07 Jan 2019 09:12

Bukti Kerukunan, Musik Hadrah Iringi Perayaan Natal

MyPassion
Pohon Natal dalam ibadah Natal Oikumene terbuat dari pohon kelapa.

SANGIHE—Perayaan ibadah Natal Oikumene di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Minggu (6/7) kemarin, penuh makna. Pantauan, ibadah selain diiringi musik tradiosional yakni, musik bambu dari Kelurahan Enempahembang, juga diiringi musik klasik agama Islam Hadrah dari Kelurahan Tidore sebagai bentuk kerukunan antara umat beragama.

Uniknya juga pohon Natal yang digunakan dalam ibadah terbuat dari pohon kelapa. Disampingnya terdapat roda sapi dan dikelilingi nyala lilin dan lampu natal serta pundi persembahan terbuat dari bakul yang dianyam dari daun kelapa muda.

Ketua Panitia Olga Makasidamo mengatakan, tema Natal Oikumene ini yaitu Berkat Sang Nyiur Melambai. Tema ini diangkat karena akhir-akhir ini banyaknya masyarakat yang mengeluh merosotnya harga komoditi kelapa kopra. Tetapi dengan tema ini kita belajar untuk tidak terpuruk pada kemerosotan harga kopra.

“Marilah belajar berkreasi untuk memproduksi semua bagian kelapa yang mempunyai nilai ekonomi. Ini mendorong masyarakat Sangihe agar tidak menjadi lemah karena merosotnya harga kopra tetapi marilah berkreasi untuk memproduksi bagian kelapa yang lain sehingga menghasilkan nilai ekonomi,” ajak Makasidamo.

Sementara itu, Ketua BPMS GMIMS Pdt P Madonsa dalam khotbahnya menjelaskan, ada tujuh hal yang bisa kita pelajari dari kelapa yakni kelapa mudah beradaptasi, lurus tidak bercabang, kuat dan tangguh, memiliki banyak manfaat, berakar merambat dan saling mengikat membentuk satu kesatuan, tidak mudah mati dalam keadaan apapun, selalu berbuah banyak.

“Hal inilah yang memotivasi kami mengangkat tema berkat sang nyiur melambai dan kami berharap dengan adanya perayaan Natal Oikumene yang kontekstual ini akan menjadi motivasi bagi kita sekalian bahwa kita tinggal dan hidup di daerah nyiur melambai jadi tak perlu takut karena disana ada kehidupan,” ungkapnya.

Senada diungkapkan Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana. Bupati mengharapkan, Natal Oikumene dapat membawa masyarakat pada pemahaman kontekstual dalam kehidupan keseharian dan aktivitas sebagai masyarakat Sangihe serta sebagai masyarakat yang mayoritas petani yang mengelola kelapa.

“Saya berharap khotbah terkait tujuh hal pada pohon kelapa ini dapat terimplementasi dengan baik. Dalam kontekstual ini juga menggambarkan kehidupan masyarakat Sangihe yang menjunjung tinggi kerukunan antara umat beragama yang ada di Kabupaten Sangihe. Inilah yang harus terus kita jaga dimana kita tidak dibatasi dengan kepercayaan tapi kita menyatu dalam sebuah kebersamaan,” pungkasnya. (wan/gnr)

 

 

Kirim Komentar