29 Sep 2018 11:17

Perdagangan Hiu Masih Dilarang

MyPassion

MANADO—Maraknya perdagangan ikan hiu diseriusi pemerintah. Pemahaman terhadap jenis hiu dan kategorinya dinilai perlu dipahami agar tidak terjadi pelanggaran. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara Ronald Sorongan.

“Memang ada jenis hiu yang dilindungi yang tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Ada yang istilahnya perlindungan terbatas atau pemanfaatan terbatas artinya jenis hewan yang terindikasi menuju kepunahan dan ada yang bisa dimanfaatkan,” jelasnya. Hiu pada prinsipnya bukanlah hewan yang hidup pada satu tempat saja. “Sehingga untuk pemetaannya dibutuhkan penelitian lebih mendalam,” ucapnya.

Ditambahkan Kepala Seksi Konservasi dan Perlindungan Jenis Ikan Ronald Posundu, pihaknya sementara mengumpulkan data penunjang peredaran jenis hiu apa saja yang dapat dimanfaatkan siripnya dan jalur migrasinya. “Kami menunggu data dari Kementerian Kelautan sebagai penunjang kita pembina di daerah,” ujarnya.

Di Sulut sendiri untuk jenis hiu yang sering terjaring atau ditangkap masyarakat katanya adalah jenis hiu black pit atau spot tail shark. “Ini jenis hiu yang masuk kategori bisa dimanfaatkan tapi dalam jumlah terbatas. Hiu ini bagian atas siripnya berwarna hitam,” imbuhnya. Hiu ini lanjutnya memiliki daya tarik tersendiri. “Kalau dia terancam punah dan populasinya dinilai berkurang maka sama sekali akan tidak bisa dan tidak boleh dimanfaatkan atau diburu,” sebutnya.

Mengenai jual beli hiu di Sulut ia melanjutkan sudah ada informasi mengenai itu namun hingga kini belum pernah ditemui. “Beberapa waktu lalu ada hiu black pit kami temukan di dalam akuarium salah satu rumah makan. Itu sudah kami beri pemahaman terhadap pemilik dan hiu tersebut dilepaskan di laut,” ujarnya. Ia mengatakan perburuan hiu banyak terjadi karena siripnya. “Bayangkan saja hanya untuk sirip hiu yang diolah menjadi seperti ukuran mie instan saja harganya bisa sampai dua jutaan di pasaran,” imbuhnya.

Dia mengatakan, dalam waktu dekat akan mengadakan program edukasi terhadap masyarakat untuk jenis hiu yang dilindungi. “Misalnya hiu paus, hiu koboi, hiu martil, dan sebagainya. Materinya sementara kami siapkan,” jelasnya. Hingga kini pihaknya belum pernah mendapati ada hiu dilindungi yang diperdagangkan. “Untuk hiu black pit lanjutnya memang ada kuota pemanfaatannya oleh masyarakat yang diberikan pemerintah. Kami akan segera melakukan edukasi terhadap itu. Tinggal menunggu data dari pusat dulu,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Kepulauan Sangihe Tahuna Geric B Lumiu menjelaskan, ada dua jenis yang dilindungi yakni hiu koboi dan hiu martil ini sesuai Permen KP nomor 5/PERMEN-KP/2018 tentang larangan pengeluaran Hiu Koboi dan Hiu Martil serta produk pengolahannya. "Lain dari pada kedua jenis itu sudah bisa ditangkap dan dijual," jelas Lumiu.

Dia menyatakan, di Sangihe belum terdengar dua jenis tersebut diperdagangkan. Menurutnya, jika hendak dilalulintaskan atau dikirim melalui SKIPM Tahuna, melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu, apakah hiu tersebut dilindungi atau tidak.

"Mengingat pengiriman hiu ini merupakan lalulintas ekspor, sehingga cara mengetahui hiu dilindungi atau tidak dengan mengambil sirip untuk dijadikan sampel. Kemudian dibawa ke Jakarta untuk dites DNA. Jika terbukti hiu dilindungi, kami akan melarang lalulintas ekspor tersebut," pungkasnya.(tr-05/wan/gel)

Kirim Komentar