29 Sep 2018 11:21

Sulut Koleksi Silvertip Hingga Hiu Langka

MyPassion
BANYAK DI SULUT: Hiu yang mirip jenis silvertrip shark yang didapat di perairan Minahasa. (Revliando Abdillah/MP)

PERBURUAN hiu di Sulawesi Utara (Sulut) diakui para ahli perikanan tak bisa dihindari lagi. Ketua Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan Unsrat Dr Ir Johnny Budiman MSi MSc mengatakan, selain sirip, daging hiu dikelola untuk dijadikan asap sehingga bisa dikonsumsi masyarakat lokal. Sedangkan kulitnya dijadikan sepatu dengan cara disamak.

"Dahulu, hati cucut botol dikelola menjadi minyak. Sekarang sirip hiu yang lebih dominan dicari para nelayan," bebernya. Dia menambahkan, sirip ikan hiu banyak di ekspor ke luar negeri yaitu di negara-negara Tiongkok. Lanjutnya, hiu memiliki kandungan protein tinggi. "Kandungan proteinnya sekitar 21g," katanya.

Di sisi lain, pakar perikanan Gustaf Mamangkey SPi MSc PhD mengatakan, perburuan hiu ini tak bisa sepenuhnya menyalakan nelayan. “Bisa jadi sosialisasi dari pemerintah maupun BPSPL belum mengena atau tak dipahami. Pemerintah harus lebih intens melakukan sosialisasi, terutama penegakan hukum wajib dipertegas," harapnya.

Dia menambahkan, hiu harusnya dilindungi. “Karena rantai makanan di dalam laut jangan sampai putus hanya karena mencari keuntungan dan tidak melihat ke masa depan,” tandasnya.

Kemudian menurut dosen Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Unsrat Ir Ivor Labaro MSc, ada dua jenis hiu yang umumnya berada di perairan Sulut. “Jenis hiu sonteng atau silvertip shark dan mungsing atau spot tail shark. Kedua jenis hiu ini pada umumnya berada di Sulut," ujar Labaro.

Tambahnya, tidak semua hiu berbahaya bagi manusia. Kecuali hiu yang mempunyai indera penciuman tajam. Seperti hiu anjing atau shortfin mako. Walaupun jarak 500 meter, hiu ini bisa mencium darah dan langsung mendekat untuk memangsa.

"Kebanyakan ukurannya dua sampai tiga meter. Sedangkan hiu paus, lima sampai tujuh meter. Hiu ini bersirip lima sampai enam. Namun tidak semua hiu mempunyai sirip berkualitas," ujarnya. Dia menjelaskan, hiu berkembangbiak dengan cara bertelur, tetapi menetaskannya ke dalam rahim. Jumlahnya sekitar 8 sampai 12 telur. “Di perairan Sulut ada sekira 32 jenis,” tukasnya.

Di sisi lain, 2016 lalu perairan Sulut sempat disinggahi hiu langka berjenis Oxynotus Bruniensis. Ikan langka ini ditemukan di perairan Sulut. Tepatnya  di Pantai Kalasey. Permukaan tubuhnya lain. Seperti berduri. Sepintas, ikan temuan warga Jeffry Nggala, mirip hiu jenis Oxynotus Bruniensis. Para peneliti asing pun rebutan ingin memilikinya.(cw-04/gel)

Kirim Komentar