15 Okt 2018 13:38

Inspirasi dari Yang Berjaya di Asian Para Games, Tidur pun Mimpi Main Catur

MyPassion
PENGHARGAAN: Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan para atlet Asian Para Games 2018, dI Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (13/10). Para atlet Asian Para Games 2018 menerima besaran bonus sama seperti Asian Games. (Biro Pers Setpres)

Keberhasilan Edy Suryanto jadi penerima bonus terbanyak merupakan buah kemauan keras berlatih catur sejak usia belasan tahun. Termasuk melawan mereka yang berpenglihatan normal.

FOLLY AKBAR, Bogor

KEEMPAT medali kebanggaan itu dikalungkan di leher Edy Suryanto. Itu membuat keberadaannya cukup mencolok jika dibandingkan dengan para atlet lain yang kemarin diterima Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor. "Saya sebetulnya target empat emas. Tapi, satu luntur jadi perunggu," ujarnya, lantas terbahak.

Kalau seharian kemarin Edy terlihat sangat gembira, itu wajar. Sebab, bersama dengan para duta olahraga Indonesia lain yang tampil di Asian Para Games (APG) 2018, dia mendapat ganjaran bonus.

Juga, Edy yang berkantong paling tebal. Itu tak lepas dari raihan pecatur tunanetra tersebut di APG 2018: tiga emas dan satu perunggu. Tiga medali emas diraih dari kelas catur cepat perorangan VI-B1, kelas catur klasik beregu VI-B1, dan kelas catur cepat beregu VI-B1. Atas prestasi itu, dia diganjar Rp 1,5 miliar untuk emas individu dan masing-masing Rp 750 juta untuk emas beregu.

Sementara itu, satu medali perunggu dia dapatkan di kelas catur klasik perorangan VI-B1. Atas prestasi di kelas tersebut, dia mendapat tambahan Rp 250 juta. Total, pria 60 tahun itu mengantongi bonus Rp 3,25 miliar. Pemerintah memberikan besaran bonus yang sama kepada para atlet Asian Games dan Asian Para Games. Peraih emas mendapat Rp 1,5 miliar, perak Rp 500 juta, dan perunggu Rp 250 juta. Sementara itu, atlet yang tidak mendapat medali tetap diberi bonus masing-masing Rp 20 juta.

Kesuksesan Edy merupakan buah perjuangan panjang. Muara atas keteguhannya untuk tidak menyerah terhadap kondisi fisik. Yang tentunya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Mempelajari catur tanpa indra penglihatan jelas membutuhkan usaha ekstra. Saat seorang pecatur tunanetra bermain, tangannyalah yang berfungsi untuk melihat. Karena itu, setiap sudut di papan catur harus tuntas diraba. Harus dipahami posisinya.

Bukan hanya itu. Setiap pergerakan pion catur yang dimainkan mesti diingat betul. Baik yang dia mainkan ataupun yang dimainkan lawan. Jika lupa dengan posisi dan pergerakannya, strategi bisa buyar. Kekalahan akan menghampiri. Edy yang mengalami kebutaan sejak berusia 6 tahun berkenalan dengan catur saat duduk di bangku SMP. Ketika usianya masih belasan tahun. Guru pertamanya adalah sesama kawan yang juga tunanetra.

Papan catur yang digunakan pun khusus. Berjenis braille. Ada lubang-lubang simbol di permukaannya. "Saya latihan di mana saja, di trotoar, di warung kopi. Pokoknya mana saja," imbuhnya. Lama-kelamaan, ayah dua anak itu kian menaruh hati pada permainan "lomba membunuh raja" tersebut. Intensitas bermainnya pun terus ditingkatkan. Kemampuannya bertambah. Buntutnya, kawan yang mengajari pun dapat dia imbangi. Bahkan kemudian dikalahkan.

Karena kian lama tidak ada lawan tanding di kalangan penyandang tunanetra di kampungnya di Solo, dia kerap bermain dengan kerabatnya yang mampu melihat. Meski terkesan tidak berimbang, itu tak menciutkan keinginan Edy untuk menguji kemampuan. "Dia nggak mau papan catur braille. Saya pakai catur yang tidak bisa diraba. Tapi, saya memberanikan diri, berani saja," tuturnya dengan antusias.

Tentu saja itu menyulitkan Edy. Namun, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemijat tersebut sesekali berhasil mengalahkan si lawan yang bisa melihat. Meski kemampuan bermain caturnya cukup menjanjikan, Edy tidak lantas menjadikan catur sebagai jalan hidup. Maklum, saat itu perlombaan-perlombaan juga belum menjanjikan penghasilan yang mamadai.

Bagi dia kala itu, bermain catur hanya digunakan untuk menyegarkan pikiran. Sekaligus menjadi wadah untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Nah, untuk menutupi kebutuhan hidupnya, Edy memilih untuk menjalani profesi tukang pijat. Profesi yang memang sangat identik dengan penyandang tunanetra. Dia lantas berkeliling dari rumah ke rumah. Mendatangi siapa pun yang membutuhkan jasanya.

Meski tidak bisa menjanjikan uang dalam jumlah besar, pekerjaan itu setidaknya bisa membantu keuangan keluarga yang juga disokong pekerjaan sang istri, Yuniarti, sebagai penjahit. Pekerjaan sebagai tukang pijat itu pun Edy lakoni sampai 2007 atau dua tahun setelah dirinya resmi terjun ke catur profesional. Ajang bergengsi pertama yang dia ikuti adalah ASEAN Para Games di Manila, Filipina, pada 2005.

Di ASEAN Para Games edisi ketiga tersebut, Edy berhasil merebut medali emas. Kesuksesan itu kemudian berlanjut di ajang ASEAN Para Games selanjutnya. Yakni, edisi 2007 di Thailand, 2009 di Laos, 2011 di Indonesia, 2013 di Myanmar, 2015 di Singapura, dan 2017 di Malaysia. Menurut perhitungannya, sudah ada 15 medali emas ASEAN Para Games yang berhasil dia raih. Sejak terjun ke kelas profesional, tidak ada hari tanpa bermain catur bagi Edy. "Latihan pikiran, selalu mikirin catur terus. Bahkan tidur pun mimpi main catur," tuturnya, lantas terkekeh.

Dengan rentetan medali yang kerap diraih, kehidupannya pun telah lama berubah. Mimpi Edy berikutnya adalah pergi ke Tanah Suci. Selain itu, dia berencana mengembangkan usaha sang istri di bidang konfeksi. "Jenis usaha istri saya menjahit dan jual baju. Terserah istri saya mau bagaimana," kata dia. Bagi dia, itu hadiah yang sangat pantas untuk sang istri yang telah demikian penuh kasih mendampingi. "Istri saya setia banget sama saya. Kemarin, pas saya dapat emas, dia nangis saking senengnya," katanya.(***)

Kirim Komentar