11 Okt 2018 13:09

Ternyata Penyebar Hoax Itu EQ Lemah

MyPassion
Hanna Monareh dan Valentino Lumowa

MANADO—Kemarin (10/10), dunia memperingati World Mental Health Day atau hari kesehatan jiwa sedunia. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan jiwa di seluruh dunia sekaligus menggerakkan dukungan akan kesehatan jiwa. Salah satu yang perlu diperhatikan saat ini masalah kesehatan jiwa, penyebar dan penikmat hoax.

Ketua Ikatan Psikologi Klinis Indonesia Hanna Monareh Mpsi menuturkan, dari segi psikologis, orang yang mudah terpengaruh dengan berita hoax adalah kategori lemah artinya gampang terpengaruh. Dia tidak bisa mengontrol dirinya dan tidak bisa mengambil keputusan apakah itu berita benar atau tidak.

"Secara psikologi, ketika orang mudah mempercayai berita hoax berarti memiliki kepribadian yang mudah terpengaruh dengan orang lain. Akhirnya sampai terpengaruh hingga menyebarkan berita hoax," ujarnya.

Menurutnya, orang yang mempunyai kegemaran terhadap berita hoax lemah EQ dan SQ. "Kecerdasan emosionalnya lemah atau kurang," katanya. Lanjutnya, seringkali orang yang menyebarkan atau membuat berita hoax karen ingin diperhatikan.

"Artinya juga merasa cemas akan rasa paniknya terhadap peristiwa besar yang akan terjadi atau isu-isu tidak masuk logika yang belum tentu benar. Intinya ketika orang melakukan sesuatu dalam bentuk apapun termasuk menyebarkan berita hoax berarti ada 'something' dalam kepribadiannya. Orang dewasa belum tentu kepribadiannya layaknya orang dewasa begitu juga dengan anak muda," urainya.

"Penyebar berita hoax adalah orang suka diperhatikan orang dan ingin mencari sensasi agar si orang ini dapat terkenal dan dikenal orang lain serta ingin mencari perhatian. Arti kata dia mengaktualisasi dirinya tapi tidak dengan posisi/cara yang benar. Akhirnya masyarakat yang menjadi korban berita hoax," jelasnya.

Ia menuturkan, ketika ingin membuat sesuatu yang rusuh karena itu menjadi kesenangan dalam kepribadiannya. "Kita tidak bisa mengatakan dia seorang yang mengalami gangguan jiwa, tidak. Karena untuk mendiagnosa orang yang sedang mengalami gangguan jiwa, kita harus melihat sudah berapa lama dia mengalami gangguan. Kemudian gejala apa yang timbul serta kepribadian apa yang tidak biasa ia tunjukan dan juga apakah ini secara intens dilakukan atau hanya jarang-jarang. Dari situ harus dilakukan pemeriksaan. Jangan menghakimi bahwa ia seorang yang mengalami gangguan jiwa," pungkasnya.

12
Kirim Komentar