12 Nov 2014 10:57

Dari Jalanan Menuju Panggung

MyPassion

MASIH ingat kan dengan tingkah lucu para badut di setiap pesta ulang tahun yang kalian datangi saat masih berumur 5 tahun? Dandanan dan tingkah mereka yang konyol tersebut sering kali membuat orang yang melihatnya terbahak-bahak. Sebelum menjadi karakter yang terkenal lucu seperti sekarang ini, badut paling kuno berasal dari tahun 2400 SM pada dinasti kelima Mesir. Saat itu yang disebut sebagai badut tidak menghibur penonton, dia bertugas membuat masyarakat tertarik membahas kebudayaan, social, hingga keagamaan. Tentu saja sudah dilengkapi aplikasi riasan putih pada wajahnya.

Sejak saat itulah, profesi sebagai badut mulai tersohor dan dianggap profesi yang tertua. Selanjutnya, badut berkembang di Eropa sekitar tahun 500-1500 Masehi. Ada beberapa karakter badut yang sangat terkenal, yaitu Arlecchino atau Harlequin. Tokoh tersebut dipopulerkan kelompok sandiwara Commedia dell’arte. Badut itu pun mulai punya kemampuan untuk berpantomim dan punya ciri khas gerakan yang konyol. Lambat laun, badut tidak bertujuan untuk menghibur semata. Para pelakunya memanfaatkan ketenaran badut itu untuk mencari nafkah di jalanan. Bahkan, mereka sempat disebut sebagai pengamen. Profesi tersebut kian menjanjikan. Dengan begitu, unsur badut pun mulai masuk dalam kesatuan pertunjukan sirkus.

Orang pertama yang menggagas ide itu adalah Joseph Grimaldi atau lebih dikenal dengan nama Joey Grimaldi. Dia melakukan pertunjukan di London pada awal 1800-an bersama kelompok sirkusnya. Saat itu Joey minciptakan karakter badut yang bernama Jocy. Kemampuan Joey dalam menghidupkan tokoh badut yang diperankannya, bermain sulap, sekaligus menciptakan ciri khas wajah putih (white face) si badut membuat dirinya dikenang dalam sejarah perbadutan.

Finally, badut makin dikenal dan menjadi bagian penting dari sebuah pertunjukan sirkus. Bahkan disebut sebagai superstar dalam sirkus. Si badut bertugas mencairkan suasana setelah aksi akrobatik yang dilakukan pemain sirkus lainnya. Menjelang era perfilman modern, karakter badut menginspirasi banyak tokoh comedian di dunia hiburan. Misalnya Charlie Chaplin dan Buster Keaton. Dua comedian tersebut mengadopsi gaya para badut yang diaplikasikan dalam film bisunya. Milailah perkembangan era baru perbadutan, dari awalnya mengamen di jalan, hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis hiburan.

Hingga kini badut juga sudah menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang. Misalnya jasa penyewaan badut untuk pesta ulang tahun, penyewaan kostumnya. Para badut tidak hanya menampilkan tingkah laku yang lucu atau berpantomim. Mereka mulai menari dan bernyanyi untuk menghibur penontonnya. Pada zaman sekarang, karakter badut dengan riasan wajah yang konyol dan kostum warna-warni mulai tergeser dengan badut maskot yang menyerupai tokoh-tokoh kartun atau superhero. (mwa/mit)

 

Caption foto opening

LUCU: Tingkah badut yang jenaka menjadikannya sosok yang sukses mencairkan suasana.

 

Kenapa Sampai Menakutkan?

BAGI sebagian orang, sosok badut memang selalu identic dengan tingkah lucu, lugu, serta menggemaskan. Tapi ada pula yang menganggap badut itu menakutkan. Waduhh, kok bisa kayak gitu ya? Yap, ketakutan terhadap badut dalam istilah kedokteran dikenal dengan coulrophobia atau clown phobia. Gejala yang paling sering dirasakan penderitanya adalah ketakutan berlebih saat mereka melihat dandanan badut dengan senyuman khasnya. Beberapa peneliti percaya bahwa hal itu dipengaruhi faktor-faktor eksternal penderitanya. Salah satunya adalah trauma jangka panjang yang berasal dari cerita badut. Sebuah cerita yang melegenda tentang “keburukan” badut adalah cerita pembunuhan oleh Joseph Grimaldi. Di London, dia telah mempopulerkan badut sebagai bentuk hiburan. Sayangnya, Grimaldi punya pengalaman kelam. Pada 1836, dia dijebloskan ke penjara setelah terbukti membunuh seorang anak di pinggir jalan yang telah menghinanya.

Selain trauma karena beberapa cerita tentang badut, industri perfilman juga sering menggunakan tokoh badut sebagai penjahat. Misalnya Jason dari Friday 13th (topeng hoki), Freddy Krueger dari Nightmare on Elm Street, dan Saw (Jigsaw). Beberapa hal tersebut ditengarai menjadi faktor utama penyebab seorang menjadi pengidap coulrophobia. Banyak yang meragukan ekspresi bahagia di balik dandanan menyenangkan ala seorang badut sebagai ekspresi palsu dan misterius. Sementara itu, ada pula yang disebabkan faktor internal. Dibuktikan oleh survey yang dilakukan University of Sheffield terhadap 250 anak berusia 4-14 tahun. Anak-anak itu sedang menjalani rawat inap di rumah sakit. Peneliti menghias rumah sakit tersebut dengan dekorasi badut. Uniknya, mayoritas anak itu malah merasa tidak nyaman.(***)

 

 

Kirim Komentar