02 Jan 2019 10:39

Duka Awal Tahun, Puluhan Masih Tertimbun

MyPassion
Proses evakuasi di lokasi longsor Kampung Garehong, Desa Sinaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi.(Radar Sukabumi)

MANADOPOSTONLINE.COM—Longsor di Dusun Garehong, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, membuka lembaran kelam pergantian tahun 2018 ke 2019. Berdasar data milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 107 jiwa dari 32 kepala keluarga (KK) yang terdampak musibah tersebut. Selain banjir, tanah longsor memang juga menjadi momok yang harus diwaspadai saat musim hujan.

Hingga berita ini ditulis, pencarian korban masih dilakukan tim gabungan. Namun, menurut BNPB, hingga kemarin siang (1/1) tercatat sudah 60 orang yang berhasil diselamatkan. Selain itu, ada empat korban luka yang dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Pelabuhan Ratu. BNPB juga mencatat sembilan orang meninggal dunia. ”Sebanyak 34 orang belum diketahui,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Danrem 061/Surya Kencana Kolonel Inf M. Hasan mengungkapkan, berdasar hasil evakuasi terbaru tadi malam, petugas gabungan berhasil mengevakuasi 15 korban meninggal dari 35 warga yang diduga tertimbun di lokasi longsor. ”Sementara untuk korban yang belum ditemukan keberadaannya tinggal 20 orang lagi. Data ini sementara berdasar laporan ter-update,” katanya kepada Radar Sukabumi (grup Manado Post) kemarin.

Kepala Seksi Ops Siaga Pencarian dan Pertolongan Basarnas DKI Jakarta I Made Oka Astawa menambahkan, berdasar laporan sementara kemarin pukul 14.30, longsor telah mengakibatkan 30 unit rumah tertimbun tanah dengan jumlah 32 KK dan 101 jiwa. ”Dari ratusan jiwa ini, 63 jiwa di antaranya selamat. Sedangkan 3 korban luka dan 15 ditemukan meninggal. Sisanya tinggal 20 jiwa lagi yang belum ditemukan,” ujarnya.

Sutopo menceritakan, kejadian bermula saat hujan deras mengguyur Kecamatan Cisolok. Beberapa jam sebelum pergantian tahun (Senin, 31/12), tepatnya pukul 17.30, tanah longsor tiba-tiba menerjang permukiman warga. Seusai kejadian, jaringan listrik padam. Kondisi tersebut menghambat jaringan komunikasi. Termasuk di antaranya telepon seluler. Sehingga jumlah korban sempat simpang siur. ”Komunikasi dengan tim di lapangan hanya bisa menggunakan radio komunikasi atau handy talky,” ujarnya.

Pencarian sempat dihentikan pada malam hari karena hujan kembali mengguyur. Belum lagi listrik yang tidak kunjung menyala. Kondisi semakin buruk lantaran akses ke lokasi kejadian cukup sulit. Jalan menuju permukiman itu terjal dan berbatu. ”Untuk evakuasi, diperlukan alat berat. Namun, kondisi akses jalan dan medan cukup berat menuju lokasi bencana,” jelas pria asli Boyolali tersebut.

Pencarian lantas berlanjut kemarin pagi. Jumlah korban yang ditemukan meninggal pun masih mungkin bertambah. Bukan hanya itu, longsor susulan juga sempat terjadi selama pencarian korban berlangsung. ”Longsor susulan masih terjadi meski intensitasnya kecil. Kondisi tanah rapuh dan berlumpur,” ujarnya.

Meski sudah menyiapkan tiga unit alat berat, sementara pencarian masih dilakukan dengan mengandalkan peralatan sederhana. Sebab, petugas tidak bisa sembarangan menggerakkan alat berat ke titik longsor. Untung, masih ada masyarakat yang bersedia membantu para korban. Namun, ada juga yang datang hanya untuk melihat lokasi terdampak bencana tersebut. ”Masyarakat berdatangan ingin melihat lokasi bencana,” ujarnya.

Kodam III/Siliwangi maupun Polda Jawa Barat sudah mengirim bantuan menuju lokasi longsor di Kecamatan Cisolok. Berdasar keterangan dari Kapendam III/Siliwangi Kolonel Arh Hasto Respatyo, total petugas gabungan yang mereka kerahkan sebanyak 398 orang. Seluruh prajurit TNI digerakkan Korem 061/Surya Kencana. ”Termasuk dari Kodim 0622/Kabupaten Sukabumi sudah dari kemarin (Senin) stand by,” ungkap dia kemarin.

Hasto mengakui, belum ada pengerahan prajurit dari Kodam III/Siliwangi untuk membantu Korem 061/Surya Kencana. ”Sejauh ini masih bisa di-handle tingkat korem,” imbuhnya. Meski demikian, prajurit di Bandung tak lantas tidak bersiap diri. Dia memastikan bahwa kekuatan yang dimiliki instansinya siap dikerahkan kapan pun. ”Kami sudah siap mendorong kebutuhan yang dibutuhkan,” tegasnya.

Perwira menengah TNI-AD itu juga menyampaikan, jajarannya siap membantu pemerintah daerah setempat untuk menanggulangi musibah yang terjadi di sana. ”Saya yakinkan bahwa unsur-unsur di tingkat kodim, koramil, maupun babinsa setempat sudah memonitor dan melakukan langkah-langkah upaya untuk membantu evakuasi dan identifikasi,” beber Hasto.

Di samping prajurit, instansinya turut mengerahkan alat berat. Sampai kemarin sudah ada dua alat berat yang dikirim. Keduanya dikerahkan untuk memudahkan pencarian korban yang diduga masih tertimbun tanah. Dengan kondisi dan situasi di lokasi kejadian saat ini, pengerahan alat berat dinilai perlu. Tujuannya ialah mempercepat pencarian korban sehingga peluang menemukan korban selamat tidak menipis.

Kolonel Inf M. Hasan menambahkan, kehadiran dua alat berat memang membantu proses evakuasi. ”Namun, satu alat berat lagi tidak bisa masuk ke lokasi. Lantaran cuaca tidak memungkinkan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Sukabumi Didi Supriadi menjelaskan, pihaknya telah mengerahkan semua armada ambulans serta membuka pos kesehatan untuk membantu evakuasi. ”Dinkes dibantu semua stakeholder akan siaga sampai evakuasi darurat bencana alam selesai. Selain itu, kami akan siagakan tim medis pemulasara jenazah,” terangnya.

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setiap bulan sudah mengeluarkan surat edaran tentang potensi longsor di berbagai provinsi. Data tersebut tidak hanya mencakup detail per kabupaten, tapi didetailkan hingga level kecamatan. Selain itu, diberikan informasi jenis potensi longsoran.

Kecamatan Cisolok di Kabupaten Sukabumi termasuk dalam daerah rawan longsor. Kategori rawan longsor di daerah tersebut menengah hingga tinggi. Sekretaris Badan Geologi Antonius Ratdomopurbo mengungkapkan, sudah ada tim dari Badan Geologi yang mendatangi lokasi itu untuk mengamati kondisi pergeseran tanah tersebut. ”Kalau kabupaten mengalami longsor, mau lapor atau tidak kami cek. Itu otomatis,” ujar pejabat yang akrab disapa Purbo tersebut.

Purbo menambahkan, kapan waktu longsor memang tidak bisa diprediksi dengan pasti. Badan Geologi hanya memberikan data daerah-daerah yang rawan longsor. Gunanya untuk meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat setempat atau mereka yang akan tinggal di lokasi tersebut. Misalnya untuk wisatawan yang berlibur di satu daerah. ”Karena ini sifatnya kewaspadaan, maka perlu mitigasi bencana. Memang sejauh ini kewaspadaan itu masih perlu ditingkatkan terus,” tuturnya.

Yang menjadi persoalan terkadang sosialisasi mitigasi itu diberikan untuk warga setempat atau lokal, tapi ternyata ada warga dari luar daerah yang datang ke tempat rawan tersebut. Dia mencontohkan, dalam bencana tsunami di Pandeglang dan Serang, ternyata yang banyak menjadi korban adalah wisatawan.

Kabaghumas BMKG Taufan Maulana mengatakan, BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Jawa Barat. Termasuk untuk wilayah Sukabumi yang mengalami longsor. ”Peringatan BMKG menyebutkan pada pukul 15.00 berpotensi hujan sedang hingga lebat,” ucapnya. Kondisi hujan lebat dan disertai angin kencang itu diperkirakan cukup lama, hingga pukul 17.00.

Merujuk peta perkiraan curah hujan BMKG, sepanjang Januari 2019, curah hujan seluruh wilayah Indonesia berbeda-beda. Rata-rata untuk Pulau Jawa adalah curah hujan tinggi dan menengah.

Berkaitan dengan penanganan sejumlah bencana di Indonesia, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, pada saat bencana terjadi, sistem penanggulangan secara terpadu langsung diaktifkan. Khusus penanggulangan terpadu, Kemensos bertugas dalam klaster perlindungan dan pengungsian serta klaster logistik.

”Fokus penanganan adalah evakuasi pengungsi ke tempat aman,” tuturnya. Serta kelompok rentan yang terdiri atas lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lainnya. Instansinya juga memiliki personel taruna siaga bencana (tagana), logistik seperti makanan dan sandang, serta kebutuhan keluarga dan anak.(gnr)

Kirim Komentar