03 Jul 2019 10:06

Bikin Kredit Fiktif, Pegawai Bank Dijebloskan ke Rutan Malendeng

Para tersangka digiring oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Sulut, Selasa (2/7) kemarin.

MANADOPOSTONLINE.COM—Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara menahan dua tersangka dugaan kredit palsu di Kantor Cabang BRI (Persero) Tbk, Boulevard Manado, Selasa (2/7) sore kemarin.

 

Tersangka masing-masing berinisial SJT alias Aya dan AHP alias Midun. Keduanya awalnya dimintai keterangan sejak pukul 11.00 hingga 15.00 WITA. Kemudian langsung ditahan di Rutan Malendeng.

Dasar penahanan sesuai Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Nomor: Print-01/R.1/Fd.1/06/2019 tanggal 6 Juni 2019 tentang Dugaan Tindak Pidana Korupsi Pemberian Kredit Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan Non KUR Tahun 2016-2017 pada Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Boulevard Manado.

“Tahun 2016-2017 Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Boulevard Manado menyalurkan kredit jenis program. Dalam menyalurkan kredit program, yakni Kredit Pangan Non KUR dan Kredit KUR Ritel. Bahwa terhadap penyaluran kredit program pada Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Boulevard Manado dilaksanakan oleh pegawai BRI dengan jabatan account officer,” beber Kasi Penkum Kejati Sulut Yoni Mallaka SH saat diwawancarai kemarin.

Persoalan berawal dari penyaluran Kredit Pangan Non KUR dan Kredit KUR RITEL pada tahun 2016-2017 yang ditemukan masalah. Yakni tidak terbayarkannya angsuran kredit terhadap beberapa debitur, yang menggunakan syarat kredit palsu atau tidak sesuai dengan usaha yang ada. Kemudian menjadi non performing loan (NPL) atau kredit macet.

“Setelah dilakukan audit investigasi, kredit yang kemudian bermasalah tersebut, semua diprakarsai oleh account officer, yaitu tersangka SJT alias Aya,” sambung Mallaka.

Ditegaskannya lagi, surat penetapan tersangka bernomor: B-951/R.1/Fd.1/07/2019 tanggal 2 Juli 2019 atas nama tersangka SJT alias Aya, selaku Account Officer.

“Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia Boulevard Manado yang memprakarsai Kredit bermasalah/ fiktif  dengan kewenagannya melakukan persetujuan atas kredit yang diajukan dengan persyaratan Palsu,” papar Mallaka.

Tersangka lainnya juga ditetapkan dalam surat penetapan tersangka  nomor: B-952/R.1/Fd.1/07/2019 tanggal 2 Juli 2019 atas nama AHP  alias Midun, selaku pihak ketiga (brokoer/perantara, red) yang melakukan pengajuan kredit bermasalah/fiktif dengan membuat persyaratan palsu.

“Atas perbuatan para tersangka, penyaluran kredit pangan Non KUR dan Kredit KUR Ritel pada tahun 2016-2017, ditemukan masalah yakni tidak terbayarkannya angsuran kredit terhadap beberapa debitur yang menggunakan syarat kredit palsu atau tidak sesuai dengan usaha yang ada. Kemudian menjadi NPL. Sampai bulan April 2018 terdapat kerugian negara sebesar Rp. 4.543.033.604,” urainya.

Ditegaskan lagi, penyidik Kejati Sulut melakukan penahanan kepada kedua tersangka selama 20 hari. Terhitung mulai tanggal 2 Juli 2019 sampai 21 Juli 2019. Menurutnya, pasal yang disangkakan yaitu Pasal  2, Pasal 3, Pasal 9 dan Pasal 11 dan Pasal 18 ayat (1), (2), (3), Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambahkan oleh UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Perlu dilakukan penahanan terhadapnya berdasarkan bukti permulaan yang cukup, Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 KUHP Ayat (1),” tutup Mallaka.(gnr)









Komentar