08 Agu 2014 07:28

Dorong Penerapan Bioteknologi di Jatim

MyPassion
Dorong Penerapan Bioteknologi di Jatim.

SURABAYA - Penerapan bioteknologi di Jatim belum maksimal. Oleh karena itu, kalangan akademisi mendorong implementasi bioteknologi khususnya untuk menunjang kemandirian pangan dan energi.

Presiden Core to Core wilayah Indonesia Anton Muhibuddin mengatakan sektor pertanian di Jatim membutuhkan sentuhan bioteknologi. Sebab diyakini bisa memberikan dampak positif dalam waktu singkat dengan biaya yang tidak terlalu besar. Anton yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu menuturkan, ada beberapa hasil penelitian yang sesuai dan bisa diaplikasikan di jatim.

"Di antaranya pemanfaatan mikoriza yang merupakan jamur hidup untuk pupuk hayati. Sebelum ini, kami sudah bekerja sama dengan pemerintah Kupang di atas lahan seluas 1.000 hektare. Kemudian di Lampung seluas 700 hektare. Estimasi kami, penghematan penggunaan mikoriza sebagai pengganti pupuk kimia bisa mencapai Rp 200 triliun per tahun," urainya di sela Seminar Internasional dan 1st Satelite Seminar Core to Core Program, kemarin (7/8).

Tidak hanya penghematan dari segi biaya, tapi juga waktu. Misalnya tanah yang kondisinya tercemar parah, bila pemakaian pupuk kimia bisa mengembalikan kesuburan tanah dalam jangka waktu sekitar 30 tahun, maka mikoriza hanya butuh waktu tiga tahun.

"Tapi kalau tanah produktif, masa pemulihan bisa kurang dari tiga tahun," lanjutnya.

Sedangkan penelitian lain yang sudah diterapkan yakni memanfaatkan mikroba untuk memfermentasi sampah menjadi bioetanol. Untuk melaksanakan itu pihaknya menggandeng pemkab jombang.

"Jadi, sampah rumah tangga dipilah yang bisa menghasilkan selulosa misalnya sayur mayur. Kemudian sampah itu diproses menggunakan alat destilasi hingga menjadi bioetanol. Estimasi penghematan dari kegiatan itu bisa mencapai Rp 80 triliun," terangnya.

Dijelaskan, dua penelitian itu akan menjadi bahan rekomendasi pada Gubernur Jatim. Apalagi tidak membutuhkan biaya yang besar. Disebutkan, seperti alat destilasi untuk mengubah sampah menjadi bioetanol harganya Rp 50 juta, tapi kalau dibuat sendiri dengan memanfaatkan barang bekas hanya Rp 5 juta.

"Sasarannya bukan komersialisasi melalui industri besar, melainkan industri rumah tangga. Dengan demikian bisa mendorong kemandirian pangan dan energi," urai Anton.

Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Jatim Priyo Darmawan mengatakan, pemanfaatan bioteknologi di berbagai negara sudah maju. Oleh karena itu memungkinkan untuk menerapkan bioteknologi di sektor pertanian. (mpo)

Kirim Komentar