08 Nov 2018 13:45
Di Balik Proses Evakuasi Jatuhnya Lion Air

12 Jam di Laut Demi 188 Nyawa

MyPassion
Penyelam Kopaska TNI AL saat berada di tengah laut dalam misi kemanusiaan mencari para korban dan puing Lion Air JT-610.(Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Proses pencarian korban dan puing pesawat Lion Air JT-610 melibatkan banyak tim pencari dan penyelamat alias SAR. Ada berbagai satuan, termasuk dari TNI Angkatan Laut (AL). TNI matra laut itu mengerahkan personel terbaik dari jajaran Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Yesika Dinta, Karawang

 

MANADOPOSTONLINE.COM---Pagi itu hujan baru saja reda. Deru langkah pasukan Kopaska begitu ramai di bibir pantai Tanjung Pakis. Sejak tiga hari belakangan, pantai itu mendadak terkenal setelah tragedi jatuhnya Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang, pada Senin (29/10) pagi.

Rabu (31/10), pemberangkatan perahu sea rider milik Kopaska Koarmada 1 ditunda lantaran melihat cuaca yang kurang bersahabat. Hampir molor dua jam dari perjanjian awal. Pukul 06.45 baru dipastikan tim khusus itu bisa terjun ke laut.

Beberapa pasukan terlihat berlarian mengejar sea rider yang semakin menjauh dari dermaga Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat. Ya, lokasi tersebut adalah titik terdekat insiden jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang. Anggota Kopaska yang kompak mengenakan seragam berwarna biru laut masih begitu memancarkan semangatnya. Meski kurang tidur karena hujan yang turun semalaman, mereka terlihat tak gentar untuk menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Pasukan sea rider regu 4 itu dipimpin Letkol Laut Dahlan.

Di kapal itu juga terdapat enam orang wartawan dari berbagai media, termasuk dari JawaPos.com. Memang sejak hari pertama kejadian, Kopaska memersilakan para jurnalis untuk terlibat dalam proses pencarian korban Lion Air.

"Ini mau ikut nyelam?" ungkap Dahlan yang bertanya kepada enam jurnalis di atas perahu sea rider. Dari enam orang itu, JawaPos.com satu-satunya jurnalis perempuan. Tak berselang berapa lama perahu sea rider bernomor seri 18 tersebut merapat ke KRI Banda Aceh. Sinyal handphone semakin redup hingga tidak ada sama sekali. “Kita isi bahan bakar, ada yang mau ke toilet?” ujar Dahlan menawarkan kepada anggotanya, termasuk ke JawaPos.com yang kemudian mengiyakan.

Jangan membayangkan toilet di tengah laut seperti toilet yang mudah diakses di hotel, rumah, atau kantor. Toilet di KRI Banda Aceh berada di bagian deck atas. Setiap orang di atas kapal itu harus memanjat anak tangga yang hanya terbuat dari papan kayu dan tali tambang. Ketika angin laut menerpa, tangga pun ikut bergoyang. Bila pegangan tidak kuat, selesai sudah. Bisa jatuh.

Lantas anggota di perahu sea rider melanjutkan misinya dengan mengitari perairan Tanjung Pakis. Selama dua jam di tengah laut, tim penyelam dari Kopaska itu masih belum mendapat instruksi pimpinnya untuk menyelam. Instruksi menyelam itu hanya diperintahkan oleh Komandan Satuan (Dansat) Kopaska Koarmada 1 Kolonel Laut Johan Wahyudi. Agar tetap aman di tengah laut, perahu sea rider harus menuruti arah angin yang cukup kencang, berguncang ke kiri dan ke kanan. Ditambah dengan terik matahari semakin panas. “Bawa sunblock, mbak?” celetuk salah satu penyelam. Ternyata para penyelam itu memang membutuhkan sunblock. Buktinya satu botol sunblock jadi barang rebutan bagi 15 laki-laki di atas perahu itu.

Lantas tim di sea rider regu 4 diminta merapat ke KRI Rigel. Di sana tim penyelam diminta untuk melengkapi diri dengan peralatan menyelam. Seperti masker, rompi apung, sabuk pemberat, sarung tangan, tas selam serta tabung scuba, pengukur kedalaman, kompas, jam selam, dan tidak lupa sepatu kataknya. Keduanya dibekali kamera Go-Pro lengkap dibalut sarung under waternya.

Kemudian personel itu diperintahkan menyelam. Anggota bernama Thamrin dan Hiu adalah dua penyelam pertama yang masuk ke dasar laut. Pada saat itu, Dahlan meminta kedua penyelamnya melawan arus air hingga kedalaman 30-35 meter. Tim regu juga turut mencatat, saat itu, sea rider 18 berada di radius 9 mil atau 18,44 kilometer dari Pantai Tanjung Pakis. “Randu! (sandi di kalangan TNI AL untuk kata ricieved and understood),” balasnya kepada Dansat melalui sinyal radio yang diikat di tali tasnya.

Saat itu Dahlan memperkirakan, serpihan pesawat berada tepat di bawah KRI Rigel, kapal Bantu Hidro-Oseanografi terbaru TNI-AL.

Menunggu selama 10-30 menit, penyelam satu persatu muncul ke permukaan. Kegiatan penyelaman untuk mengevakuasi pesawat bermuatan 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 pilot dan 5 kru kabin itu terus dilangsungkan bergantian hingga empat anggota lainnya. “Sepi saja di bawah, saya sudah berusaha membelalakkan mata ke sana ke mari mencari tanda-tanda, tapi tidak ada,” tutur Thamrin, penyelam yang baru saja kembali ke permukaan.

Menurut Thamrin, cuaca tidak menjadi kendala dalam proses pencarian di dasar laut. jarak pandang juga bertambah hingga 3 meter. “Padahal kemarin (Selasa 30 Oktober 2018), kami nemu banyak,” lanjutnya yang sudah tergabung dalam tim penyelamatan sejak hari pertama jatuhnya Lion Air JT-610.

Waktu terus berlanjut. Rabu sore itu tim SAR gabungan yang sudah berputar-putar di sekitaran titik yang diyakini kuat adalah lokasi jatuhnya pesawat boeing 737 max itu akhirnya berkumpul. Sekitar pukul 16.00, mereka berpindah dari KRI Ngurah Rai dengan sea rider Basarnas menuju Kapal Baruna Jaya I.

Dari atas kapal itu dioperasikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu, Remote Operated Vehicle (ROV) pelacak sinyal kotak hitam atau black box diturunkan. Alat canggih seperti miniatur kapal selam berwarna kuning itu beberapa kali dipindahkan, maju, mundur, hingga meyakini satu titik di radius 100 meter dari sebelumnya.

Sembilan sea rider Kopaska pun ikut merapat. Setelah menghitung ulang, hanya tersisa lima pasang penyelam yang siap terjun ke dasar laut. Mereka satu per satu menjatuhkan diri ke air. Namun upaya tim SAR gabungan itu belum menemukan black box ataupun badan pesawat. Dalam operasi itu, awak media juga berkesempatan membuntuti Kapal LCU KRI Banda Aceh yang membawa puluhan penyelam TNI-AL. Jelang petang, temuan yang diangkat cukup banyak, terlihat ada pelampung, barang-barang, hingga identitas korban pesawat naas itu.

Sekitar pukul 17.30, sea rider Kopaska 18 merapat menjemput. “Kita lanjutkan besok, sudah yakin koordinatnya di sini, semangat besok ketemu black box dan bangkai pesawat,” tegas Komandan Dahlan menyemangati anak buahnya.

Dengan gagahnya, dia pun mengendalikan sea rider berputar untuk kembali ke dermaga Pantai Tanjung Pakis. Meski langit sudah gelap, mata anggota Kopaska regu 4 sangat awas memperhatikan kondisi laut dan mencari arah pulang. Pasalnya perahu melaju dengan kecepatan 40 knots. Akhirnya tim itu tiba di daratan pukul 18.45 WIB.(***)

Kirim Komentar