05 Feb 2018 12:53

Kartu Kuning Jokowi Diduga Muatan Politik

MyPassion
Joko Widodo

MANADO - Insiden kartu kuning Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universita Indonesia (UI)  kepada Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo (Jokowi)  tuai pro dan kontra di kampus.

 

Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Rendi Turangan mengatakan, tidak setuju dengan tindakan Presma UI. "Karena, sesama aktivis tentunya kita tahu aturan dalam memberikan kritik terhadap pemerintah. Artinya kita sebagai mahasiswa atau pun Presma harus memiliki etika yang baik. Dan bagi saya mereka sangat tidak beretika," tukasnya.

"Kami tidak mempersalahkan mengenai materi kritikannya. Karena semua mempunyai hak dari setiap organisasi dan individu. Namun, dari tiga isu yang dilontarkan ada dua yang menurut saya sangat bermuatan politis," cercanya.

Diungkapkannya, dengan peristiwa tersebut, harus ada tindakan dari pihak universitas dengan memberikan teguran dan klarifikasi yang jelas. "Jika hanya didiamkan saja akan ada banyak pihak yang berpendapat bahwa ada kerjasama dalam hal ini," sebutnya.

Senada juga diungkapkan Presma UTSU Ardy Sangkoy. Dia mengatakan tuntutan Ketua BEM UI sangat baik. "Namun, tindakannya saya pikir kurang etis. Padahal presiden sudah mengatur sesi pertemuan untuk membahas tuntutan tersebut. Hanya yang bersangkutan kurang sabar sehingga mengambil tindakan. Intinya, saya kurang setuju dengan tindakannya," lugas Sangkoy

Berbeda disampaikan Prema Unsrat Combyan Lombongbitung. Menurutnya, peristiswa tersebut merupakan hal yang biasa dalam proses penyampaian aspirasi. Bahkan hal tersebut terbilang cukup kreatif untuk mengundang perhatian yang penting tidak anarkis. “Saya sudah mendapat informasi dari teman-teman UI, mereka sudah dijanjikan untuk berdiskusi untuk memberikan kajian isu kepada presiden. Tapi, belum ada kejelasan," ujarnya.

Sesama aktivis pergerakan, Lombongbitung mendukung setiap langkah dan strategi mereka, asalkan mempunyai niat yang tulus demi kepentingan orang banyak. "Jangan sampai ada konflik kepentingan. Selama gerakan mahasiswa itu murni, jangan pernah takut untuk menyampaikan aspirasi," bebernya. "Marilah kita sesama mahasiswa ambil sisi positifnya agar bisa saling memperbaiki diri. Semoga pemerintah pun bisa lebih berupaya menyelesaikan masalah yang masih ada," sambungnya.

Senada disampaikan Presma De La Salle Dennis Manorek. Dikatakannya, sesama aktivis mahasiswa setuju dengan apa yang dilakukan BEM UI. "Karena melalui aksi tersebut, presiden bisa lebih mendengarkan apa yang menjadi aspirasi dari mahasiswa," katanya. "Kiranya BEM yang ada di Sulut dapat mengembalikan fungsi kami yang sesungguhnya. Antara lain seperti bisa lebih mendamping dan memperjuangkan segala aspirasi mahasiswa," tambah Monarek.

Lanjutnya, BEM harus keluar dari zona nyaman dan tidak boleh terkait dengan politik. "Saya juga memiliki kerinduan agar BEM di Sulut bisa kompak dan satu. Dengan peristiwa ini, kiranya pihak universitas di Sulut bisa lebih mendukung secara penuh apa yang dilakukan BEM. Apalagi jika hal tersebut bersifat positif," tuturnya.(ela/ite)

Berita Terkait
Kirim Komentar