31 Des 2018 08:34

Proses Berhari-hari, Resiko Tinggi

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM - Memproduksi Cap Tikus butuh berhari-hari. Kerja sejak pagi hingga sore, bahkan malam. Butuh waktu dan tenaga. Sebab kebanyakan pohon aren (pohon seho) tingginya lebih dari 10 meter. Menaiki pohon aren di Minahasa Selatan (Minsel) juga dilakukan tradisional. Hanya dengan sebuah bambu berlubang jari yang disandarkan di batang pohon.

Dengan lilang (parang) sangat tajam, mayang pohon seho diketuk untuk merangsang air niranya. Proses pengetukan sebanyak tiga sampai empat hari agar nira banyak dan bagus. Nira yang digunakan dalam pembuatan Cap Tikus harus asam. Nira yang manis sering didiamkan sehari agar  asam, kemudian disuling.

Proses penyulingan dilakukan di tungku yang disebut porno. Dibakar menggunakan kayu api. Wadah untuk penyulingan nira aren adalah drum besar. Dibutuhkan sekitar satu sampai dua jam untuk proses penyulingan. Enam galon nira atau sering disebut saguer, hanya menghasilkan satu galon Cap Tikus.

Pada saat penyulingan, dua botol Cap Tikus hasil penyulingan pertama memiliki kadar di atas 45 persen. Itu disebut cakram. Yang paling enak dan paling keras kadarnya. Cakram apabila dijual bisa sampai Rp 500 ribu per galonnya. Beberapa botol setelahnya, kadarnya tinggal 30 sampai 20 persen.

Semua proses pembuatan Cap Tikus ini dilakukan petani Cap Tikus di Minsel. Setiap hari, dari pagi hingga malam. Butuh perjuangan ekstra apalagi dengan banyaknya resiko kecelakaan kerja karena semua serba tradisional.

Dengan legalnya Cap Tikus ini juga, menjadi kabar baik untuk semua petani. Termasuk untuk Ari Kawulur. Kakek 68 tahun ini sempat tak percaya tentang berita yang dia dengar baik dari tetangga maupun media sosial. Petani Cap Tikus asli Desa Powalutan, Kecamatan Motoling, Minsel itu sampai berpikir berita viral tentang legalnya produk Cap Tikus hanyalah berita hoax. “Apakah benar? Saya kira itu hanya berita palsu. Tapi kalau benar, itu akan sangat baik untuk kami,” ujarnya.

Menurutnya, dengan menjual Cap Tikus dia bisa menyekolahkan anak dan memenuhi segala kebutuhan keluarga. “Harga pergalon sekarang hanya Rp 100 ribu. Seminggu kami hanya menghasilkan Rp 200 ribu. Itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan,” katanya.

Namun dengan legalnya Cap Tikus ini, dia berharap pendapatan akan makin naik. “Ini membuka semangat kami. Ini akan saya teruskan ke peadean (rekan-rekan petani Cap Tikus, Red). Mereka juga harus tahu,” ungkapnya.

Rommy Kumakau, petani yang lain mengatakan, dengan legalnya Cap Tikus bisa menaikkan harga. “Beberapa bulan terakhir ini keluhan dari penampung kepada perusahaan yang mulai minim pesanan. Katanya pajak dan cukai yang diberikan pemerintah sangat besar sehingga tidak berimbang dengan keuntungan. Itu juga berdampak pada kami. Penampung juga sudah tak mau menerima Cap Tikus dari kami,” akunya.

Harapannya, pemerintah sungguh-sungguh memperhatikan kenaikan harga Cap Tikus karena pajak yang tinggi. “Kami sangat senang dengan berita legalnya Cap Tikus ini. Kami pasti mendukung ini. Kami harap juga baik pemerintah dan perusahaan yang memproduksi Cap Tikus legal itu bisa membantu mensejahterakan kami para petani Cap Tikus di Minsel khususnya,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu penampung Cap Tikus, Maxi Pongantung mengatakan, stok untuk sekarang sedang kosong. Hal itu terjadi karena pabrik dan perusahaan yang sering membeli sudah jarang memesan. "Di penampungan saya, sudah sekitar enam bulan tong yang berjumlah 12 tidak terisi lagi. Karena banyak pabrik yang sering mengambil sudah tutup. Katanya, cukai yang tinggi. Dampaknya pada permintaan suplai Cap Tikus menjadi menurun dan korbannya para petani," ungkapnya.

Dengan beredarnya informasi kelegalan Cap Tikus, Pongantung berharap perusahaan penampung bisa menampung semua Cap Tikus yang mereka produksi. “Sudah 20 tahun usaha penampungan Cap Tikus ini saya geluti. Ketika mendengar pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti ini tentu saya sangat senang dan mendukungnya. Ini merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi penderitaan kami. Dan kami harap perusahaan juga mampu untuk membantu menyejahterakan kami. Kami akan sangat bangga jika Cap Tikus nantinya akan bisa beredar luas sampai luar negeri. Membawa produk kami dengan ciri khas tanah Minahasa,” tandasnya. (*)

Kirim Komentar