11 Sep 2019 09:11

Jack Ma Lepas Tahta di Alibaba

Jack Ma

KETIKA Jack Ma dikabarkan turun dari jabatan executive chairman September 2018, saham Alibaba di bursa New York langsung turun hampir 4 persen. Saat itu, dia mengatakan bahwa dia baru turun tahta satu tahun kemudian. Janji itu tak lewat satu hari pun.

Kemarin (10/9), pendiri perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok itu resmi melepas jabatannya. Tanggal yang dipilih penuh arti. Bukan hanya hari ulang tahun Jack Ma sekaligus Alibaba Group. Hari itu juga bertepatan dengan hari guru nasional di Tiongkok.

''Pasti ada pesan tersembunyi di balik (tanggal, Red) tersebut,'' ungkap Duncan Clark kepada CNN. Clark merupakan teman dekat Ma sekaligus penulis buku Alibaba: The House That Jack Ma Built.

Jack Ma sama dengan Alibaba. Karena itu, banyak investor yang khawatir ketika kabar pengunduran diri muncul. Namun, kepergian Jack Ma kali ini tak disambut dengan kesedihan penanam modal. Saham masih stabil.

Semua itu karena Ma Yun, nama Tionghoanya, mempersiapkan dunia untuk menerima kabar tersebut. Setahun terakhir, pria berumur 55 tahun itu lebih sibuk berkeliling dunia dan melakukan amal daripada memperkenalkan bisnis baru Alibaba. Dia juga berkali-kali menerangkan alasannya mundur dari pucuk pimpinan perusahaan.

''Guru selalu ingin murid-murdinya melebihi capaian mereka. Jadi, sudah tanggung jawab saya untuk membiarkan generasi yang mudah dan lebih berbakat untuk mengambil alih,'' ungkapnya.

Clark mengingat bahwa Ma sendiri sudah membicarakan pengunduran diri sejak awal karirnya di Alibaba. Menurut pengakuan yang didapat, mantan pengajar bahasa inggris di  Hangzhou Dianzi University itu sadar bahwa dia tak punya kompetensi profesional untuk menjalankan bisnis. Baik kualifikasi untuk mengatur operasional, keuangan, atau teknologi perusahaan.

Karena itu, dia selalu menggandeng pegawai profesional. Namun, bukan berarti kesuksesan Alibaba bukan datang dari tangan Ma.

''Latar belakangnya sebagai guru bahasa inggris dan karismanya membuatnya sebagai wajah pebisnis Tiongkok di mata dunia,'' ungkap Clark menurut Agence France-Presse.

Saat ini, Jack Ma sering dianggap Steve Jobnya Tiongkok. Namun, hal itu juga menghadirkan keresahan. Inovasi Apple terus merosot saat Apple berganti pimpinan dari Job ke Tim Cook. Microsoft juga sedikit hilang arah setelah Bill Gates diganti oleh Steve Ballmer.

''Sejarah tentang pewaris perusahaan teknologi inovatif saat ini memang buruk,'' ujar Jeffrey Towson, profesor bidang investasi di Peking University, kepada South China Morning Post.

Perlu diketahui, rekan seangkatan Ma belum ada yang turun. Ma Huateng, si Pony, masih bercokol di Tencent dan Robin Li Yanghong masih di Baidu. NetEase, perusahaan gaming Tiongkok nomor dua setelah Tencent, masih mengandalkan pendirinya, William Ding Lei, sebagai nahkoda utama.

Tak bisa dipungkiri, perusahaan di Tiongkok masih belum terlepas dari dinasti-dinasti keluarga. ''Mereka masih belum mau berinvestasi dalam rekrutmen bakat dan sumber daya manusia,'' ujar David de Cremer, profesor manjemen bisnis di National University of Singapore. Daniel Zhang, pewaris tahta Ma, sebenarnya pebisnis cakap. Dia adalah pria yang menggagas Single's Day alias hari jomblo.

Pada 11 November alias 11/11, perusahaannya bakal menggelar event diskon besar-besaran. Tahun lalu, Alibaba memperoleh pendapatan USD 30,8 miliar (Rp 432 triliun).

Namun, dia bukan Ma. Zhang dikenal lebih dikenal sebagai ''sutradara'' daripada ''aktor utama''. Dia jarang nampang seperti Ma. Padahal, status Ma sebagai selebritas success story (cerita sukses) merupakan salah satu faktor Alibaba dapat kepercayaan dari investor dan membuat aset perusahaan menjadi Rp 6.461 triliun.

Towson merasa Ma sadar tentang tantangan itu. Karena itulah, dia sudah sejak lama melakukan persiapan. ''Mungkin saja, Jack Ma bisa mencapai apa yang tak bisa dilakukan Steve Jobs dan Bill Gates,'' ungkapnya.

Apalagi, Ma belum sepenuhnya lepas tangan. Dia masih mempertahankan saham sebesar 6,22 persen Alibaba. Dia juga anggota seumur hidup di Alibaba Partnership, kelompok yang punya wewenang memilih direktur di perusahaan.

Sebelum dia lepas tangan, dia pun sudah memberi PR bagi Zhang. New Retail. Konsep ini digagas oleh Ma untuk menggabungkan retail online dan offline.

Konsumen bisa datang ke sebuah supermarket untuk memilih sendiri sayuran yang dipilih tanpa khawatir mengantre. Kalau sedang malas, tinggal belanja lewat ponsel dan belanjaan anda bakal di antar sampai ke rumah.

Konsep tersebut masih dikembangkan di Tiongkok. Zhang harus menyelesaikan visi besar ini. Tentu saja, dengan sedikit bantuan dari Ma. ''Dia pasti bertahan untuk mengamankan warisannya,'' tegas Clark.(gnr)









Komentar