22 Feb 2018 15:17

19 Bangunan Dijilat Jago Merah

MyPassion
KURANG ARMADA: Satu unit mobil damkar di Kabupaten Minahasa Tenggara ini, dipaksa melayani 12 kecamatan. Foto: Hesly Marentek/MP

MITRA—Sebanyak 19 bangunan di Kabupaten Minahasa Tenggara ludes akibat jilatan si jago merah (kebakaran, red). Kurang optimalnya pelayanan pemadam kebakaran (damkar), jadi salah satu biang kerok. Pasalnya, hingga kini pemerintah hanya mengandalkan satu armada mobil damkar untuk melayani 12 kecamatan.

Kabid Pemadam Kebakaran Satpol PP Novry Langi mengatakan, 19 kejadian tersebut adalah data dari 2016 hingga 2018 (Januari-Februari). Paling banyak menimpa rumah warga. “Sementara untuk kebakaran toko, hanya satu hingga dua kasus,” ujarnya.

Diakui Langi, pihaknya masih sering terkendala melakukan penanganan pemadaman api. Dikarenakan pihaknya hanya memiliki satu mobil damkar. “Memang untuk wilayah Kabupaten Mitra idealnya memiliki empat sampai lima damkar. Itu jika dilihat dari lokasi kecamatan yang saling berjauhan,” bebernya.

Disebutkan pula satu mobil damkar hanya diisi enam personel. Itu sudah termasuk sopir. Dirinya mengaku sudah sering mengajukan penambahan damkar. Tapi belum dipenuhi sampai saat ini. “Sudah sering diajukan. Bahkan sudah kami masukan pada reses komisi A terkait penambahan mobil damkar,” ujar Langi.

Menurut Langi tahun ini akan mendapat bantuan damkar dari mendagri. “Ada dua unit yang rencananya akan kami terima. Namun tinggal menunggu persetujuan dari mendagri,” tukas Langi.

Di tempat terpisah, Ketua Komisi A DPRD Mitra Corry Kawulusan mengatakan akan mengusulkan penambahan mobil damkar. “Rencananya akan diusulkan pada pembahasan APBD Perubahan 2018. Kalau pun tidak, akan diusulkan tahun depan,” singkat politisi PDI-P ini.

Sementara itu, diakui Marten Manatik, salah satu sopir damkar, mereka memang sering mengalami keterlambatan ke lokasi. “Yah dengan armada yang sangat terbatas. Serta lokasi kecamatan yang berjauhan. Kadang saat tiba di lokasi kebakaran api sudah enam sampai tujuh meter,” sebutnya. Selain itu, disebabkan informasi warga sedikit terlambat. “Juga biasanya saat api sudah menyala besar baru warga menelpon call center,” tandasnya.

Novlan Pitoi, warga Ratatotok berharap pemerintah memperhatikan soal pengadaan damkar. “Karena satu mobil damkar tak akan mampu. Jika terjadi kebakaran di dua lokasi pada saat bersamaan gimana?,” pungkasnya.(tr-04/gnr)

Kirim Komentar