18 Nov 2018 20:52

GMIM Seabad vs Bicara Tiga Menit

MyPassion
Pnt Marlon Sumaraw

MANADOPOSTONLINE.COM - Saya baru pertama kali ikut Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) GMIM.

Jujur, awalnya saya nervous. Sebagai orang yang baru pertama kali jadi pelsus di medan pelayanan GMIM, berkhotbah memimpin ibadah kolom saja sudah keringatan.

Malah H-1 sudah sulit tidur dan harus bikin persiapan berjam-jam.

Apalagi SMST ke-31 pada 12-15 November di Likupang I itu sudah level sinode. 

Di benak saya, para hamba Tuhan yang datang dari seluruh wilayah pelayanan GMIM, akan menyampaikan suara kenabian.

Membayangkan wakil-wakil Allah di dunia itu berbicara lemah lembut, penuh kasih mesra dan rendah hati. 

Tibalah harinya. Saya ikut ibadah pembukaan. Apresiasi harus dikalungkan buat Ketua Panitia Pnt Netty Pantouw.

Dia mengemas acaranya sangat baik. Mungkin hampir semua kekayaan Likupang diatraksikan. Cakalele, Masamper, Maengket, Orkes, hingga musik bambu dan biak diperagagakan.

Pemeraganya, anak sekolah minggu hingga lanjut usia. 

Ketua BPMS GMIM Pdt DR Hein Arina menjadi khadim. Khotbahnya luar biasa. Saya lihat, sempat sejenak dia berpikir. Merenung, setengah tertunduk dan menutup mata. Kemudian dia mengangkat kepala, menerawang jauh dan dengan gemetar berbicara.

“Peserta diharapkan bukan saja memikirkan GMIM di tiga tahun pelayanan ke depan. Tapi harus memikirkan 50 tahun sampai satu abad ke depan.”

Saya menangkap ada keinginan luhur serta tekad komitmen mengantar GMIM menjadi kuat dan hebat. Jemaatnya yang cinta gereja, rajin baca Alkitab dan senang ibadah. 

Memang. Tantangan gereja ke depan semakin hebat. Di Eropa, banyak gereja tutup akibat ketiadaan jemaat. 
Jika GMIM tidak mengantisipasi sejak anak usia dini, ini lonceng kedua. Pelayan khusus sekarang ini harus mewariskan GMIM yang tangguh. Mesti merumuskan strategi, menemukan resep dan jurus, mencari kiat-kiat. 

Sayang sekali. Saya tidak melihat. BPMS GMIM selaku pimpinan sidang justru ingin cepat-cepat SMST tersebut selesai. Penanggap hanya diberi waktu tiga menit berbicara. Saya maklum. Sebab banyak penanggap lebih banyak curhat daripada memberikan ide-ide. 

Pdt AO Supit berkata: Lebih baik cambuk kasih yang menghidupkan daripada belaian kasih yang mematikan. Diapun menyarankan. Ke depan, sebelum SMST digelar harus diawali dulu dengan pra sidang. Disiapkan detil materi semua seksi. (bersambung)

Kirim Komentar