16 Okt 2018 07:47

Ini Seruan Ketua MUI Sulut

MyPassion
KH Abdul Wahab Abdul Gafur

MANADO—Sulawesi Utara dikenal dengan masyarakat yang toleran. Slogan ‘Torang Samua Basudara’ merupakan pegangan masyarakat untuk hidup berdampingan walaupun berbeda suku, agama dan ras. Hal tersebut diungkapkan agama di daerah ini.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Utara KH Abdul Wahab Abdul Gafur mengakui, sudah menjadi ciri khas masyarakat Nyiur Melambai tentang hidup toleran.

“Alhamdulillah, kedamaian yang terjadi di Sulut sudah menjadi pegangan masyarakatnya. Walaupun berbeda-beda keyakinan, suku, dan ras tetap saja masih merasakan hidup rukun antara satu dengan lainnya,” ujarnya, saat diwawancarai kemarin.

Menurutnya, semua yang ada tengah-tengah perbedaan menjadi sebuah acuan hidup rukun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Saling menghormati dan menghargai harus dijunjung tinggi demi masyarakat yang sejahtera. Apapun perbedaan kita, mari kita jadikan kelebihan kita sebagai masyarakat Sulut,” katanya.

Dia menambahkan, semua agama mengajarkan tentang hidup rukun dan kebaikan. “Dari semua agama yang ada di Indonesia, semua mengajarkan tentang hidup rukun dan kebaikan. Kebaikan yang kita tunjukkan merupakan wujud hidup rukun dan damai,” tandas KH Abdul Gafur.

Sementara itu, penolakan semalam bukan terhadap agama. Selama ini kehidupan beragama di Sulut sangat aman. Diketahui, Senin (15/10) kemarin, pantauan Manado Post. Ormas adat menolak kedatangan Habib Muhammad Bahar Bin Albin Smith dan Habib Muhammad Hanif Bin Abdulrahman Alatthos di Sulut. Mereka dianggap memiliki paham radikalisme. Jangan sampai peristiwa tersebut dimanfaatkan atau ditunggangi oknum tidak bertanggung jawab.(gnr)

Kirim Komentar