09 Okt 2018 15:42

Anak Rizieq Shihab dan 200 WNI Tertahan

MyPassion
Ilustrasi Kemenlu. (CNNIndonesia/Riva Dessthania Suastha)

MANADOPOSTONLINE.COM — Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman, Izzudin Mufian Munawwar mengatakan lebih dari 200 WNI tertahan di perbatasan Oman-Yaman, sejak tiga pekan silam, akibat tak mendapat informasi yang cukup terkait pembatasan kunjungan ke Yaman dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Uang sogokan pun diduga terpaksa dikeluarkan agar bisa masuk Yaman. Diketahui, Kesultanan Oman melarang warga negara asing masuk ke Yaman melalui wilayah perbatasan Oman-Yaman, sejak Mei, karena konflik politik di negara itu.

“Tiga pekan ini para pelajar yang pulang dari Indonesia dan dari haji kesulitan untuk kembali lagi ke Yaman meskipun memegang visa, jelas Izzuddin dilansir CNNIndonesia, melalui pesan singkat, Senin (8/10). "Sama sekali tidak ada sosialisasi KBRI terhadap peraturan ini, jadi teman-teman sudah kadung berangkat di perbatasan tapi akhirnya terlunta-lunta disana," imbuhnya.

Izzuddin mengaku sebelumnya hanya menerima imbauan travel warning, tapi masih bisa keluar-masuk Yaman tanpa masalah. Sebelumnya diberitakan, putri pemimpin FPI Rizieq Shihab tertahan di Oman dan tak bisa masuk ke Yaman bersama ratusan WNI lainnya.

Pihak Kemenlu menyebut tertahannya ratusan WNI itu bukan karena kebijakan KBRI Oman. Hal itu merupakan kebijakan dari pemerintah Oman. Izzudin mengatakan lebih dari 50 orang sudah berhasil lolos ke Yaman. Namun, ia menyebut sisanya hidup terkatung-katung dengan biaya sendiri di hotel dan penginapan yang disebutnya mahal. Uang pelicin pun disebutnya terpaksa dikeluarkan oleh sejumlah orang. "Kami harus terlantar berjam-jam bahkan berhari-hari di perbatasan berharap kemurahan hati penjaga perbatasan untuk memperbolehkan kami masuk ke Yaman," ungkap dia. "Bahkan saya menerima beberapa laporan WNI dipaksa untuk membayar sekitar 250 dolar per orang agar bisa masuk. Sangat memalukan sekali," lanjutnya.

Izzudin mengatakan keluhan-keluhan ini sudah disampaikan kepada KBRI Yaman, namun tidak mendapatkan tanggapan berarti. Menurut dia, KBRI selalu berdalih bahwa tempat belajar mayoritas pelajar Indonesia tidak aman. "Tapi faktanya mereka bertahun-tahun tidak pernah melihat langsung kondisi daerah kami itu seperti apa, bahkan beberapa staf KBRI Yaman tidak pernah masuk Yaman kecuali di perbatasan saja," lanjut Izzudin. PPI Yaman berharap negara bisa memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalah ini dalam bentuk apapun. Apalagi menurut Izzuddin, hanya WNI saja yang terlantar sementara negara lain tidak. (gnr)

Kirim Komentar