11 Okt 2018 12:51
Pengamat Nilai Pemerintah Kurang Perhatian

Sulut Koleksi 4 Ribu Penyandang Disabilitas

MyPassion
Ilustrasi

MANADOPOSTONLINE.COM — Saat ini, Sulawesi Utara (Sulut) mengoleksi sekira 4 ribu penyandang disabilitas. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Elriko Wilar melalui Kepala Seksi Penyandang Disabilitas Dinas Sosial Daerah Sulut Daysi Tambun, Rabu (10/10) kemarin.

"Ini yang telah kita data untuk 15 kabupaten/kota se-Sulut. Cara kita untuk mendata mereka ini dengan turun langsung ke lapangan. Ada juga, dari laporan masyarakat serta tim yang memang berada di wilayah tersebut," tuturnya.

Berdasrkan wilayah, penyandang disabilitas paling banyak di Bolaang Mongondow Raya (BMR). Sedangkan untuk bantuan masih terbatas. Di APBD hanya diberikan untuk 50 orang serta beberapa panti disabilitas sekali dalam setahun. Itu pun dalam bentuk bantuan makanan pokok.

"Namun untuk bantuan di luar APBD ada dari Kementerian Sosial. Itu macam-macam. Mulai dari tongkat, kursi roda serta uang," ungkapnya.

Bantuan juga, menurutnya, diprioritaskan untuk penyandang disabilitas yang sangat membutuhkan atau tidak bisa dilatih. Dia menjelaskan, tim pendamping disabilitas yang ditempatkan di kabupaten/kota memiliki tugas memberikan pelatihan.

"Para penyandang disabilitas ini kan rata-rata dari keluarga tidak mampu. Dan rata-rata mereka ini juga tidak masuk dalam daftar Kartu Keluarga (KK). Karena itu, tim pendamping yang kita tempatkan, memiliki tugas mendaftarkan nama mereka di KK serta melatih mereka. Namun kalau yang tidak bisa dilatih itu kita prioritaskan untuk bantuan," imbuhnya.

Beberapa daerah juga, menurutnya, menyediakan bantuan lewat APBD untuk penyandang disabilitas. Seperti Talaud dan Sangihe cukup besar. “Namun itu tidak setiap tahunnya besar. Seperti tahun ini sudah turun. Sekarang, kita menyasar Sangihe. Karena APBD untuk mereka sudah sedikit. Dan itu kita gilir untuk 15 kabupaten/kota," urainya.

Terpisah, pengamat sosial Stevie Harilama menilai, perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas masih kurang. Itu menurutnya, terlihat dari tidak berkembangnya penyandang disabilitas.

"Kan kalau pemerintah memberi perhatian lewat pelatihan maka mereka ini akan berkembang dan bekerja. Toh kenapa di negara luar, mereka ini dipekerjakan. Sedangkan kita hanya memberikan belas kasihan? Itu karena mereka ini tidak dikembangkan. Walaupun mereka ini tidak diberikan bantuan keuangan, jika mereka memiliki peluang bersaing dengan masyarakat umumnya, maka itu baru dikatakan mereka merdeka," jelasnya. (tr-02/can)

Kirim Komentar