29 Sep 2018 11:18
Masuk Jaring, Siap-siap Jadi Santapan

Melihat Langsung Cara Nelayan `Menjebak` Hiu

MyPassion
TERJEBAK: Nelayan asal Kombi memegang seekor hiu yang masuk dalam jalanya. ( Revliando Abdillah/MP)

Cara nelayan menangkap hiu berbeda-beda. Untuk hiu ukuran kecil, biasanya dengan menggunakan jaring di perairan dangkal. Nah, hiu yang berukuran besar, nelayan menunggu musim bertelur. Teknik menangkapnya pun berbeda.

 

Laporan, Revliando Abdillah

BIASANYA, Om Dan, nelayan asal Minahasa ini fokus menangkap goropa dan sejenisnya. Tapi khusus akhir pekan lalu, Om Dan ingin memburu hiu. “Hiu sering masuk pukat saya. Kalau masih hidup, tak jarang saya lepas. Tapi jika sudah mati, saya bawa ke saudara-saudara untuk dimasak,” ujar pria renta, berusia 63 tahun ini.

Hari itu, didampingi sang istri, Om Dan mulai mempersiapkan pukatnya untuk ditanam di sekitar pantai Kombi. Dengan dua tangannya yang mulai berkeriput, Om Dan mempersiapkan jaring atau soma yang akan dipakai.

"Jadi tidak setiap hari. Tidak menentu mencari ikan dengan soma. Hanya kalau air bagus atau tidak berombak, juga dangkal baru turun di laut," katanya, sambil terus membersihkan rumput laut yang tersangkut dijaring.

"Untuk pemasangan soma ini, harus membersihkan jaring. Sebab tiap kali digunakan pasti kotor. Biasanya nyangkut rumput laut dan bocor karena gigitan dan gerakan ikan sewaktu tersangkut soma," tambahnya.

Sambil terus membersihkan jaring di gubuk sederhana, persis di samping jalan trans pesisir pantai selatan, dia menjelaskan ada beberapa cara penangkapan ikan dengan pukat.

"Penangkapan ikan dengan pukat ada dua teknik. Pertama pakai perahu kalau di perairan dalam, sekira 5 sampai 6 meter dalamnya. Juga bisa di perairan dangkal, atau biasa disebut nyare. Kedalamannya 1,5 meter. Atau bisa tidak menggunakan perahu," ungkapnya.

Menjelang sore, usai mempersiapkan jaring, Om Dan menuju pantai. Kali ini dia menanam pukat di perairan dangkal. Waktu itu air laut lumayan tinggi. Sebahu dari Om Dan. Jaringnya sepanjang 100 meter dan tinggi 1,5 meter dijinjingnya menuju laut. Sekira 100 meter dari bibir pantai dia berhenti.

Ujung jalanya mulai disebar. "Jadi di dasar atau bagian bawah soma pakai pemberat. Bisa juga menggunakan batu atau timah. Dengan sendirinya akan mengapung sebab ada berderet pelampung di setiap 60 cm bagian soma-soma. Pelampung terbuat dari karet," ungkapnya.

Aktivitas Om Dan ditemani deru ombak dan terpaan ombak kecil. Dirinya mulai melepaskan setiap sentimeter jaring. Terlihat pelampung dari karet mulai menari-nari tak berirama di atas permukaan air.

123
Kirim Komentar