05 Des 2018 09:04

Dari Korban Perang Hingga jadi Pesepakbola Terbaik Dunia

MyPassion
Luka Modric (AP)

PARIS—Seperti yang sudah diprediksi, Luka Modric dipastikan meraih trofi Ballon d'Or 2018. Kesuksesan gelandang Real Madrid ini sekaligus mengakhiri dominasi Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi di penganugerahan trofi serupa sebelumnya.

Kesuksesan itu seakan semakin menegaskan bagaimana kemampuan dari pemain kelahiran 9 September 1985 tersebut di atas lapangan, sebuah talenta yang ia miliki dan ia tunjukkan sejak masih di pengungsian. Ya, Luka Modric memang korban perang yang terkenal dengan sebutan Croatian War of Independence, perang yang memaksanya harus mengungsi untuk menyelamatkan hidup. Bagaimana kisahnya mulai dari pengungsian hingga meraih Ballon d'Or?

Dilansir dari Bola.net, lahir di Zadar pada 9 September 1985, Modric tidak bisa menikmati kenyamanan dan tenangnya hidup pada masa itu. Ketika itu, Kroasia masih menjadi bagian dari Yugoslavia dan sangat rawan akan konflik. Di masa kecilnya, Modric lebih sering hidup bersama kakeknya.

Luka Modric Sr karena kedua orang tuanya menghabiskan waktu yang begitu banyak dengan bekerja di sebuah pabrik rajut di dekat tempat tinggalnya, di daerah pegunungan Velebit. Hidup bersama Luka Sr ini juga yang membuatnya begitu mencintai sepak bola pada akhirnya.

Setiap pagi Luka Sr membawa ternaknya ke sebuah bukit. Sementara Luka Modric yang berusia enam tahun, bermain bola bersama kawan-kawannya di sekitar rumah. Namun duka datang pada 9 Desember 1991 ketika kakeknya ditangkap dan dibunuh secara kejam oleh tentara Yugoslavia. Saat itu, tensi perang memang mencapai puncaknya setelah Kroasia memutuskan untuk memerdekakan diri dari Yugoslavia.

Kakek Modric ditangkap ketika sedang membawa ternaknya ke perbukitan. Ia bersama lima warga desa Modrici ditangkap oleh tentara Serbia berseragam Yugoslavia dan membunuhnya secara sadis. Pembunuhan ini juga banyak disebut sebagai salah satu dari pembuka konflik di negara Balkan.

Setelah itu, tentara Serbia menyerbu tempat tinggal Modric dan membakar seluruh rumah penduduk. Perang itu pun membuat Modric sekeluarga harus pergi dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hidup di pengungsian yang jauh dari tempat tinggalnya membuat Luka Modric juga harus menyesuaikan diri.

Tinggal di sebuah rumah susun di daerah Kolovare, Modric kerap menghabiskan waktunya dengan bermain bola di tempat parkir. Di tempat pengungsian ini pula Modric bertemu dengan Marko Ostrij, yang kelak juga akan menjadi pesepakbola profesional.

Karena seringnya bermain sepak bola dengan begitu bersemangat, suatu waktu salah satu pekerja yang juga tinggal di rumah susun itu menghubungi direktur NZ Zadar, Josip Bajlo. Dalam percakapannya, si pekerja tersebut meminta Josip untuk melihat langsung permainan Modric yang saat itu berusia tujuh tahun.

Setelah melihat langsung, Josip pun tertarik dengan talenta Modric dan menawarkannya untuk segera daftar di sekolah dasar dan akademi Zadar. Sempat kesulitan karena kondisi ekonomi keluarga yang buruk, Modric pada akhirnya bisa bersekolah dan masuk akademi olahraga setelah dibantu oleh pamannya.

"Saya masih ingat bagaimana orang bercerita tentang bocah kecil hiperaktif yang setiap pagi menendang bola ke tembok parkir hotel pengungsi, bahkan ia tidur dengan bola itu," kata Bajlo kepada AFP. "Saya tidak perlu berpikir lama untuk mengontrak dan melatihnya bersama tim bocah NK Zadar. Sejak hari pertama di pemusatan latihan, Modric menjadi pemain menonjol."

Setelah bertahun-tahun bersama NZ Zadar, Modric yang saat itu berusia 12 tahun pun sempat mencuri perhatian Hajduk Split, yang merupakan klub idolanya. Namun pada akhirnya Split batal untuk mengontraknya dengan alasan kondisi fisik dari Modric tak meyakinkan.

Mendapatkan penolakan dari klub idolanya itu membuat Modric sempat sangat kecewa dan patah semangat dan kehilangan antusiasme bermain sepakbola untuk waktu yang lama. Namun setelah vakum cukup lama, kepala akademi NZ Zadar, Tomislav Basic menemui dirinya dan memberikan semangat kepada Modric serta membantu mengembalikan kepercayaan dirinya. Pada usia 15 tahun, Modric kemudian bergabung dengan Dinamo Zagreb.

12
Kirim Komentar