31 Des 2018 08:50
Disupport Warga, Bahan Baku Original

Dulu Haram Sekarang Halal

MyPassion
Ilustrasi

Puluhan tahun Cap Tikus ‘diharamkan’ (ilegal). Kini berkat berbagai inovasi dan usaha bertahun-tahun untuk pengurusan dokumen, produk asli petani Minahasa tersebut akhirnya bisa ‘dihalalkan’ (berizin resmi) pemerintah pusat dan daerah.

MANADOPOSTONLINE.COM - Cap Tikus akhirnya bisa lebih bernilai. Dikemas lebih menarik dengan sebuah botol kecokelatan berukuran sedang. Tutup botolnya dipakaikan kertas cukai. Sementara sebagian botolnya dikemas dengan memakai kertas bertuliskan Cap Tikus 1978. Di atasnya ada tulisan Legendary Product of Minahasa. Ukurannya 320 ml.

Kini minuman ini bisa dijadikan ole-ole bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sementara warga yang sekadar ingin mabuk-mabukan, perlu pikir dua tiga kali untuk membelinya, karena dibanderol Rp 70 ribu per botol. Dengan legalnya Cap Tikus, para petani sudah bisa bernafas lega.

Tak dapat dimungkiri, minuman keras (miras) ilegal juga masih marak beredar di tanah Nyiur Melambai. Padahal, konsumsi miras berlebihan juga sering jadi biang kerok kasus-kasus kriminalitas seperti penganiayaan, dan penyebab kecelakaan lalu lintas (lihat grafis). Tak hanya itu, saat rekrutmen polisi, TNI, bahkan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), minuman perusak kesehatan ini, sering jadi hambatan bagi generasi muda untuk berkarir.

Sementara dari segi perekonomian, peredaran miras ilegal banyak merugikan pemerintah. Penyebabnya, produk yang diedarkan tak dilekati pita cukai dari Bea dan Cukai. Karena miras yang tak bercukai dijual lebih murah. Daerah dirugikan hingga miliaran rupiah karena tak bayar pajak.

Melalui PT Jobubu Jarum Minahasa (JJM), keresahan petani Cap Tikus diperjuangkan hingga mendapat kelegalan. Bukan hal yang mudah menjadikan minuman khas Minahasa ini legal. Butuh perjuangan dari segala pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Berlokasi di Minsel, wartawan koran ini berkesempatan mengunjungi pabrik Cap Tikus PT JJM yang terletak di Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Timur, Minggu (30/12) kemarin. Semua prosesnya terinci dan jelas disampaikan pihak pengelola pabrik. Mulai dari disuplainya bahan mentah Cap Tikus, hingga proses pengemasan dalam botol khas.

Di dalam pabrik, terdapat tiga tong besar tempat menampung Cap Tikus dari penyuplai. Tiap tong yang kapasitas mencapai ratusan liter itu, terdapat pipa yang menyalurkan Cap Tikus ke tempat desimilasi dan penyaringan. Selanjutnya pipa mengarah ke alat pengisian. Di situ, botol khas Cap Tikus berukuran 320 ml menunggu untuk diisi. Selanjutnya pindah ke alat penutupan segel botol dan pemberian label.

“Ketika Cap Tikus mentah dari pengumpul datang, ditampung dalam wadah. Selanjutnya masuk ke tong untuk proses destilasi. Selanjutnya kita lakukan filterisasi sebanyak tiga kali. Dalam proses filterisasi dibuang timbel dan merkurinya. Setelah dibuang dua bahan kimia itu, Cap Tikus menjadi aman untuk dikonsumsi orang dewasa,” ungkap Kepala Produksi PT JJM Anggi Sugiarto.

Setelah proses destilasi dan filterisasi, perubahan paling kasat mata terlihat adalah kebeningan Cap Tikus. “Dari bahan mentah cap tikus yang keruh, setelah proses destilasi akan menjadi lebih bening dan baunya tidak terlalu menyengat. Namun rasa dan kadarnya tetap terasa,” tambahnya.

Masuk ke mesin penampungan, Cap Tikus yang telah siap langsung dimasukkan ke dalam botol dan disegel serta diberi label. “Semua proses sampai pada penutupan botol dan pemakaian label menggunakan alat. Hanya pemasangan cukai yang dilakukan secara manual. Dan satu catatan, tidak ada penambahan bahan apapun. Semuanya original,” lanjutnya.

Sugiarto mengungkapkan, awal produksi Cap Tikus, PT JJM langsung memulai dengan 100 botol. “Kita memulai produksi awal itu 18 Desember. Kata orang itu tanggal yang baik. Kita produksi sebanyak 100 botol. Kemudian kita mulai produksi massal tanggal 27 Desember sebanyak 1.000 botol. Sampai saat ini, total produksi Cap Tikus sebanyak 3.000 botol dan penjualan awal hanya ada di Bandara Sam Ratulangi,” tandasnya.

Terpisah, Direktur PT JJM Fajar Taufik mengatakan, secara resmi Cap Tikus telah diperkenalkan kepada masyarakat. Meski begitu launchingnya akan digelar awal 2019. “Kita sudah mulai jual. Kita perkenalkan dahulu ke masyarakat Sulut supaya mereka kenal dan tahu. Nanti untuk launchingnya akan kita gelar 7 Januari nanti di Kantor Bupati Minsel,” ungkapnya saat diwawancarai Manado Post.

Ditambahkannya, diawal produksi pihaknya masih menyuplai Cap Tikus dari satu penampung. “Ini masih produksi awal, jadi masih menyuplai dari satu penampung. Nanti pasti akan bertambah penyuplai dan kita prioritaskan pertama untuk petani di Minsel. Ketika petani Minsel sudah makin baik, baru kita lemparkan penghasil Cap Tikus di daerah lain tapi masih di Sulut,” tambahnya.

Untuk produksi awal, PT JJM mengaku menargetkan 50 ribu botol hingga akhir tahun. “Target kami 50 ribu botol hingga akhir tahun. Saat ini posisinya kita mau angkat valuenya Cap Tikus ini supaya jadi premium untuk bisa dibawa naik pesawat karena sudah legal, sudah berizin edar, berpita cukai. Dan rencananya juga nanti akan ada 10 varian rasa tapi kita simpan untuk ke depannya,” pungkasnya.

Perjuangan melegalkan Cap Tikus juga turut didukung penuh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulut. Hal itu disampaikan Ketua DPP Apindo Sulut Nicho Lieke. Menurutnya, perjuangan untuk Cap Tikus menjadi produk yang aman dikonsumsi, legal dan berkualitas internasional memakan waktu lebih dari dua tahun. “Kami terus berupaya mendapatkan kelegalannya dan memang butuh perjuangan. Mulai dari rekomendasi pemerintah kabupaten, provinsi, persetujuan direktur dan dirjen Kementerian Perindustrian. Sampai persetujuan dua menteri juga. Dan itu dapat terselesaikan dalam waktu dua tahun,” ujarnya.

Dia menambahkan, Apindo sendiri mendukung penuh kelegalan Cap Tikus, karena ada beberapa faktor penting. “Selain itu adalah produk khas kita masyarakat Sulut, kita juga ingin petani Cap Tikus sejahtera. Ada lebih dari 200 ribu orang mencari nafkah dari pohon seho. Dan juga, kita tidak mau kalau ciri khas budaya kita diklaim oleh bangsa lain. Pasalnya, beberapa budaya di Indonesia sudah banyak yang dipatenkan negara lain. Kalau kita tidak langsung bergerak sekarang, maka Cap Tikus akan diambil negara lain,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu (CEP), salah satu yang berperan penting dalam penggagasan Cap Tikus 1978 itu mengaku, ada suka duka di balik peluncuran minuman berkadar alkohol 45 persen itu. “Susahnya banyak. Mulai dari lobi pengusaha sampai memperoleh izin dari BPOM. Tapi saya bersyukur ada pengusaha yang mau membantu kami dalam memproduksi Cap Tikus. Sebelumnya selalu ada halangan-halangan, namun akhirnya ini sudah terealisasi," ujarnya.

Bupati CEP optimis, Cap Tikus yang telah legal ini mampu mengangkat kesejahteraan para petani. “Sejak jauh hari saya selalu optimistis. Ini semua bagi saya untuk kesejahteraan petani. Akan menjadi satu kebanggaan bagi saya dan semua petani jika produksi tangan mereka, Cap Tikus ini dapat dipasarkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya.

Allan Kaawoan, salah satu warga Manado, mengaku senang bisa membeli Cap Tikus secara terang-terangan dan tidak perlu takut lagi karena sudah legal. “Saya sangat senang dan menyambut baik terobosan ini. Saya waktu dengar teman sampaikan bahwa sudah di jual di Bandara Sam Ratulangi, saya langsung ke sini untuk cek langsung. Dan saya beli dua botol,” ujarnya saat diwawancarai di Bandara Sam Ratulangi.

Dia mengaku sudah merasakan lewat tester dan memang rasa Cap Tikus masih alami. “Saya sudah coba. Memang original, bahkan rasanya lebih wah lagi. Baunya Cap Tikus sudah tidak terlalu menyengat juga. Kalau dari segi rasa pokoknya enak. Dan ini harus jadi ole-ole kalau ke Manado,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, tiga bulan terakhir, petugas berhasil mengamankan ribuan liter miras ilegal. Bidang Pengawasan Kantor Wilayah Bea Cukai Sulbagtara, awal Desember berhasil mengamankan 1.887 botol minuman mengandung etil alkohol (MMEA) atau miras impor ilegal. Kemudian, Lantamal VIII melakukan pemusnahan miras jenis Cap Tikus tanpa izin hasil operasi 2nd Fleet Quick Response Lantamal VIII periode Oktober sampai Desember 2018. Ada 1.520 liter yang dimusnahkan.

Satresnarkoba Polres Minahasa, 3 Desember juga mengamankan 550 liter Cap Tikus ilegal. Saat 2 Desember Polsek Wanea juga menyita 534 liter minuman cap tikus tak berizin. Dari wilayah perbatasan, Satresnarkoba Polres Talaud mengamankan 1.440 liter minuman jenis Cap Tikus tanpa dokumen resmi. Tak mau kalah, bulan ini Polsek Dumoga Utara juga menemukan barang bukti 1.100 liter minuman keras jenis Cap Tikus ilegal di ruas Jalan Desa Mopuya yang diangkut menggunakan mobil.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Ibrahim Tompo, tak menampik jika miras menjadi salah satu pemicu banyaknya kriminalitas di Sulut. Kata mantan Wadireskrimsus Polda Maluku Utara ini, aksi kriminal banyak terjadi, karena pelakunya dipengaruhi miras. Menurutnya, jika seseorang telah dipengaruhi miras, akan memunculkan sikap berani untuk melakukan kejahatan yang berujung pada aksi kekerasan, bahkan menghilangkan nyawa. “Untuk itu, kami imbau agar masyarakat menjauhi minuman beralkohol. Selain menyebabkan timbulnya gangguan kamtibmas, miras juga tidak baik bagi kesehatan,” pungkasnya.

Sementara itu, Cap Tikus juga dapat diolah menjadi Bioetanol atau Biofuel yang dikenal sebagai bahan bakar nabati ramah lingkungan. Bioetanol bisa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak. Dapat diolah juga menjadi ethanol industri, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi) atau sebagai bahan pendukung produksi makanan dan minuman. Sedangkan saguer —bahan mentah cap tikus— bisa dijadikan gula aren. Apalagi produksi gula aren masih kurang. Selain itu, saguer dapat dimanfaatkan menjadi gula dan difermentasikan menjadi cuka. (***)

Kirim Komentar