11 Okt 2018 11:31

BBM Naik, Premium Stabil

MyPassion

MANADO—Sejak kemarin (10/10), harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi Pertamax cs mengalami kenaikan. Kenaikan pun bervariasi. Untuk wilayah Sulut, Pertamina Branch Marketing Manado merilis harga Pertalite tetap Rp 8 ribu per liter. Sedangkan harga Pertamax naik dari Rp 9.700 menjadi Rp 10.600 (selengkapnya lihat grafis). Sedangkan untuk harga premium tidak jadi mengalami perubahan.

 

Kenaikan harga BBM ini, menurut ekonom Sulut Jacky Sumarauw, merupakan langkah yang tepat oleh pemerintah. “Wajar bila ini (BBM, Red) naik. Malah sudah terlambat,” kata dia.

Seharusnya lanjut Sumarauw, setiap hari perlu ada penyerataan harga BBM oleh pemerintah. “Di luar negeri kan begitu, disesuaikan dengan harga minyak dunia, kalau dollar naik kan kemungkinan besar harga minyak dunia naik, harga minyak dunia kan fluktuatif, jadi menurut saya sangat wajar,” imbuhnya.

Di Indonesia, menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini, harga BBM tetap karena adanya subsidi dari pemerintah. “Jadi kalau harganya minyak dunia dan dollar naik namun harga minyak kita tetap artinya subsidi yang bertambah,” kata dia.

Ia berpendapat, harusnya bila pemerintah memang bertekad menaikkan harga BBM non subsidi, maka jenis Pertalite juga mesti naik. “Karena Pertalite kan katanya bukan disubsidi, jadi harusnya cuman Premium dan Solar yang tetap,” ujar Sumarauw.

Dia pun tak memungkiri pengaruh pergerakan harga BBM terhadap sektor lainnya. “Kalau beberapa sektor kan misalnya jasa sebenarnya tidak berpengaruh, akan sangat berpengaruh kalau Solar dan Premium naik,” imbuhnya.

Menurutnya, BBM yang disubsidi tidak ada masalah bila naik karena hal itu adalah tindakan rasional. “Akan menjadi tidak rasional apabila kenaikkan itu dipolitisasi,” pungkas Sumarauw.

Senada, ekonom lainnya Agus Paputra menilai, kenaikkan harga Pertamax cs adalah karena menguatnya dollar. “Pertamax itu oktannya tinggi, jadi BBM-nya dan zat adiktifnya juga diimpor,” jelasnya.

Dia melanjutkan, Pertalite juga memiliki biaya impor yang tinggi walau tidak sebesar Pertamax. “Pertamina kelihatannya melakukan subsidi silang di mana mereka menaikan harga Pertamax lebih tinggi dari seharusnya dan menahan harga Pertalite,” kata Ketua Jurusan Magister Program Studi Ilmu Ekonomi Unsrat ini.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM non subsidi ini juga menuai tanggapan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Ketua YLKI Sulut Aldy Lumingkewas mengatakan, kenaikan harga BBM bisa mempengaruhi harga barang-barang. “Kenaikan harga BBM ini secara otomatis akan memicu kenaikan harga barang yang lain, pemerintah harus membantu dengan subsidi,” kata dia.

Dirinya pun meminta pemerintah baik pusat dan daerah harus bisa mengendalikan harga barang yang ada. “Jangan sampai ada lonjakan yang terjadi di luar normalnya. Apalagi dengan adanya kenaikan BBM,” pinta Lumingkewas.

Sementara, Sales Executive Retail BBM PT Pertamina Branch Marketing Manado Muhammad Faruq menjelaskan, kenaikan harga BBM bervariasi setiap daerah. “Pertalite tidak naik. Yang naik hanya Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan solar non subsidi,” beber Faruq.

Sedangkan untuk Premium atau BBM bersubsidi, lanjutnya, sempat direncanakan bakal dinaikkan di beberapa wilayah. “Kemarin sempat ada rencana kenaikan di beberapa wilayah namun akhirnya ditunda. Namun, rencana kenaikan yang akhirnya batal ini tidak berlaku di Sulut. Artinya walaupun BBM jenis premium naik di beberap wilayah namun di Sulut tidak,” pungkas Faruq.

12
Kirim Komentar