangnya apa saja harus dijelaskan di dalam transkrip nilai. Meskipun kondisi ini bisa saja dimanipulasi oleh kampus supaya proses pengakuan ijazah di Indonesia lancar.

Ismunandar juga mengomentari banyaknya beban SKS yang dikonversi dalam magang. "Untuk program akademik, kalau (SKS magang, Red) lebih dari 50 persen itu terlalu banyak," katanya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, rata-rata beban SKS mahasiswa sarjana Indonesia peserta program kuliah-magang di Taiwan mencapai 144 SKS. Dari jumlah itu yang dihabiskan di dalam kampus hanya 67 SKS. Sisanya sebanyak 77 SKS merupakan kegiatan magang. Itupun banyak kasus magangnya tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei sudah memeriksa ke beberapa universitas terkait isu pogram magang mahasiswa untuk kerja paksa di Taiwan. Mereka juga sudah berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk melakukan pengawasan. 

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Lalu Muhammad Iqbal menuturkan, sejauh ini tidak ada satu pun mahasiswa Indonesia di Taiwan yang memberikan kesaksian mengenai adanya unsur kerja paksa. Meski begitu, timnya tidak berhenti menyelidiki.

"Anggota parlemen yang menemukan ada indikasi kerja paksa akan kami tanya lagi. Jangan-jangan target surveynya beda antara universitas yang kami survey dengan yang disurvey oleh anggota parlemen itu," ucapnya saat ditemui kemarin.

12
Kirim Komentar