21 Nov 2018 10:57
SMST ke-31 GMIM

GMIM Besar dan Kaya, tapi Kecil dan Masih Miskin

MyPassion
Pnt Marlon Sumaraw (Istimewa)

MANADOPOSTONLINE.COM - GMIM besar dan kaya. Penjelasan di Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-31 Likupang, 12-15 November pekan lalu, sekarang mengoleksi 978 jemaat dan 2300-an pendeta. Belum lagi aset tanah, TK/SD GMIM, SMP/SMA Kristen, UKIT dan rumah-rumah sakit. 

Tapi alarm terus berdering. Jika masih salah urus, terus menabung masalah, apalagi terjadi pembiaran, GMIM bisa mengecil hingga miskin dan tinggal kenangan. Sudah ada peringatan. UKIT masih bermasalah. Dan pernah karyawan rumah sakit GMIM tidak terima gaji. 

Bagaimana solusinya? “Pisahkan pelayanan dan bisnis.” Kata teman saya sewaktu berdiskusi bertiga di halaman GMIM Sentrum Likupang di sela-sela SMST ke-31. (By the way, pemberian diri teman ini di GMIM luar biasa. Saya lihat laporan keuangan, dia telah menyumbang dana pribadi sebesar Rp1,8 M untuk pembangunan Mision Center GMIM.)

Kembali ke laptop. Banyak usulan di jemaat, pendeta fokus melayani. Mereka sekolahnya berkhotbah di mimbar, bukan yang lain. Gembalakan saja domba-domba. Bila persentase keaktifan jemaat meningkat, pasti berbanding lurus kolekte meroket. 

Sedangkan pendidikan dan kesehatan GMIM, perbanyak yayasan-yayasan untuk mengelola. Mirip tetangga. Pendidikan dan kesehatan mereka maju. Banyak yayasannya. Dan yayasan-yayasan itu rutin memberikan sentralisasi ke sinode, eh keuskupan. 

Harus diakui. Denominasi lain punya sekolah, kampus dan rumah sakit yang bagus di bumi indah Nyiur Melambai ini. Silahkan visit ke tempat-tempat itu. Dan lihatlah. Mayoritas siswa, mahasiswa dan pasien “ber-ktp-kan GMIM. Di semua tempat. 

Nah harus diakui. GMIM masih rapor merah urusan pendidikan dan kesehatan. Wajar jemaat atau anak-anak kita berlabuh ke milik tetangga. 

Khusus kesehatan, sebetulnya mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan seiring beberapa rumah sakit mulai membangun. Tapi ada peserta yang protes yayasan berutang.

Pemrotes seperti ini masuk kategori orang awam di dunia bisnis. Tapi diperlukan tukang protes seperti ini sebagai pengawas dan pelecut semangat. Sebab di mana-mana, semua perusahaan besar melakukan pengembangan alias berinvestasi, mengajukan permohonan pinjaman bank.

Ibarat menambah kamar usaha kos-kosan. Pinjam bank 100 juta, bangun 15 kamar baru, dapat omzet Rp15 juta, kewajiban angsuran Rp10 juta. Masih untung Rp5 juta. 

Pendek kata, bila aset-aset GMIM dikelola profesional modern, bakal memberi omzet miliaran. Gaji pendeta bisa bersumber dari pendapatan pengelolaan aset. Tidak lagi hanya menggantungkan nasib dari sentralisasi jemaat. Bahkan, kesejahteraan pendeta akan semakin baik.

Loh hati ini mendambakan taman persekolahan dan kampus GMIM yang unggul. Laboratorium atau pabrik menelorkan tunas-tunas bangsa dan gereja. Andai terwujud, bisa diprogramkan anak sekolah minggu (ASM), Remaja dan Pemuda teladan yang berprestasi dan dari golongan susah, dapat kemudahan jika GMIM sudah memiliki sekolah berstandar international. Ada misi mulia. 

Lebih dari itu GMIM bakal suistainability. Anak-anak kita sebagai aset gereja, tidak salah doktrin di sekolah. Malah lebih banyak waktu mendidik mereka.

Menanamkan gemar baca Alkitab, cinta gereja dan rajin beribadah. Apalagi tsunami teknologi sekarang ini super berbahaya bagi anak-anak.  Sungguh, jauhkan GMIM menjadi seperti gereja-gereja di Eropa. Habis umat. Gereja banyak disewakan. Tidak sedikit gereja beralihfungsi menjadi pub.

Yang pasti, GMIM sudah punya rencana strategis. Saya sih belum membaca. Mudah-mudahan ada SWOT-nya, sebagai metode perencanaan strategis.

Secara internal, GMIM punya kekuatan (strengths). Tapi diakui ada kelemahan (weaknesses). Nah, bagaimana memanfaatkan kekuatan GMIM dengan membenahi kelemahan, untuk merebut peluang (opportunities) serta tangguh terhadap ancaman (threats). 

Hidup ini hanya sementara. Mari kita wariskan fondasi yang kokoh. GMIM yang tangguh. 

I Jajat U Santi. 

Tuhan Yesus memberkati. (selesai)

Kirim Komentar