16 Agu 2018 08:48
Bertandang di Makam Bataha Santiago di Manganitu

`Biar Saya Mati Digantung Tidak Mau Tunduk Kepada Belanda`

MyPassion
HIDUP DI INGATAN: Makam Bataha Santiago bersolek jelang Hari Kemerdekaan RI. Santiago dikenal pahlawan oleh masyarakat Sangihe. (Sriwani/MP)

Bataha Santiago atau Raja Manganitu, menjadi satu-satunya raja yang membantah keras keinginan Belanda ketika dia memimpin. Santiago dikenal dengan kutipan ‘biar saya mati digantung tidak mau tunduk kepada Belanda’. Kalimat ini terpatri jelas di makamnya.

 

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

BATAHA Santiago terlahir dengan nama Don Siat Jagolo. Dia memerintah tahun 1670-1675. Kecintaannya kepada Tanah Air dibayar lunas dengan kematiannya di atas tiang gantungan oleh pemerintah Belanda tahun 1675 di Tanjung Tahuna. Kalimat ‘biar saya mati digantung tidak mau tunduk kepada Belanda’ ditulis jelas di makamnya yang terletak di Kampung Karatung I Kecamatan Manganitu.

Untuk ke makam ini butuh waktu 30 menit dari ibu kota Sangihe, Tahuna. Letaknya juga mudah ditemukan. Karena berada di pinggiran kiri jalan. Di situ juga terdapat gapura besar bertuliskan Makam Raja Santiago.

Makamnya tidak langsung terlihat. Berjarak 60 meter, menuruni 54 anak tangga, baru bisa bertemu gapura kecil. Makam dipagari bercat hijau putih dan terdapat tiang bendera dihiasi bunga-bunga. Di lokasi yang sama terdapat kuburan adik bungsu Santiago bernama Sapela. Makam Santiago terbuat dari keramik putih dan memiliki tulisan Bataha Santiago Raja Manganitu yang memerintah tahun 1670-1675.

Turunan Raja Santiago ke-13 Ernest Barahama (66) menceritakan sejarah singkat raja ketiga di Kerajaan Manganitu itu. Santiago lahir tahun 1627 di kampung bernama Karatung Pahulu.

Karatung dari kata keraton, sebab menjadi pusat Kerajaan Manganitu. Sedangkan Pahulu dari kata penghulu, artinya tempat asal raja-raja Manganitu. Meski kampung tersebut terlihat bukan seperti kampung bukan juga hutan, tetapi memiliki nilai sejarah.

Santiago lahir dari ayah bernama Tompoliu Raja Manganitu ke-2 dan ibu Permaisuri Lawewe. Dia memiliki empat orang adik. Charles Diamanti yang salah satu turunannya Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Gaghana, kemudian Gaghingghe, Apueng, dan Sapela.

"Namanya sewaktu lahir adalah Don Siat Jagolo. Nama ini diberikan oleh kedua pemimpin bangsa Portugis dan Spanyol atau yang disebut kaum Paderi. Tetapi karena para leluhur kami tak bisa menyebutkan nama tersebut sehingga dipanggilah Santiago," katanya, mulai bercerita.

123
Kirim Komentar